The fastest boat in Austronesia : Sandeq boat Mandar tribe


Sebagai ikon suku laut terbesar di Indonesia, sandeq tercatat sebagai perahu tercepat di lautan Austronesia

Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional | Minggu, 7 Oct 2012

MATAHARI perlahan beranjak di atas kepala dan sinar semakin terik di tepi pantai Majene, Sulawesi Barat. Dari kejauhan terlihat para peserta balap perahu sandeq (Passandeq) bersiap-siap di atas perahu mereka. Layar perahu masih tergulung pada tiangnya.

Mereka menunggu aba-aba tanda perlombaan dimulai. Begitu terdengar suara tembakan ke atas, para Passandeq sigap mengembangkan layar, mendayung dan perahupun melaju lesat menuju ke tengah lautan dengan bantuan tenaga angin.

Setiap layar yang terkembang berbentuk segitiga dengan warna putih. Dari kejauhan tampak nama-nama pejabat negara semacam Jero Wacik dan pengusaha lokal tercetak pada layar. Nama beberapa institusi pemerintahan hingga media lokal ikut tercetak di sana. Klaim nama itu menjadi penanda bahwa merekalah penyumbang dana untuk perahu-perahu tersebut.

Pada akhir Agustus hingga awal bulan September lalu, sebanyak 31 perahu bercat putih berjajar di garis pantai. Mereka meramaikan Festival Sandeq Race atau lomba perahu Sandeq yang diadakan di Kabupaten Majene Sulawesi Barat. Festival tanding perahu ini diikuti warga dari empat kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat. Keempat kabupaten tersebut adalah kabupaten Mamuju, Kabupaten Majene, Kabupaten Poliwalimandar dan Kabupaten Mamasa.

Sandeq Race sudah menjadi festival tahunan yang diadakan diadakan semenjak tahun 1995. Peneliti maritim asal Jerman, Horst H Liebner, termasuk salah satu yang menggagas festival tersebut. Festival ini ditujukan untuk melestarikan perahu Sandeq sebagai bagian dari kebudayaan para pelaut Mandar, salah satu suku laut terbesar di Indonesia. Pasalnya, tradisi Sandeq sudah tidak banyak lagi dikenal oleh generasi berikutnya akibat tergantikan dengan perahu bermesin.
Sandeq adalah perahu khas para pelaut Mandar dari Sulawesi Barat. Perahu itu bertongkang (bercadik) sepanjang 15 meter dengan layar segitiga plastik. Horst mengakui kecepatan perahu tradisional Sandeq sebagai perahu tradisional tercepat di Austronesia.

Tahun ini perahu-perahu tersebut melewati empat rute estafet, yakni Mamuju – Deking, Deking — Somba, Somba — Majene dan Majene — Poliwalimandar. Jalur itu sudah dipersingkat hingga tidak lagi sampai ke Makasar seperti tahun lalu. Hadiahnya cukup lumayan, mencapai 12 juta rupiah untuk pemenang utama. Pemerintah daerah mengambil alih penyelenggaraan Sandeq Race yang tadinya dipegang swasta.

Selama seminggu mereka bertanding untuk mendapatkan posisi teratas yang dinilai dari kecepatan mereka mencapai garis akhir hingga sejauh 300 mil. Menurut Eko Artoto, salah satu panitia Sandeq Race, festival kali ini diikuti lebih sedikit tim (tahun lalu mencapai 45 tim) karena beberapa tim perahu tradisional sedang bertanding di Eropa.

Sarat Nilai Budaya

Festival Sandeq Race menggambarkan bagaimana keahlian para pelaut Mandar menaklukan lautan menggunakan sebuah perahu tanpa mesin. Para Passandeq ini kompak berkerjasama menjaga agar tiang layar tidak patah ketika layar terhempas angin kencang. Mereka juga bekerja sama menjaga keseimbangan perahu saat berputar di tengah laut dengan melakukan manuver tertentu serta mengatur strategi mendayung perahu secepat mungkin dalam rute perjalanan laut yang jauh.

Para Passandeq yang umumnya bertubuh kecil itu bergerak sesuai aba-aba juru kemudi perahu yang berdiri di bagian belakang. Juru kemudi, menurut keterangan salah satu Passandeq, biasanya dipilih nelayan yang paling senior atau paling mahir kemampuan berlayarnya. Para kru kemudian berlompat-lompatan dari badan perahu menuju bagian cadik perahu saat perahu berputar dan memegang tali layar untuk mempertahankan agar tetap berkembang. ‘Aksi‘ para kru ini membuat decak kagum para penonton yang menyaksikan.

