29 tahun usiaku sudah


It’s officially 29.  Akhirnya sampai juga di titik ini, di usia ini. Alhamdulillah Tuhan. Tahun 2014 merupakan tahun yang cukup berat bagiku. Banyak kejadian berjalan dan muncul tidak sesuai dengan harapanku meski kejutan-kejutan manis juga tak pernah absen sepanjang perjalanan.  Urusan keluarga, diri sendiri, karir, serta asmara semua bertautan secara kasat mata, seperti jalinan benang-benang merah tipis yang terhubung satu sama lain.

Tiba-tiba, aku melihat semuanya sudah tumpang tindih, tarik menarik, membuat sebuah pola keterhubungan yang tak aku pahami satupun. Apakah itu? Pola hidup seperti apakah itu? Lalu, aku sadar emosiku sudah teraduk-aduk sedemikian rupa dan bahwa aku merasa sungguh tidak berdaya. Ada sebuah kebingungan di sana, apakah pola itu terbentuk karena perlakuanku sendiri di masa lalu ataukah memang seperti itukah jalan yang akan aku lalui sepanjang sisa hidupku (mungkin aku belum bersikap terbuka atas hidup itu sendiri)?

Selama nyaris enam bulan di tahun 2014 ini, hari demi hari berjalan, rangkaian kejadian demi kejadian kulalui seperti biasa.  Setelah dari The Jakarta Post, aku mencari rezeki dengan bekerja paruh waktu sebagai penulis dan jurnalis di Komunitas Salihara, The Jakarta Post dan Sarasvati.  Juga berjuang membesarkan dari nol Kandil Syndicate, organisasi penulis dan penerjemah. Aku berpikir sudah merencanakan semuanya dengan baik dan bahwa manusia dengan karunia otak yang cerdas, mengetahui segala hal. Aku melakukan hal-hal yang aku pelajari dari sekitarku akan membawaku ke tempat yang aku tuju.

Tiba-tiba, aku tiba di sebuah titik di mana aku berdiri dan menatap kejauhan… terpaku. Aku sadar saat itu, aku tidak tahu apapun, tak sedikitpun mengenai misteri hidup yang memiliki ritme dan pengertiannya sendiri. Hal-hal masih saja begitu mudah menjatuhkanku. Hal-hal masih saja begitu cepat membuatku ragu dan murung.

Sungguh, aku hanya sebutir debu, seorang manusia, di alam luas yang penuh dengan keajaiban dan kejutan ini.  Semua pengetahuan itu, yang kudapat dari orang-orang terdahulu ataupun pelajaran-pelajaran di bangku sekolah, saat itu terasa sangat minim dan… aku sadar aku belum sepenuhnya lulus dalam kuliah pembelajaran hidup, yang akan kulalui seumur hidupku.

Aku kini menatap kembali rangkaian perjalanan yang sudah kulalui, wajah-wajah yang menemani perjalanan hidup ini hingga di titik ini, serta kasih sayang dan cinta yang hadir diantara mereka.  Seringkali aku letih memperjuangkan dan terus menerus berkata pada diriku,” aku ingin melepaskan semua”. Aku merasa tak cukup baik untuk mengembalikan semua perhatian dan kasih sayang itu. Aku merasa tak ingin menyakiti hati mereka sedemikian rupa hingga terkadang aku ingin mereka menjauh dan melupakanku sebagai salah seorang yang mereka kenal, hingga mereka tak akan pernah sakit hati dengan sikap-sikapku.

Tetapi, malam itu, beberapa jam sebelum hari ulangtahunku tiba, ada yang menyentuh hatiku.  Kami sedang duduk-duduk usai dari sebuah acara, beristirahat sejenak sebelum pulang ke rumah. Dia berkata padaku,”Maaf ya Tami aku lupa kalau ini tanggal 9 dan besok tanggal 10. Aku tidak mempersiapkan apa-apa untuk hari ulangtahunmu yang tinggal beberapa jam lagi.” Dia berkata secara jujur dengan sebuah senyuman yang seketika menghilangkan semua beban di pundakku.

