Sinta Nuriyah Wahid: Apa yang Dikhawatirkan dari Imlek?


Nasional Senin, 16/02/2015 13:56
LIPUTAN KHUSUS IMLEK

Sinta Nuriyah Wahid: Apa yang Dikhawatirkan dari Imlek?

Utami Diah Kusumawati, CNN Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia — Imlek, perayaan pergantian tahun bagi masyarakat etnis Tionghoa ini bisa dipandang sebagai simbol kembalinya kehidupan bertoleransi di negeri ini. Selama 34 tahun, sejak Presiden kedua Republik Indonesia Suharto mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 14/Tahun 1967, perayaan Imlek dilarang.

Tapi pada 2001, Presiden Abdurrahman Wahid membongkar fobia terhadap etnis Tionghoa. Dia memperbolehkan masyarakat Tionghoa merayakan perhelatan kebudayaannya. Malah Imlek juga dijadikan hari libur nasional.

Bagaimana kisah Gus Dur, begitu nama Presiden RI keempat itu akrab disebut, memberikan angin segar bagi warga Tionghoa di Indonesia? Utami Diah Kusumawati dari CNN Indonesia mewawancarai Sinta Nuriyah Wahid, istri almarhum Gus Dur, di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan. Berikut petikannya:

Mengapa akhirnya Gus Dur menetapkan Imlek sebagai salah satu hari raya nasional?

Menurut Gus Dur perayaan Imlek itu lebih mendekati proses tradisi dan budaya daripada ritual agama. Artinya, perayaan Imlek itu adalah warisan budaya yang sarat nilai dan spirit keagamaan. Jadi, bisa dilakukan siapa saja sebetulnya dan dari agama apa saja.

Sebelum penetapan tersebut, kegelisahan apa yang dialami Gus Dur?

Gus Dur merasa gelisah seperti ada sikap mengkotak-kotakkan bangsa. Pengkotakan itu muncul karena ada sentimen etnis dan agama. Gus Dur merasa kalau seperti itu akan mengkerdilkan bangsa kita sendiri. Sama artinya dengan memasang bom waktu, suatu saat akan meledak serta mengancam keutuhan bangsa, kerukunan, dan persaudaraan.

Saat itu, Gus Dur melihat banyak kasus, misalnya, warga Kong Hu Cu tidak bisa menikah dengan baik, apalagi yang lintas agama, tidak bisa melaksanakan dengan baik. Kalau terus seperti itu akan merusak bangsa sendiri.

Beliau sempat berkonsultasi dengan Ibu Sinta dan mendengar masukan pihak lain?

Iya, kalau tidak mendengarkan, tidak mengerti. Semuanya ditampung dan didiskusikan. Beliau sempat konsultasi dengan saya tapi tidak secara khusus. Gus Dur mendengarkan bagaimana etnis Tionghoa bercerita dan merasakan dianggap sebagai kelompok minoritas, non pribumi, dan diperlakukan sebagai warga kelas dua yang tidak sama.

Pandangan Gus Dur sendiri?

Gus Dur heran, kok bisa diperlakukan seperti itu? Padahal mereka juga anak bangsa. Etnis Tionghoa secara sosiologis dan antropologis bagian integral bangsa Indonesia. Sejak zaman kerajaan etnis Tionghoa sudah ada mereka membantu perekonomian Indonesia dengan perdagangan dan bercocok tanam. Kemudian, zaman penjajahan mereka ikut berjuang merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dan mendirikan NKRI. Mereka bagian integral, punya hak sama dengan etnis lainnya, termasuk bagaimana menampilkan identitas untuk mereka sendiri melalui Imlek, Liong, Barongsai.

Mengenai anggapan masyarakat bahwa kebudayaan Tiongkok akan lebih maju dari kebudayaan Indonesia jika Imlek diadakan, pandangan Gus Dur seperti apa?

Gus Dur tidak melihat seperti itu. Perayaan Imlek mengandung nilai moral, spiritual yang universal. Dalam perayaan Imlek banyak doa, ucapan, misalnya Gong Xi Fa Cai, yang dalam bahasa Tiongkok berarti mengharapkan kesejahteraan, kemakmuran, umur panjang, kekayaan berlimpah. Itu doa yang baik. Filosofi Imlek sendiri adalah ada semangat untuk berbagi dengan yang lain. Jadi mereka, orangtua memberikan pada anak, yang kaya dengan yang miskin. Semangat seperti itu, apa yang perlu dikhawatirkan?

Mengenai tanggal Imlek sendiri, keputusan siapa?

Penetapan tanggal Imlek dari etnis Tionghoa sendiri. Mereka punya semacam dewan.

Apakah ada tekanan ke Gus Dur agar tidak mengakui Imlek?

Waktu itu ada tetapi Gus Dur tidak pernah menceritakan kepada saya. Pun keluarga.

Kalau sekarang, Ibu melihatnya sejauh mana kontribusi etnis Tionghoa dalam pembangunan bangsa?

Saya kira mereka punya peran sangat besar dalam bidang ekonomi, lalu kesehatan, juga pemerintahan seperti misalnya Gubernur Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) dan ekonom Kwik Kian Gie. Banyak tokoh penting punya andil besar dalam pemerintahan Indonesia.

Euforia Imlek sendiri, Ibu Sinta melihatnya seperti apa?

Saya senang saja, Imlek memperkaya khasanah budaya bangsa Indonesia. Ini seperti mosaik yang akan memperindah kebudayaan Indonesia. Dari sudut ekonomi, Imlek menguntungkan perekonomian rakyat, mereka menjual lampion, baju pernak pernik, makanan-makanan. Itu kan pemasukan.

Apakah keluarga Gus Dur sering mendapat undangan Imlek?

Saya sering dapat undangan. Satu hari bisa pergi ke tiga tempat sekaligus, lebih repot Imlek (undangannya) daripada Maulid Nabi. Malah kadang-kadang ada yang mau ajak ke Medan dan Manado. Duh, kalau jauh-jauh jangan.

Biasanya datang ke mana saja?

Yang rutin ke Pluit, Vihara di Lodan Ancol, kemudian di Karawang dan Tangerang.

Apa yang ibu maknai ketika sebagai Muslim datang ke perayaan Imlek?

Mengucapkan selamat artinya ikut sukacita karena etnis Tionghoa sukacita merayakan sesuatu dalam Imlek, apalagi dalam doa-doanya. Jadi, semua ikut senang. Kenapa mesti harus dikhawatirkan? Kalau ada etnis Tionghoa ikut puasa karena memberikan penghormatan kepada umat Muslim. Jangan terus dicurigai juga mereka mau memasukkan ke Kong Hu Cu. Mereka sedang menunjukkan penghormatannya. Begitu pula dengan mengucapkan selamat. Intinya, semuanya saudara. Harus hidup rukun dan bersama-sama dengan baik. Nabi Muhammad SAW saja dalam Piagam Madinah mengatakan umat Muslim mesti bisa hidup berdampingan dengan kelompok lain dan melindungi kaum minoritas. Jadi, unsur sentimen itu salah.

Menurut Ibu apa yang semestinya dilakukan agar bisa saling toleran?

Sebagian seperti itu, ya, seperti saya katakan tadi ucapakan selamat paling tidak ikut bersuka cita karena ada saudara bersukacita merayakan perayaan. Mereka itu saudara sebangsa dan setanah air, diikat lambang Bhineka Tunggal Ika.

<img src="https://utamidkusumawati.files.wordpress.com/2015/02/img_2141.jpg"

IMG_2142

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s