Konon, awalnya lomba Sandeq ini disebut sebagai lomba pasar karena Sandeq disewa oleh para pedagang untuk mengangkut barang dagangan di sepanjang pesisir kabupaten Mamuju dan Majene. Pada masa lalu, infrastruktur darat belum sebagus sekarang dan pengangkutan melalui laut dianggap masih lebih cepat dan hemat waktu.

Pessandeq yang terlambat merapat ke tepi pantai tidak akan mendapatkan pembeli untuk dagangan yang mereka bawa. Oleh karena itu, para pedagang biasanya memilih pessandeq yang cekatan dan memiliki kecepatan agar dagangan mereka laku terjual. Budaya ini menjadi cikal bakal festival perahu Sandeq yang dilaksanakan sesudahnya.

Menurut kepala museum Mandar, Firdaus, perahu Sandeq berasal dari sebuah perahu tua khas Mandar bernama Olinesa. Perahu yang bentuknya menyerupai Sandeq ini — namun dengan tiang layar lebih tinggi — biasa dipakai nelayan Mandar memancing ikan. Olinesa terbuat dari kayu Tipulu untuk badan perahu dan bambu untuk cadik atau tongkang.

Masyarakat Mandar dahulu kala merupakan masyarakat nelayan yang mencari hasil laut seperti tongkol, tuna ataupun cakalang dari Palu hingga ke Makassar. Sehingga, perahu menjadi bagian vital bagi keberlangsungan hidup mereka.
“Awalnya perahu-perahu Sandeq ini digunakan untuk memancing ikan, lalu lama kelamaan sebagai perahu tanding. Sandeq sendiri artinya layar yang runcing atau tajam,” jelas Firdaus.

Tak heran jika dalam perkembangannya, banyak terjadi modifikasi serta ragam perahu yang dibuat oleh masyarakat Mandar seperti perahu Bakgo atau perahu Lette (Loti). Perahu tersebut juga dipakai sebagai alat transportasi laut antar daerah maupun antar pulau terutama untuk mengangkut bahan hasil bumi dan perdagangan.

Beda perahu-perahu ini dengan Sandeq biasanya ada pada bentuk badan perahu yang lebih besar ataupun tiang layar dengan modifikasi bentuk. Misalnya saja pada perahu Loti yang artinya kaki. Untuk membuka layarnya sang nelayan mesti memanjat tiang lalu membukanya dari bagian atas. Layar akan turun kebawah seperti tirai.

Setiap perahu Sandeq dikendarai oleh delapan orang yang terdiri atas juru mudi (nahkoda) serta tujuh anggota biasa yang membantu jaga keseimbangan perahu. Sandeq terdiri atas beberapa bagian, yakni kemudi terbuat dari kayu, layar berbentuk segitiga terbuat dari kain plastik seluas 130 meter dan tiang dari bambu serta rotan sebanyak tujuh buah yang diikat bersama setinggi 16 meter dengan sudut siku 20 meter, sayap badan perahu dari kayu terletak di kanan dan kiri, serta tongkang bambu sepanjang 15-16 meter.

Proses pembuatan perahu Sandeq juga tidak sebentar, biasanya satu hingga dua bulan untuk menyelesaikan satu buah perahu. Beberapa pengrajin bahkan melakukan ritual atau prosesi khusus saat membuat perahu Sandeq yang menghabiskan hingga satu juta rupiah. Hal ini menandakan terdapat nilai-nilai budaya yang diwariskan ke dalam sebuah perahu Sandeq.

“Masyarakat Mandar mengenal perahu dari layarnya dan badannya. Semakin bagus layarnya dan semakin ramping badan perahu, saat angin kencang maka lajunya akan semakin cepat,” katanya.

Menurut Suradi Yasil, pemerhati sejarah dan kebudayaan Mandar, festival Sandeq Race merupakan sebuah kegiatan positif yang mampu mendorong perekonomian rakyat masyarakat nelayan di provinsi Sulawesi Barat. Kegiatan festival mendorong meningkatnya pesanan perahu Sandeq yang dibuat para perajin perahu. Mereka yang memesan adalah pejabat atau pengusaha yang mau mengikuti Festival Sandeq Race.

