Selamat datang 2014


Selamat datang 2014

Tahun 2013 akhirnya menjadi 2014. Satu angka berubah, satu tahun berganti dan menandai seluruh kisah yang terjadi dalam rentang waktu tersebut. Lantas, apa yang telah kupelajari selama satu tahun ini?

Aku menatap ke arah candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, Surakarta. Kabut tipis mulai beranjak naik dan membayang di pelupuk mata. Kabut memeluk tubuh feminin candi yang hening dalam kebersahajaan.

Udara dingin yang menusuk pelan-pelan semakin terasa di kulit. Orang-orang di sekitar lokasi Candi Sukuh bergerak ke sana dan  ke mari, menyibukkan diri mereka demi mengurangi rasa dingin yang semakin menjadi. Sebentar lagi akan turun hujan. Kabut tipis telah mengawali datangnya hujan.

Aku berjalan pelan, lebih mendekati satu-satunya candi yang memiliki bentuk piramida. Banyak terdapat relief-relief Hindu di tubuh candi, secara garis besar mengenai proses kehidupan itu sendiri terjadi, mulai dari lingga – yoni, rahim perempuan, hingga persenggamaan lelaki dan perempuan. Ini bukan sebuah candi porno, persenggamaan adalah cikal bakal kehidupan, sesuatu yang sakral jika dilandasi dengan niatan yang sakral pula, meneruskan keturunan. Aku masih ingat penjelasan dari mbah Prapto Suryodarmo sebelum memasuki areal candi penanda transisi Hindu ke Islam ini.

Mengingat keseluruhan relief dan kisah yang dihadirkannya tersebut, aku bertanya-tanya. Lantas, bagaimanakah dengan diriku? Aku seorang perempuan dan belum juga melahirkan seorang anak dari rahimku sendiri. Aku justru memilih berkelana, mencari-cari sesuatu yang bisa membuatku merasa semakin menjadi manusia: kontribusi kemampuan kepada masyarakat sekitar melalui tulisan. Meskipun, setahun ini… ada hadiah pahit kegagalan yang mesti aku alami di penghujung tahun yang sempat membuatku bertanya-tanya, apakah aku cukup berbakat untuk menjadi novelis sekaligus jurnalis.

“Tidak ada yang bisa menahan-nahan tubuh. Kesadaran adalah, merasakan setiap gerak tubuh dan membiarkannya bergerak alami mengikuti denyut hidup,” ujar Diana Butler, partner Mbah Prapto di Yayasan DarmaNature.  

Aku telah banyak mengikuti arus air membawaku, ujarku dalam hati. Memutuskan mengejar mimpiku, berbekal kecintaanku pada tulis menulis, mulai dari melamar sebagai editor buku pelajaran, lalu melompat ke dunia media cetak, seperti majalah dan koran. Hingga nadir akhirnya membawaku kembali ke titik nol lagi. Tanpa sebuah kantor. Tanpa status dari perusahaan media ternama. Tanpa sebuah novel yang jadi – karena tertunda oleh fokus setahun di media. Tanpa suami.

Sementara, teman-teman sebayaku yang lain terus melangkah maju, dengan aneka atribut pencapaian mereka: mendapatkan beasiswa S2, telah menikah dan punya anak, telah punya rumah sendiri, punya pekerjaan mapan di kantor ternama.

Apakah memang seperti demikian hidup tersaji untukku? Atau ini sebuah kesalahan strategi?

“Manusia zaman sekarang banyak berpikir dan merasakan tubuh mereka sendiri. Mereka lebih mirip seperti robot,” Diana melanjutkan ketika kami berbincang santai seusai pementasan seorang performer dari Amerika Serikat.

Diana kembali menegaskan bahwa hidup bukanlah hanya sekadar pencapaian, ada proses dan makna yang didapatkan dari kesemua itu, dan hal tersebut jauh lebih berharga dari sekedar ‘tujuan akhir’.

Dia bertanya padaku, apa pekerjaanku saat ini. Aku menjawab aku adalah seorang penulis, baru saja terhenti menjadi jurnalis The Jakarta Post, dan saat ini ke Candi Sukuh untuk menulis artikel Srawung Seni,  nama acara seni di Candi Sukuh, untuk kontribusi Feature The Jakarta Post. Aku menjawabnya dengan keengganan, seolah-olah status tanpa media, membuatku terkesan sebagai seseorang yang menyedihkan. Tetapi, perempuan tua yang tampak matang dan bijaksana itu langsung menjawab,” ya, aku sering membaca artikel-artikelmu,” ujarnya dan diikuti oleh gerai tawa kami semua.

Ada sebuah kelegaan yang mengaliri tubuhku, dan aku merasakan sebuah rasa hormat, kasih sayang, muncul terhadap perempuan yang berdiri di hadapanku ini.  Dia memahami raut wajahku. Dia melimpahkan kasihnya padaku.

“Aku dulu sering menulis artikel untuk The Jakarta Post, mengenai budaya. Tetapi, menulis bukanlah ‘my thing’,” dia berkata sembari menggerakkan kedua tangannya.

Diana dulu mengawali karir senimannya sebagai seorang penari dan kemudian menekuni dunia intelektualisme, sebagai ahli dalam bidang cultural studies. Dia mengambil S3 dengan tesis mengangkat konsep ketuhanan dalam kepercayaan di Indonesia dan berkonsultasi kepada Professor Edy Sedyawati, mantan menteri kebudayaan Indonesia yang juga merupakan seorang penari Bedhaya terkenal dan pakar arkeolog.

