Menjaga Perdamaian Dengan Film


Menjaga Perdamaian dengan Film
Jurnal Nasional | Minggu, 9 Sep 2012
 
Image

Utami Diah Kusumawati

utamidk@jurnas.com

 

Seorang suami dan istrinya bertanya kepada si lelaki tua yang mengenakan jas putih, yang menyebut dirinya ‘sang waktu‘. “Di mana Allah dan Tuhan?”

“Bersamamu,” jawab lelaki tua itu.

“Mengapa kita berada di ruangan ini?” mereka masih bertanya, heran berada di sebuah ruang kotak bercat putih dengan jam digital di salah satu bagian dinding dan dua pintu di bawahnya.

“Izin masuk,” kata sang lelaki tua.

“Apakah (dosa dan budik baik) kita sedang dihitung?” Lelaki tua itu berkata, sembari melirik ke arah lelaki muda yang duduk satu bangku dengan pasangan tersebut.

“Semua pernah berbuat kesalahan. Sehingga, salah atau tidak, di sini semua diperlakukan sejajar.”

Sang suami berteriak marah, “Tapi dia membunuh kami berdua!” ujarnya sembari menunjuk lelaki muda yang ternyata pelaku bom bunuh diri di sebuah kafe di Israel yang menewaskan dia dan istrinya.

Kisah penentuan surga dan neraka tersebut berakhir dengan ketiga orang yang berada di ruangan itu pergi melangkah masuk ke surga, menemui Sang Khalik.
Adegan tersebut merupakan bagian dari film pendek karya sutradara USA, Harry Kakatsakis, yang berjudul Admission atau Izin Masuk. Film ini ditayangkan saat acara pembukaan serta penganugerahan pemenang dari International Film Festival For Peace, Inspiration and Equality (IFFPIE) yang didirikan oleh Damien Dematra, seorang sutradara film, penulis naskah serta penggiat isu multikulturalisme dan perdamaian.

Festival film internasional untuk perdamaian, inspirasi dan kesetaraan ini pertama kali diselenggarakan oleh Damien Dematra dan mendapatkan dukungan dari Gerakan Perdamaian Dunia (World Peace Movement) di bawah pimpinan Sofia Koswara. Damien mengatakan keinginan untuk mengadakan festival ini bermula dari kegalauannya mengenai ketiadaan festival utama — selain festival film umum — yang diperuntukkan bagi pembuat film yang mengusung tema perdamaian, multikulturalisme, pluralitas serta kesetaraan di balik fakta jumlah pembuat film untuk jenis ini banyak sekali.

Maka, ia pun mengajukan proposal kepada manajemen Without a Box (withoutabox.com), sebuah situs online yang khusus mengurusi database pembuat film indie dari seluruh dunia dan menghubungkannya dengan festival. Setelah tiga bulan, pihak Without a Box memberikan pengumuman bahwa mereka setuju membantu IFFPIE menjaring peserta untuk festival. Maka, masuklah karya sebanyak 500 buah dari para pembuat film indie di seluruh dunia untuk festival ini dan kemudian diseleksi menjadi 92 film sebagai finalis dengan dewan juri seperti Mark Olsen (sinematografer internasional), Ron Mullers (aktivis perdamaian dan produser film internasional), Sofia Kuswara dan Damien Dematra. Para juri ini kemudian memilih kembali pemenang sebanyak tujuh karya yang diumumkan saat malam penganugerahan di Jakarta.

“Karya dari pemenang kemudian akan ditayangkan di beberapa bioskop, perguruan tinggi, kedutaan besar dan sekolah di Indonesia mulai tanggal 30 Agustus hingga 30 September ini. Kriteria utama pemenang di samping faktor teknis adalah kekuatan pesan yang disampaikan oleh film bersangkutan. Kegiatan ini bukan hanya sebuah festival film tetapi sarana untuk membangunkan kembali kesadaran masyarakat akan pentingnya perdamaian melalui media film,” jelas Sofia Koswara.