Untuk satu perahu Sandeq lengkap dengan tongkang dan layar dibutuhkan dana bervariasi mulai lima juta rupiah hingga dua puluh juta rupiah. H. Syarifuddin (78), salah satu kru perahu Bintang Timur yang berasal dari desa Tanjung Batu, mengatakan selama empat tahun timnya mendapatkan bantuan dana sebesar dua puluh juta rupiah dari sponsor. Dana itu, oleh timnya digunakan sebagai biaya perawatan dan perbaikan perahu Sandeq untuk persiapan tanding di tahun berikutnya.

“Kita mesti pintar-pintar adu strategi, biar menang dan mendapatkan pesponsor untuk perawatan perahu Sandeq, kalau untuk diri sendiri sih dapat gak seberapa. Karena cinta saja biasanya,” jelas lelaki tua pensiunan polisi ini, yang telah menjadi nelayan selama puluhan tahun, di tepi pantai Majene sembari mengamati timnya melaju di antara tim-tim tangguh lainnya.

Kebanggaan Anak Muda Mandar

Setiap kali festival digelar, minat anak muda untuk datang ke acara festival cukup besar. Kerumunan anak muda di tepi pantai saat festival Sandeq Race menjadi bukti betapa lomba perahu ini masih menarik minat penonton muda.

Mereka berkerumun di pinggir pantai dengan wajah sumringah. Beberapa di antaranya duduk manis di tepi pantai menikmati deburan ombak, menonton video mengenai asal muasal perahu Sandeq dan berbincang santai mengenai tim jagoan mereka.

Salah satu pemuda tersebut, Irfan (18), kelahiran asli Majene, duduk bersama dengan empat orang temannya. Dia melihat video Sandeq dengan serius. Matanya menatap tayangan video sebuah perahu Sandeq yang sedang didoakan dengan tasbih dan diberikan dupa juga sajen seperti kelapa dan ayam oleh seorang pelaku ritual perahu Sandeq, Syamsudin Ahmad.

“Saya sangat menjiwai Sandeq,” ceritanya. “Saya belajar banyak tentang perahu Sandeq dari Ayah saya. Dia pembuat perahu Sandeq dan perahu-perahu nelayan lainnya. Saya mengamati Ayah membuat perahu dan mulai belajar membuat miniatur perahu sendiri,‘ ujarnya.

Teman-temannya lantas mengerubuti Irfan saat tahu pemuda ini sedang mengobrol dengan pendatang. “Gampang buatnya,” mereka menunjuk ke salah satu miniatur kecil perahu Sandeq yang diletakkan di tepi pantai sebagai contoh. Mereka lantas mengangkat kedua tangan mereka dan menunjukkan pada saya.
“Kalau panjangnya dua jengkal (dua tangan) kami bisa buat dalam satu hari. Kalau empat jengkal, biasanya buat empat hari,: jelas salah satu temannya.

Di luar kegiatan mereka bersekolah, Irfan dan juga teman-temannya rajin membuat miniatur perahu Sandeq meski tidak pasti jumlahnya. Miniatur tersebut kemudian mereka jual kepada para peminat, umumnya masih warga lokal, seharga lima puluh ribu rupiah. Menurut Irfan, peminat perahu Sandeq dari luar pulau masih terbilang jarang sekali.

“Lagipula kalau jualan miniatur secara tetap saya juga gak tahu ke mana, masih belum ada agen penjualnya. Sekarang cuma ingin suatu saat bisa ikut jadi Passandeq. Saya gak malu jadi Passandeq malah bangga,” katanya.

Pernyataan Irfan menunjukkan bahwa festival semacam ini mampu membangkitkan kecintaan akan tradisi dalam diri generasi muda — seperti Irfan — yang pada masa sekarang ini terhimpit oleh tekanan budaya moderen dan globalisasi yang masuk tanpa batas dan mengancam identitas nasional.

Dari festival ini, Irfan belajar bahwa ia memiliki warisan luar biasa dari nenek moyangnya. Perahu-perahu Sandeq warisan suku laut Mandar, yang tidak boleh ia lupakan sebagai bagian pembentuk identitas dirinya.

