untitled


Akhirnya dia bilang semua itu. Bahwa aku terlalu tergantung padanya dan bahwa dia jengah. Jengah, atau dalam arti lain, tinggalkan aku sendiri untuk sementara.

Dia berkata sudah saatnya untuk mengurus dirinya, mencapai impiannya – seperti yang teman-temannya lakukan, dan bukan terjebak pada persoalan kegelisahan yang kualami.

“Aku semestinya mengurus apa yang menjadi tujuanku, bukan mengurus semua kegelisahanmu yang tak penting. Tetapi, apa aku setega itu?” ujarnya, menekankan pada kata kegelisahan. Pernyataan itu mengubah keadaaan menjadi ‘dia si lelaki malaikat’ dan aku ‘ si perempuan tak berdaya’.

“Sakit kepalaku ini, mungkin klimaks dari semua keluhan-keluhanmu,” katanya.”Kumohon ubah perilakumu.”

Saat itu, aku hanya bisa diam, seperti mobil kami yang terjebak ke dalam kemacetan luar biasa usai hujan reda di sebuah jalan di Sudirman.

Banyak hal yang berkeliaran dikepalaku saat dia mengatakan hal itu. Perkataannya membuat hatiku sakit luar biasa. Dadaku seperti ditekan ke bawah dengan sebuah tangan kasat mata. Tetapi, aku tidak bisa sama sekali mengutarakan padanya, tentang perasaan yang kumiliki saat itu.

Aku takut setiap kata yang kuucapkan, salah, dan aku hanya memperuncing keadaan. Mulutku terkunci, aku kebingungan hendak merespon apa pernyataannya tersebut.

Dialah sang lelaki yang pandai berkata-kata, membolak-balikkan pernyataan dan mendorong  segala percakapan sukses berakhir menjadi apa yang dia inginkan. Dia sudah berpengalaman dalam bidang itu. Pekerjaannya menuntut hal seperti itu.

Sementara aku hanyalah seorang perempuan yang selalu kikuk mencari pilihan kata dan tak pernah pandai menyampaikan pikiran serta argumentasi. Seberapapun keras usahaku semua yang kukatakan di hadapannya, hanya akan menjadi blunder.

Aku lantas diam di sampingnya, memegang telepon genggam dan menatap ke layar telepon yang bersinar, berharap ada seseorang tiba-tiba menelepon dan menyelamatkanku dari situasi tersebut. Tetapi tidak ada telpon atau sms masuk.

Aku membuka wassap, menyapa semua orang yang bisa kusapa, hanya untuk melarikan diri dari situasi menegangkan yang sedang kualami. Tak ada satupun yang membalas. Aku menarik nafas.

Aku lantas mencengkeram telepon genggamku erat setiap kali rasa sakit muncul di dadaku, seolah-olah kegiatan itu bisa meredakan semua kesakitan tersebut.

Apa yang selama ini kurang? Aku selalu berusaha untuk bersabar dengan segalanya, dengan semua konfrontasi yang kami alami, dengan semua konflik berkepanjangan, dengan caranya membentukku untuk bergantung padanya – untuk membutuhkannya dan tidak berpaling mencari pasangan lain — tetapi saat aku benar-benar tergantung padanya, dia mengatakan bahwa aku membuatnya jengah

Saat ini, aku tidak tahu apa yang aku mau, seolah-olah tidak kenal diriku sendiri. Apakah aku mau menyudahi hubungan ini ataukah aku masih mau dia bersamaku. Pikiranku mengembara ke sana sini. Sementara, dia masih saja terus mengoceh seperti suara lalat yang berdengung… ngung…ngung…ngung…

Setiap apa yang kulakukan seolah salah bagi hubungan kami berdua. Aku hanyalah beban berat yang menancap di tubuhnya, seperti sebuah kutil yang layak untuk disingkirkan dari jari jemarinya yang kuat.