Film-film — umumnya dibuat oleh pembuat film indie — dalam festival ini secara garis besar bertema mengenai konflik Israel-Palestina, persoalan Afrika, serta hal-hal lain menyangkut persoalan SARA.

Israel-Palestina

Damien mengatakan hampir enam puluh persen dari film yang disodorkan bertema mengenai konflik Israel dan Palestina. Salah satunya adalah Admission, film yang meraih penghargaan sebagai the best international short film IFFPIE tentang perseteruan Israel dan Palestina hingga mencapai surga.

Harry Kakatsakis, selaku sutradara film tersebut, dalam sebuah telekonferensi dengan audiens di Jakarta mengatakan bahwa film merupakan media terbaik untuk memengaruhi pemikiran masyarakat. Ia mulai membuat film tentang perdamaian sejak bencana WTC 9/11.

“Ada perasaan kekacauan saat itu. Saya melihat orang susah sekali memberi maaf dan mendamaikan dirinya. Maka, saya membuat film tentang perdamaian untuk mengubah pemikiran orang dan mentransformasi cara berpikir masyarakat agar mereka bisa saling melihat satu sama lain sebagai saudara,” jelasnya.

Baginya, topik Israel dan Palestina dipilih karena dua negara itu yang menjadi perhatian besar warga dunia termasuk dirinya yang berkewarganegaraan Amerika. Oleh karena itu, dia mulai memasuki ranah konflik itu untuk memulai ide tentang saling memaafkan.

Selain Kakatsakis, ada juga Robert Lemerson, seorang antropolog dan dosen, yang tertarik untuk membuat film mengenai tragedi G 30 S PKI di Indonesia berjudul 40 Years of Silence: Indonesian Tragedy. Robert, yang telah menetap di Indonesia lebih dari 15 tahun, mengatakan filmnya terutama berkisah mengenai pengakuan dari empat individu dan keluarga mereka yang berasal dari Jawa Tengah dan Bali. Pengakuan ini, yang kemudian difilmkan, kata Lemerson memberikan efek terapi bagi keempat individu tersebut untuk mengatasi trauma konflik dalam diri mereka.

“Film ini saya buat selama lima tahun dengan jumlah kru terbatas. Awalnya, sebagai seorang sosiolog dan antropolog, saya lebih tertarik kepada kesehatan mental dari para korban tragedi ini. Tetapi kemudian, ternyata film, yang awalnya bertujuan untuk riset, memberikan makna berbeda bagi keempat individu yang saya wawancarai,” jelasnya.

Secara garis besar, film-film mengenai perdamaian banyak diciptakan di seluruh dunia berangkat dari kegelisahan warga dunia akan keadaan konflik yang semakin memanas, terutama berkaitan dengan SARA. Isaac Kerlow, salah satu peserta dari Singapura yang telah bekerja selama 15 tahun untuk Walt Disney, mengatakan bahwa film merupakan media yang sangat kuat untuk mengubah pikiran seseorang karena dalam film terdapat gambar bergerak serta suara yang memberikan pesan jauh lebih kuat pada otak seseorang.

Oleh karena itu, dia tertarik membuat film dokumenter bertema kemanusiaan dan alam sehingga memutuskan keluar dari kemapanan perusahaan film besar di mana dia bekerja selama ini. Festival-festival film tentang perdamaian ini pun menghubungkan antara pembuat film, aktivis serta individual karismatik yang tekun memperjuangkan isu-isu tentang perdamaian, kebebasan serta kesetaraan.

Salah satu contohnya adalah One World, sebuah festival film tentang hak asasi terbesar di dunia, yang diadakan setiap tahun di Praha dan beberapa kota dari Republik Czech. Festival film ini didirikan pada 1999 oleh Igor Blazevic dan LSM Czech dan menampilkan lebih dari 100 film dokumenter dari seluruh dunia selama sembilan hari.