Minim Pemasaran

Selain festival, untuk melestarikan warisan budaya perahu Sandeq dan kearifan lokal budaya Mandar, dibutuhkan sebuah pemberdayaan masyarakat yang pada nantinya mampu menggerakkan perekonomian kreatif rakyat di sekitarnya.

Dalam kasus perahu Sandeq, masyarakat pesisir di Sulawesi Barat sudah tidak lagi menggunakan perahu Sandeq sebagai moda transportasi. Untuk sekarang ini, mereka menggunakan perahu modifikasi dengan mesin terletak di bagian belakang (mesin tempel). Sebagian besar perahu tersebut dipakai oleh nelayan untuk mencari ikan.

Nelayan tidak perlu susah mencari perahu karena di Sulawesi Barat terdapat 342 unit industri rumahan pembuat perahu yang tersebar di Rangas, Majene, Bebu dan Binanga. Burhanuddin, salah satu pengrajin perahu, mengatakan tahun ini mendapatkan dana bantuan dari pemerintah untuk membuat kapal sebanyak 200 buah yang dikerjakan bersama dengan enam pengrajin kapal lainnya. Kapal tersebut dibuat dari kayu yang diambil dari Pontianak. Kapal tersebut rencananya akan digunakan untuk mencari ikan industri menengah.

Meski unit industri pembuat perahu cukup banyak, belum terdapat lembaga atau jaringan pemasaran yang membantu memasarkan hasil pengrajin perahu Sulawesi Barat tersebut. Hal ini menyebabkan, pangsa pasar pengrajin perahu Sandeq menjadi terbatas, ke warga sekitar saja.

“Di sini belum ada lembaga pemasaran khusus untuk menjual perahu Sandeq dan kapal nelayan hasil industri. Umumnya, pesanan hanya didapatkan langsung dari masyarakat yang membutuhkan kapal,” jelas Syamsuddin Ahmad dari Dinas Perhubungan Sulawesi Barat.

Muchsin, salah satu pengrajin perahu di daerah Pengali-Ali Majene, mengatakan jumlah pesanan perahu masih tidak pasti tergantung kebutuhan masyarakat lokal. Umumnya, dalam satu tahun, ia membuat sepuluh perahu model Sandeq dengan mesin tempel dengan harga jual sebesar lima juta rupiah. Sementara untuk sampan (perahu kecil untuk satu orang), ia biasa membuat sebanyak empat buah selama empat hari dengan harga satuannya satu juta rupiah.

“Untuk bahan perahu saya ambil dari daerah Cilalang, Majene. Dijualnya ya ke warga sekitar sini saja. Kalau pesanan lagi sedikit ya saya melaut dan mencari ikan. Biasanya sih bersihnya saya dapat enam ratus ribu untuk satu pesanan perahu,” jelasnya.

Muchsin mengatakan jarang membuat miniatur perahu Sandeq akibat minimnya pesanan. Padahal dengan nama perahu Sandeq yang sudah mendunia, hingga ke Eropa dan Australia, dan diakui sebagai salah satu perahu tradisional tercepat Austronesia, peluang untuk menjual miniatur perahu ke wilayah luar pulau ataupun wisatawan domestik yang berkunjung ini bisa dimanfaatkan untuk turut menggerakkan perekonomian rakyat sekaligus melestarikan kearifan lokal perahu tradisional Mandar.

Pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Barat, seperti yang dikatakan oleh Gubernur H. Anwar Adnan Saleh, pada tahun 2013 merencanakan anggaran khusus APBD untuk pengembangan daerah industri Sandeq dan menargetkan 100 perahu Sandeq berpartisipasi dalam Festival Sandeq Race yang dijadikan sebagai kalender nasional provinsi Sulawesi Barat, yang semestinya mampu menggerakkan perekonomian bagi para pengrajin perahu Sulawesi Barat.

Melihat problematika tersebut, Suradi Yasil menilai pandangan kebudayaan bahari semestinya diperhatikan oleh pemerintah tidak hanya fokus semata-mata pada kebudayaan darat saja.

“Sandeq Race ini juga sebaiknya jangan dilihat secara langsung dapat mendatangkan laba ekonomi atau tidak, tapi bagaimana dia bisa perlahan mendorong perekonomian rakyat dengan peningkatan pesanan perahu bagi para pengrajin perahu di Sulawesi Barat,” tegasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s