Kampanye HAM Korea Utara: Balada Hidup Ho Ji di Korea Utara


Balada Hidup Ho Ji di Korea Utara

Utami Diah, CNN Indonesia
Senin, 25/08/2014 11:42 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — Tangan dan kaki kirinya palsu. Diamputasi 18 tahun lalu, akibat terjerembab dari sebuah kereta usai berupaya mencuri batubara yang rencananya bakal ia tukar dengan makanan untuk sekeluarga.

Lelaki berpengalaman pahit itu Seong-ho Ji, namanya. Saat ditemui CNN Indonesia akhir pekan lalu di Jakarta, ia mengaku berusia 31 tahun. Usia di mana seharusnya seorang lelaki sedang giat bekerja.


Ho Ji adalah satu dari 260 ribu pelarian Korea Utara yang berhasil melintasi perbatasan negaranya untuk menyeberang ke negara saudara, Korea Selatan. Delapan tahun lalu, ia dan keluarga lari dari tanah kelahirannya, Hoeryong –sebuah kota yang terletak 808 kilometer di utara Pyongyang.
“Saya tidak bisa tinggal di sebuah negara yang memandang penyandang cacat sebagai kaum rendahan yang memalukan,” ujar pria yang kini menjadi Presiden Direktur sebuah organisasi penegak HAM untuk Korea Utara bernama Now Actions and Unity for Human Rights (NAUH). Korea Selatan, menurutnya, merupakan salah satu negara yang pemurah dalam memberikan status kewarganegaraan kepada pengungsi Korut.
Merasakan hidup di bawah rezim Kim Jong Il –ayah dari pemimpin besar Korea Utara Kim Jong Un, merupakan keperihan hidup yang tak terperikan. Itu berdasar pengakuan Ho Ji. Pernah suatu ketika sekitar 2000, kala kemiskinan hebat melanda Korea Utara, lantaran kota kelahirannya tepat di perbatasan Ho Ji pergi ke Cina untuk mencari makanan. Namun sayang, belum lagi sempat memberikan pada keluarganya, ia keburu tertangkap oleh polisi Korut. Mereka menginterogasinya dan menghajar Seong-ho Ji hingga babak belur.
“Mereka melihat kaki dan tangan saya yang cacat dan memaki saya. Kata mereka ‘Kamu cacat dan pengangguran memalukan pemimpin dan warga Korut’. Fisik saya sakit tetapi hati saya lebih sakit lagi mendengar ucapan itu,” katanya.”Saya tidak ingin tinggal di negara ini.”
Ho Ji berada di Jakarta, pekan lalu. Ia datang  sebagai pembicara dalam sebuah Seminar bertajuk Tindak-Tindak Kekejaman yang Tak Terucap di Korea Utara dan Nasibnya di Masa Depan. Seminar tersebut diselenggarakan oleh koalisi HAM Human Rights Working Group (HRWG) National Democratic Institute (NDI).

Bersama lima rekan yang gigih memperjuangkan persoalan HAM di Korea Utara, ia datang ke Indonesia untuk mencari dukungan internasional atas pelanggaran HAM di negara yang kini dipimpin Kim Jong Un(31). Jong Un merupakan keturunan “dinasti” Kim yang berkuasa di Korut sejak kakeknya, Kim Il Sung, mengubah sistem kepemimpinan  negara itu dari partai Komunis ke Kekuasaan Mutlak yang menobatkan keluarga Kim sebagai pemimpin tanpa pemilihan umum sejak 1970.
(utd/sip)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s