Festival ini kemudian menjadi pendiri Jaringan Film Hak Asasi Manusia, yang mempersatukan sejumlah 33 festival di seluruh dunia. Pada 2006, festival ini menerima penghargaan spesial dari UNESCO untuk kontribusinya atas hak asasi manusia dan edukasi perdamaian. Tiga tahun kemudian, festival ini menerbitkan sebuah buku pedoman berjudul Mendirikan Sebuah Festival Film Hak Asasi Manusia bagi para individu yang tertarik mengusung festival serupa.

Dialog Publik

Mengenai festival film bertema perdamaian, Garin Nugroho, sineas film Indonesia mengatakan yang terpenting dari hadirnya sebuah festival adalah gagasan yang melatarbelakangi terlahirnya festival tersebut.

“Yang terutama bukan sekadar memutar film tetapi ada nilai penting bagi penyelenggara mengapa sebuah festival tersebut lahir, lalu jika festival tersebut mengusung isu tertentu, maka kehadiran dialog publik menjadi penting di sini,” jelasnya pada Jurnal Nasional.

Garin menilai festival film bertema khusus seperti perdamaian, multikulturalisme ataupun hak asasi manusia di dunia memang ada, tetapi porsinya sedikit sekali. Festival One Worlddulu memang ada tetapi gaungnya sekarang kecil sekali, berbeda halnya dengan festival film semacam Sundance Film Festival, Berlin Film Festival atau Cannes Film Festival. Ia mengatakan penyebabnya adalah festival semacam itu menjadi terlalu jargon.

Oleh karena itu, jikalau festival semacam itu diselenggarakan, kehadiran para profesional yang mengangkat subjek serta penonton ataupun profesor yang mendalami isu tersebut menjadi tolok ukurnya. “Festival film punya tanggungjawab kepada publik, mengenai pemutarannya, diskusinya serta dampak apa yang diberikan setelah penyelenggaraan festival berakhir,” tegasnya.

IFFPIE sendiri didukung oleh Gerakan Perdamaian Dunia atau World Peace Movement (WPM) untuk penyelenggaraannya. Sofia Koswara, selaku ketua, mengatakan organisasi ini dicanangkan oleh sekelompok anggota masyarakat yang memiliki visi perdamaian lintas batas, suku, agama, ras dan golongan.

Pembina gerakan ini antara lain Linda Gumelar, Ron Mullers, serta Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo. Kegiatan yang dilakukan anggota gerakan ini di antaranya adalah membuat pertemuan perdamaian antaragama, bekerjasama dengan daerah-daerah di Indonesia, menyelenggarakan acara bincang-bincang, konferensi dan perjanjian perdamaian, serta acara seni budaya tema perdamaian.

“Kami menilai film sebagai media yang sangat penting dan ampuh untuk menyampaikan pesan-pesan tentang perdamaian. Oleh karena itu kami mendukung festival ini dan untuk tahun depan mengundang seluruh pembuat film Indonesia untuk ikut berpartisipasi,” jelas Sofia.

Dari 500 peserta yang terjaring masuk dan tujuh pemenang yang diumumkan, tak satupun karya sineas Indonesia. Damien mengatakan sebagian besar film yang masuk bertema konflik Israel, Palestina dan Amerika.

“Saya tidak bisa memaksa pembuat film untuk ikut serta dalam sebuah festival. Saya juga tidak tahu mengapa tidak ada sineas Indonesia yang berpartisipasi dalam festival ini. Tetapi mudah-mudahan tahun depan akan banyak nama, minimal enam puluh persen, yang muncul,” jelas Damien.

Di tengah krisis perdamaian yang sedang melanda Indonesia akhir-akhir ini, upaya dan semangat beberapa pihak membuat festival film dengan tema damai yang menyejukkan dan bertujuan mengedukasi penonton — meskipun dari segi penyelenggaraan masih terlihat kekurangan dalam beberapa lini, tetap patut disambut dengan baik.

Tentunya, di kemudian hari, festival semacam ini tidak hanya menjadi ajang perayaan dan pesta para pelaku film semata-mata, namun bisa benar-benar berperan aktif mendorong kesetaraan di negara-negara yang memiliki potensi konflik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s