Rute Pelarian Menuju Korea Selatan


Rute Pelarian Menuju Korea Selatan

Utami Diah, CNN Indonesia
Senin, 25/08/2014 11:47 WIB

Jakarta, CNN Indonesia

Pada 2006, Seong-ho Ji  -lelaki 31 tahun asal Korea Utara- tak lagi bisa bertahan. Siksaan dan cercaan akibat kecacatan, harus ia terima dari rezim penguasa di negaranya.
Menurut In-ho Park seorang jurnalis dari DailyNK -salah satu media daring yang fokus terhadap isu Korea Utara yang berkantor di Korea Selatan- penyiksaan terhadap orang cacat merupakan salah satu dari sekian banyak pelanggaran HAM di Korea Utara.

Sebanyak 3,41 persen atau setara dengan 760 ribu penduduk di Korut mengalami kecacatan. Mereka hidup dalam keadaan dibatasi oleh pemerintah Korea Utara terutama saat memasuki daerah khusus seperti Pyongyang, Nampo dan Gaesung.
Dari tanah kelahirannya, Hoeryong –sebuah kota yang terletak 808 kilometer di utara Pyongyang- Ho JI lantas berpikir untuk pergi. Merasakan pedihnya sebagai warga kelas dua, dia lantas berpikir, ”Saya tidak ingin tinggal di negara ini.”
Bersama adik lelaki, perempuan, ibu dan ayahnya, dia kabur dari Korea Utara. Mereka kemudian mencoba menjelajah negara yang menjadi tetangga kota mereka, Cina. Kejadian pilu mendera keluarga itu, dalam perjalanan melewati perbatasan Korut dan Cina, ayahnya tidak berhasil lolos. Ia ditembak mati oleh pasukan militer Korut.
Khawatir menjadi beban keluarga, Ho Ji sebagai penyandang cacat memutuskan untuk berpisah dengan mereka.  Ajaibnya, ia berhasil tiba di Korsel dengan selamat. Setelah melompat pagar dan tiba di Cina, Ho Ji kemudian menuju daratan Asia Tenggara. Laos, Myanmar dan Thailand adalah negara-negara yang ia sambangi dengan bantuan para aktivis kemanusiaan.
Setelah beberapa saat di Thailand, sang aktivis kemudian memutuskan untuk berlayar ke Korea Selatan dan menetap di sana. Sekarang ia menjadi Direktur Now Actions and Unity for Human Rights (NAUH) – sebuah organisasi penegak HAM untuk Korea Utara.
Bersama lima rekan yang gigih memperjuangkan persoalan HAM di Korea Utara, Ho Ji datang ke Indonesia untuk mencari dukungan internasional atas pelanggaran HAM di negara yang kini dipimpin Kim Jong Un. Jong Un merupakan keturunan “dinasti” Kim yang berkuasa di Korut sejak kakeknya, Kim Il Sung, mengubah sistem kepemimpinan  negara itu dari Partai Komunis ke kekuasaan mutlak yang menobatkan keluarga Kim sebagai pemimpin tanpa pemilihan umum sejak tahun 1970.
Young-hwan Lee, penasihat untuk Citizens’ Alliance for North Korean Human Rights (NKHR), mengatakan alasan kelima rekannya datang ke Indonesia adalah untuk mencari dukungan internasional atas kasus pelanggaran HAM di Korut.

“Indonesia, sebagai salah satu pemimpin demokrasi dan hubungan diplomatis di Asia Tenggara, belum pernah mendukung keputusan internasional atas kasus pelanggaran HAM di Korut,” katanya.
(utd/sip)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s