Dia tahu bahwa kami sudah sama-sama capek dengan konfrontasi ini tetapi tak ada satupun yang berani untuk mengucapkannya secara lisan. Aku dan mungkin dia sama-sama takut untuk menjadi sendiri dan memutuskan untuk mengatakan bahwa semua sudah tidak berjalan baik seperti dulu kala lagi. Kami takut menyesal dengan keputusan tersebut, takut semua ternyata masih bisa diperbaiki.

Dia juga aku yakin tahu bagaimana kami selalu bertengkar setiap kali bertemu. Kami selalu saling menyalahkan setiap kali sebuah konflik muncul. Bagaimana rasa benci perlahan merayap dalam dada kami, dan dalam bilangan menit selalu terbersit keinginan untuk lenyap dari hadapan pasangan.

Aku hanya membutuhkan waktu untuk sendiri. Aku ingin berkata itu padanya tetapi aku tahu dia tak akan bisa menerima pernyataan tersebut.

“Aku ingin istirahat saja di kos malam ini, lain kali saja jalan-jalannya. Kamu pulang saja,” ujarku akhirnya.

Aku tahu responnya, dia akan marah mendengar pernyataan tersebut. Dia akan bilang bahwa dia capek dengan semua pernyataanku yang dianggapnya kekanakan. Meski aku tahu dia hanya takut bahwa aku akan mulai memutuskan untuk berpikir ulang mengenai hubungan kami dan memutuskan untuk berjalan tanpanya.

Lalu, dia akan menyalakan kembali mobil, menyetir dengan kalap dan marah, membuatku seperti seekor kerang yang meringsek masuk ke dalam cangkang, membisu sembari menunggu kemarahan itu mereda dengan sendirinya. Aku sudah hafal gelagat tersebut.

Selama perjalanan menuju restauran atau bioskop, kami akan saling diam satu sama lain. Selalu seperti itu. Seolah-olah memutar kembali film lama dan kau duduk menonton adegan itu untuk kesekian kalinya.

Tuhan, kau tahu aku tidak pernah mau menjadi perempuan yang merepotkan bagi orang lain. Kau tahu itu. Seberapa keras upayaku untuk menjadi orang yang mandiri. Tetapi kenapa di matanya, lelaki yang berada di sampingku ini, aku seolah-olah manusia yang dependen?

Mungkin bukan kesalahan dia sepenuhnya. Mungkin memang aku yang melemparkan diriku sendiri ke arahnya, berharap dia menangkapku dan menjagaku sebaik-baiknya. Mungkin semua itu hanyalah ketakutanku untuk mengambil keputusan sendiri dan menghadapi resikonya, yakni terjatuh.

Aku ingat status seorang teman: tidak ada yang bilang semua ini mudah, tetapi aku tidak menyangka akan sesulit ini.

Ketika dulu aku duduk di bangku kuliah dan mendapatkan pelajaran pertamaku mengenai perempuan dan kemandirian, aku merasa semua teori-teori itu mudah untuk diterapkan. Kau bisa memutuskan untuk tidak menjadi perempuan kebanyakan dan mengambil jalanmu sendiri. Kau bisa memilih untuk mandiri. Kau bisa memilih untuk melakukan sesuatu yang kau senangi dan berjuang serta mencurahkan sepenuh waktumu pada hal tersebut. Bang! dan kau sukses. Ternyata tidak pernah menjadi semudah itu.

Kegagalan itu ternyata hal yang sangat menyakitkan, seperti misalnya ketika kau dipindahkan bekerja ke bagian lain seperti marketingkomunikasi di saat yang kau inginkan hanyalah memegang naskah dan menulis – hanya karena perusahaan melakukan efisiensi. Atau ketika salah satu teman terdekatmu berhasil menerbitkan sebuah novel, dan kau – yang telah lebih dulu menulis novel – tidak pernah berhasil untuk menyelesaikannya. Ada satu bagian dari dirimu, yang bertanya-tanya, sudah cukup baikkah aku berupaya selama ini? Apakah penilaianku akan kemampuan diriku sendiri benar? Apakah ini memang jalan yang benar-benar terbaik?