Aku terdiam sesaat tetapi kemudian mengucapkan terimakasih padanya dengan mata berlinang-linang.  Kami pulang ke rumah masing-masing dan mungkin dia sudah melupakan tindakannya tersebut tetapi perkataan itu masih terus terngiang-ngiang di kepalaku.

Sebuah pernyataan sederhana yang apa adanya, keluar dari dalam lubuk hati orang yang benar-benar mau keluar dari dirinya sendiri dan memperhatikan orang lain. Sebuah perbuatan baik yang mengantarkanku pada suasana hati yang baik di keesokan harinya. Tanggal 10 Juni, hatiku tersenyum sepanjang hari – terimakasih atas satu perbuatan baik sang teman tersebut.

Di pagi harinya, aku terbangun berkat beberapa telepon dan ucapan dari orangtua dan adik-adikku. Papa menanyakan bagaimana kabarku. Adikku dan juga Ibuku, seperti biasa, memberikan doa agar aku cepat dapat jodoh. Tidak ada rasanya yang bisa melebihi perasaan bahagiaku selain menerima perhatian dari orang-orang terdekatku.

Lalu, tak lama kemudian, sahabatku di kuliah dan SMA – kami sudah lama tidak berkontak-kotakan- mengirimkanku pesan, mengucapkan selamat ulangtahun (Padahal aku sering sekali melupakan hari ulangtahun mereka!). Aku terharu. Betapa selama ini, sudah minim waktuku untuk mereka tetapi mereka masih mengingatku di tengah kesibukan mereka juga.

Lalu, ketika tiba di kantor, sudah ada sebuah buku merah “Menulis dan Berpikir Kreatif” dari seorang teman kantor di atas meja. Aku sering berbincang dengan teman itu mengenai buku-buku bagus dan wajib baca juga kegemaranku menulis – serta upayaku saat ini – perjuanganku – menyelesaikan novel soloku yang pertama.

Dialah orang yang mengingatkanku tentang buku-buku bagus yang mesti kubaca untuk bagasi tulisanku. Sebuah tindakan sederhana yang bagiku sangat berarti. Aku selalu terharu pada orang-orang yang memperhatikan kegemaranku akan dunia tulis menulis.  Sayangnya saat aku masuk ke kantor, dia tidak ada jadi aku belum sempat mengucapkan terimakasih padanya. Mungkin nanti akan kuberi dia sekotak coklat yang kubeli di Bogor beberapa hari lalu.

Lalu, keesokan harinya, aku menginap di rumah sodara. Sepupu-sepupuku yang masih kecil, dua bocah lelaki yang lucu, mengucapkan selamat ulangtahun padaku dengan malu-malu dan kami – beserta orangtuanya – makan bersama di Rice Bowl (karena anak-anak itu requestnya di sana). Habis makan bersama, akupun membuatkan mereka pudding susu, es buah dan es krim (yang dibantu sepupuku yang paling kecil) dan saudaraku memasakkan ayam teriyaki serta mi kocok andalannya.

Semua memang tidaklah mewah dan hari ulangtahun ini tidaklah dirayakan dengan sesuatu yang besar dan hingar bingar. Tetapi, perhatian-perhatian kecil tersebut, yang tulus, kasih sayang yang dilimpahkan oleh orang-orang terdekatku di luar minimnya perhatian yang kucurahkan ke mereka, mendorongku untuk terus berupaya lebih giat lagi untuk tak hanya menjadi penulis dan jurnalis yang lebih baik tetapi juga sebagai seorang manusia yang bisa lebih memiliki kepekaan dan hati besar seperti mereka semua. Bagaimana agar tidak hanya mengejar selesainya novel sebelum Agustus atau menulis untuk beberapa media tetapi juga bagaimana memberikan waktu untuk menolong teman yang mengalami KDRT misalnya, menelepon Ayah yang sendirian di rumah di sela-sela bekerja ataupun sekadar menyapa teman yang sedang sedih. Mudah-mudahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s