“Kapan-kapan datang dan ikutlah workshop Joged kami. Itu baik untuk meningkatkan kesadaranmu akan tubuh, dan menyeimbangkan pikiran, rasa, serta raga,” dia berkata padaku. “Baik untuk mereka yang sering bekerja di belakang komputer. Bisa meningkatkan fokus.”

Kami lalu berbicara panjang lebar mengenai candi dan perannya lebih dari sekedar benda. Aku lalu juga berkenalan dengan seorang performer asal Rusia, Yana, dan partner performernya dari Moskow, Kaca (dia memainkan nyanyian akustik spontan yang keren!). Aku juga sempat berbincang dengan Seno Gumira Ajidarma dan mendengarkan celoteh ringan sederhana khas Mas Rahayu Supanggah, mengenai kesetiaan pada proses menjadi, serta  semangat perlawanan dalam karya. Mas Seno menasihati satu hal “ tidak ada batasan dalam berkarya. Tidak ada karya non sastra dan sastra.” Itu yang akan aku ingat selalu.

Lalu, tepat pukul empat sore, aku memutuskan untuk kembali ke Solo untuk melihat perayaan tahun baru di Jalan Slamet Riyadi.

Tak ada yang istimewa, hanya lautan manusia berkumpul di sepanjang jalan Slamet Riyadi, sembari menyalakan kembang api dan petasan, demi merayakan pergantian taun baru. Tidak ada acara gegap gempita seperti di Jakarta. Taun baru usai dan massa bubar, sisanya berkumpul di pinggir jalan sembari menikmati serabi, wedangan, serta penganan kecil lainnya dengan kawan-kawan mereka. Sementara aku berlari, mengatasi degup jantung dan ketakutanku sendiri.. akan bunyi petasan dan kembang api yang membabi buta. Aku berhenti di sebuah warung soto kwali lesehan di pinggir jalan bersama temanku dan kami berdua menikmati kuah soto yang hangat di warung kecil tersebut sembari menikmati pergantian tahun.  

Uniknya, aku merasa hidup dan bahagia. Hanya berkunjung ke acara seni di kaki Gunung Lawu dan mengobrol santai dengan banyak orang yang memiliki wawasan mendalam serta luas tentang hidup lalu merayakan pergantian tahun di warung lesehan sederhana di pinggir jalan, membuat hatiku terasa sangat ringan.

Mungkin memang inilah hidup. Lepas sejenak dari semua ekspektasi dan pengharapan akan sesuatu yang ideal, dan hanya menikmati saja. Lebih merasai diri dan denyut hidup itu sendiri. Tidak tenggelam memikirkan bagaimana mendapatkan jodoh, bagaimana mendapatkan beasiswa ke luar negeri, ataupun pekerjaan yang layak dengan gaji yang layak pula, segala sesuatu yang dikonsepkan dan disistemkan oleh masyarakat secara linier. Setelah sekolah, kerja, setelah kerja lalu menikah, habis itu punya anak, setelah itu…. Semua berjalan sama bagi semua orang. Target-target yang ditentukan oleh manusia sendiri dan dipatok sama bagi siapapun. Padahal, hidup menganugerahkan sendiri keistimewaan-keistimewaan, yang bagi mereka yang cukup terbuka, akan menerimanya. Hidup dan alam, seperti kata Diana, berjalan dengan konsep  acak. Dia punya iramanya sendiri dan manusia mesti bisa menyesuaikan dengan irama tersebut.

 Aku hanya berharap sederhana untuk tahun depan. Aku bisa lebih tenang dalam menghadapi segala sesuatu, baik atau buruknya hal tersebut, sehingga mampu mengambil sikap dan tindakan yang dilandasi dari pikiran yang jernih. Hanya sesederhana itu saja. Tahun kemarin, pikiran dan tubuhku dipenuhi dengan kecemasan-kecemasan tak penting mengenai masa depan. Tahun depan.. aku hanya ingin lebih menikmati apa yang akan diberikan oleh hidup padaku dan menghilangkan segala bentuk konsepsi pikiran yang semata-mata dilandasi oleh benar atau salah. Dengan demikian, kasih akan lebih tumbuh dalam hidupku.

Akhirnya, aku ingat salah satu kalimat dalam buku Jhumpa Lahiri.. salah satu pengarang favoritku: Dia yang lebih terbuka pada hidup, akan mendapatkan lebih banyak darinya.

Dengan spirit ini, kuucapkan selamat datang tahun 2014.  

Utami

 

 

5 pemikiran pada “Selamat datang 2014

      1. Mau nulis ttg skripsi, mbak. Tapi yang ada tumbang keserang demam. Kepaksa ditunda dulu, deh. :p

        Klo buat blog, masih blm kepikiran, mau nulis ttg apa. Terakhi Desember lalu ttg munurnya saya dari Akademi Berbagi.🙂

      2. haduh, skripsi itu gampang gampang susah. gampang karena sudah pasti dapat nilai. susah karena bawaan sering males ngerjainnya. beda sama tulisan fiksi hehehe. omong omong nulis skripsi tentang apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s