Kadangkala, kau berharap kau memilih jalan yang lebih mudah. Seperti misalnya, melamar di sebuah perusahaan BUMN dengan gaji diatas 8 juta, kau memoles dirimu sedikit lebih cantik dan bisa mendapatkan lelaki mapan, bermobil yang bisa menopang kebutuhanmu sehari-hari. Atau cukup sederhana, mencari lelaki dan menikah, dan mengandalkan hidupmu pada sokongan suamimu, seperti kata seorang teman,” mengapa kamu gak menikah saja, sih. Setidaknya, kamu gak usah capek-capek kerja, dibiayai suamimu dan bisa fokus menulis novel?”

Tetapi, itukah yang benar-benar kuinginkan?

Aku menolehkan kepalaku, menatapnya, yang kini sedang mengelus-ngelus dahi, merasakan tekanan darah yang semakin meninggi.

Dia bersikap demikian karena aku yang mengizinkannya. Aku yang membiarkan diriku untuk diambil alih olehnya. Aku takut jalan yang kupilih mengalami kebuntuan dan melihatnya sudah jauh lebih berpengalaman, aku menghempaskan diriku ke dalam pikiran-pikirannya.

Aku membayangkan hari-hari yang akan kulalui tanpanya dan aku merasa ngeri sendiri. Dialah yang membelikanku obat ketika aku merasa tidak enak badan selama berhari-hari. Dialah yang menjadi teman ceritaku, saat aku merasa semua jalan sudah buntu. Dia yang datang pukul tujuh pagi di depan kosku – berangkat jam setengah enam dari rumahnya, membawakan satu bekal sarapan, sehari setelah kontrak kerjaku tidak diperpanjang.

Tetapi, sampai kapan aku mau mengandalkan hidupku padanya?

Aku lantas teringat kata-kata dari penulis favoritku, Erica Jong. Tidak ada satupun, tidak ada satupun. Mulai dari sekarang, aku pikir, aku akan menjadi ibu bagi diriku sendiri, akan menjadi penenang bagi diriku sendiri, menjadi peninak bobo. Mungkin inilah yang disebut sebagai pergi ke bagian terdalam dirimu sendiri dan menarik dirimu kembali ke atas. Belajar untuk bertahan hidup untuk kehidupanmu sendiri. Belajar untuk bertahan eksistensimu sendiri. Belajar untuk mengasihi dirimu sendiri. Tidak berpaling ke seorang analis, kekasih, suami, dan orangtua.

Segitu mudahnya bagi seseorang untuk lepas dari tanggungjawabnya atas kehidupan. Kau takut mengambil keputusan, karena kau tak mau menyesal, dan mendapat cacian karena pilihan yang kau ambil ternyata salah besar. Maka, kau menyerahkan semuanya kepada pasanganmu, untuk mengambil keputusan, dan kau menjadi si perempuan ‘iya atau terserah kau saja’, menjadi aman karenanya.

Mental ketergantungan banyak menggerogoti perempuan, bahkan yang hidup di masa sekarang ini, yang katanya sudah bebas dan maju.  Aku tak ingin menjadi seperti itu. Aku ingin belajar memercayai diriku sendiri dan semua keputusan-keputusanku, sebetapa anehnya atau terasa salahnya keputusan itu.

Aku menatap keluar. Mobil tiba disebuah perempatan jalan.

“Mau makan di mana? ” dia bertanya sekilas lalu hendak akan memberikan pilihan. Aku tahu pilihannya. sate kambing, dimsum atau rujak cingur. semua kesukaannya.

“Aku ingin makan hummus dan kebuli,” ujarku singkat. Dia menatapku sekilas, kaget bahwa aku bisa membuat keputusan secepat itu, lalu mengarahkan mobil ke kanan.

utami diah kusumawati

– 11. 2013 –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s