Novel Project on Gunung Kidul officially started


Hari ini akhirnya aku memutuskan untuk mengumumkan proyek novel Gunung Kidul di blog ini (terinspirasi si Julie di film Julie&Julia, hehe) Yaaaaaaaaaaay!

Sebenarnya, novelnya sudah mulai aku buat sejak 1,5 tahun lalu, sih. Pas aku masih kerja jadi wartawan seni budaya di koran Jurnal Nasional (yes, that blue newspaper, which is my first office as newspaper journalist) dan nyambi bantu-bantu teman kegiatan seni buat nambahin gaji di kantor lama yang saat itu, berdasarkan pengalaman, masih dibawah standar banget (dibandingkan dgn tmn2 di media lain).

Novel kukerjakan setiap ada jeda liputan ataupun kegiatan seni yang lumayan menyita waktu. Meskipun banyak kegiatan, untungnya waktu itu, sebagai jurnalis koran edisi Minggu dan lipsus pendidikan kebudayaan, waktu liputanku jauh lebih fleksibel dari jurnalis koran harian seperti sekarang ini. Jadi, waktu senggang buat nulis novelpun selalu ada meski hanya dua atau tiga jam sehari.

Novel ini merupakan novel yang kukerjakan untuk kedua kalinya.

Novel pertamaku berkisah seputar perjalanan seorang perempuan yang pergi ke Bali (sebenarnya dibuat sebelum Eat, Pray&Love booming di pasaran) tapi… tidak pernah selesai juga dan stuck di bab 9-10. (sebenarnya aku udah kirim sinopsis dan sumarry novel ke beberapa penerbit, termasuk grasindo, tp mereka bilang novel ini terlalu filosofis dan gak sesuai segmen market mereka)

Novel keduaku ini berangkat dari kegelisahanku dan juga kejengkelanku mengenai susahnya mendapatkan air bersih di rumah.

Aku tinggal di Ciledug, kota paling ujung dari selatan Jakarta. Kota yang selalu dipenuhi dengan kemacetan luar biasa setiap hari setiap jam setiap detik.Kota yang membuat warganya sakit jiwa karena kemacetan yang parah tetapi tak pernah bisa keluar dari kota tersebut dan pindah ke daerah yang lain. (Seolah-olah menetap di sana adalah sebuah kutukan)

Air di rumahku tidak pernah bersih. Paling bagus warnanya butek, keabuan, dan mengandung pasir. Namun seringkali air bercampur tanah yang menyebabkan warna air kecokelatan keruh serta mengandung gumpalan tanah.

Kalau dibuat mandi, tubuh langsung gatal dan kulit gak pernah terasa keset. Aku selalu saja membeli aqua galon untuk membilas muka dan beberapa bagian tubuh lainnya, supaya gak gatal-gatal.

Orangtuaku sudah dua kali memanggil tukang pompa untuk memasang pipa di tanah lebih dalam sehingga air tanah yang keluar akan jauh lebih bersih. Sudah puluhan juta dihabiskan dan ternyata, air di rumah tetap saja tidak pernah bersih. Ternyata baru aku tahu, Jakarta memang bermasalah dengan air tanah berbau, kotor dan tidak higienis.

Aku cuma bisa menghela nafas, menahan amarah, setiap kali membuka keran air dan menemukan air yang keluar sedikit dan  cokelat gelap. Saking kesalnya, saat pindah kekantor yang baru, the Jakarta Post, yang memberikan jauh ruang untukku menuangkan sisi idealistik dari diriku, aku selalu semangat saat mendapat tugas liputan ttg persoalan air bersih.

Dan tentunya, novel, memberikanku ruang lebih banyak untuk menuangkan persoalan itu, plus sisi romantis diriku.. hehehe.😛

Jadi, sampai saat ini, aku sudah menulis novel hingga bab 10. Sayangnya, aku masih stuck di bab tersebut, sama seperti saat mengerjakan novel yang pertama. Rasa-rasanya hambatan terbesarku selama ini selalu sama, buntu di bab 10.

Dalam novel ini, tokoh utamanya masih sama perempuan, seperti novelku yang pertama.

Nama tokohku Wulan. Dalam novel ini, Wulan akan mengalami transformasi hidup yang membuat dia semakin menghargai hal-hal kecil  dalam hidup, seperti hujan yang tiba-tiba turun, dalam hidupnya yang statis, plus filled with aristocracy minded.

Rencanaku dengan novel ini adalah menuliskan setiap bagian prosesnya di blog, kesulitan-kesulitannya, agar mendorongku untuk tetap semangat menyelesaikan novel ini hingga ke garis akhir. I want to end what I have started at the first place. That’s all.

Minta dukungannya juga, yaaa🙂🙂

2 pemikiran pada “Novel Project on Gunung Kidul officially started

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s