Wayang Gantung Singkawang


Image

 
Meski sepi order, mereka tak pernah berniat menjual wayang gantung kepada pihak luar negeri.

Utami Diah Kusumawati

utamidk@jurnas.com

SEKELOMPOK pemain wayang gantung atau ‘chiao theu’ Singkawang menaiki panggung Bentara Budaya Jakarta (BBJ) dari sisi kiri panggung yang kecil. Mereka adalah Tjhin Nen Sin (70), Tai Siuk Jan (63), anak perempuan mereka Mei Mei (17) serta dua orang kerabat lainnya berusia di atas 50 tahun. Mereka duduk, meletakkan beberapa kardus di atas panggung, dan mengeluarkan peralatan pentas satu demi satu.

Pertama-tama adalah latar berupa papan kecil berukuran 60 x 30 cm dengan lukisan pemandangan alam yang cerah. Selanjutnya, alat musik seperti gong (malo), kecrekan (chem) dan drum kecil (loku) disiapkan di belakang papan lukisan. Terakhir, boneka-boneka wayang gantung dikeluarkan dari dalam kardus cokelat.

Tanpa banyak berbasa-basi dengan penonton yang hadir sore itu, kelompok wayang gantung Shin Thian Chai Singkawang ini beraksi. Dua boneka berpakaian jenderal perang muncul dari balik papan dan dimainkan oleh dua orang lelaki berusia tua. Kisahnya berjudul Shin Thian Chai yang merupakan cerita silat. Selama memeragakan adegan, kedua pemain boneka menggunakan bahasa Tiongkok. Baru ketika seorang lelaki datang membawa satu boneka baru, bahasa Indonesia digunakan dalam struktur yang terbata-bata.

Penonton yang memenuhi aula Bentara Budaya Jakarta (BBJ) saat itu terlihat lebih tertarik melihat aksi pemain boneka wayang gantung menggoyang-goyangkan bonekanya daripada mengikuti kisah cerita silat. Pasalnya, penceritaan minim sekali menggunakan bahasa Indonesia yang tentunya menjadi sulit dimengerti oleh penonton yang umumnya bertempat tinggal di Ibu kota Jakarta ini.

Mei-Mei, anak pemain wayang gantung, mengatakan, sesuai tradisinya, wayang itu selalu dipertunjukan dengan menggunakan dialog China Kek. Alasannya, agar terjadi kesinambungan antara cerita dengan penggunaan bahasa. Cerita yang dimainkan biasanya berkisar seputar lawakan, kisah perang, cerita Sun Go Kong si kera sakti sampai Barongsai, yang semuanya merupakan kisah klasik dari Tiongkok.

Jumlah boneka yang dimiliki oleh kelompok ini sebanyak 38 buah. Meski demikian, pada saat pementasan tidak semua boneka dimainkan. Tergantung kondisi dan durasi pementasan. Untuk pementasan di Jakarta, mereka hanya membawa sebanyak sembilan buah karena singkatnya durasi pementasan. Mei-Mei mengaku tidak ada perawatan khusus terhadap boneka-boneka itu meski usianya sudah mencapai ratusan tahun lamanya. Paling-paling, hanya diganti bajunya kalau mengalami kerusakan atau kecacatan. Selebihnya, boneka hanya disimpan di dalam kotak kardus dan akan dikeluarkan setelah melakukan sembahyang atau ritual khusus. Melihat kondisi boneka-boneka yang memprihatinkan seperti kotor, terlihat kusam dan kumel, timbul rasa miris akan bayangan masa depan grup tradisional ini.

Mengenai ritual dilakukan tak hanya saat hendak dikeluarkan, sebelum dipentaskan kelompok ini juga melakukan ritual khusus. Yakni dengan menyiapkan bahan-bahan seperti ayam jago jantan, beras, garam, serta kain tiga warna merah, putih, dan biru. Jambul ayam kemudian akan dipotong dan dimasukkan ke mulut boneka, sementara beras dan garam akan disebarkan di areal gedung pertunjukan yang memiliki tiang. Kain lalu akan digunakan oleh para pemain saat pementasan nanti. Mei-mei mengatakan ritual tersebut bertujuan mengusir arwah jahat dan berdoa demi kelancaran pertunjukan.

“Suami saya (Tjhin Nen Sin) sudah bermain wayang gantung semenjak usia tujuh belas tahun. Kelompok ini merupakan generasi keempat. Wayang ini dibawa oleh kakek buyut suami saya pada tahun 1929 dari Tionghoa. Kemudian dimainkan berkeliling,” kata Tai Siuk Jan yang memiliki potongan rambut pendek dan sorot mata jernih. Tubuhnya yang kurus mengenakan baju berwarna ungu tanpa lengan dengan rok manik warna hitam. Perempuan tua ini terlihat tenggelam dalam baju atas bawah tersebut.

Dulu, wayang gantung Singkawang biasa dipagelarkan mengelilingi kampung, katanya. Peminat wayang gantung pada masa itu, masih banyak, terutama akibat belum masuknya televisi ke Singkawang. Kelompok Wayang Gantung kakek buyut Tjhin bisa bermain secara nonstop selama satu bulan dari satu lapangan ke lapangan yang lain.

“Dulu laris sekali, main gak ada hentinya di lapangan atau di pasar malam. Juga main pas perayaan kelenteng,” kata Tai Siuk Jan.

Namun, semenjak televisi dan alat elektronik lainnya masuk ke Singkawang serta budaya modern melebarkan sayapnya, pertunjukan wayang gantung tradisional ini semakin tersisih. Tai Siuk Jan mengatakan, semakin jarang orang yang mengundang grup wayang pentas. Bahkan banyak kelenteng yang lebih memilih merayakan Cap Go Meh dengan mengundang band atau grup musik gesek modern alih-alih grup wayang gantung.

Padahal, harga untuk sekali pertunjukan tidaklah terlalu mahal jika dibandingkan dengan nilai historisnya. Tai Siuk Jan menyebut angka Rp3.660.000 untuk pertunjukan tiga jam nonstop. Angka enam ganda dipercaya membawa kebaikan. Sepinya order ini menyebabkan beberapa grup wayang gantung yang tadinya ada di Singkawang memutuskan untuk menjual boneka-boneka wayang mereka kepada pembeli luar negeri.

“Dulu ada orang Singapura yang menawar boneka-boneka ini untuk dibawa ke Singapura. Tetapi, saya gak mau. Saya ingin wayang-wayang ini diteruskan ke cucu-cucu supaya mereka mengenal budayanya sendiri,” kata Tai Siuk Jan.

Ironisnya, generasi penerus wayang gantung ini nyaris tidak ada sama sekali. Hal itu diakui oleh Mei-Mei, anak langsung dari Tai Siuk Jan, yang kini berdomisili di Jakarta dan membuka sebuah toko telepon genggam.

“Soalnya susah maininnya. Butuh keterampilan khusus dan belajar tekun untuk bisa bermain boneka. Risikonya bisa kelibet-libet benang, kusut, dan mengacaukan pementasan. Dari anggota keluarga seumuran saya, cuma saya aja yang bisa,” kata perempuan berambut ‘highlight’ cokelat muda ini sembari mengutak atik telepon genggam.

Mendengar jawaban dari penerus langsung grup wayang gantung yang sudah bertahan selama ratusan tahun ini, kegelisahan membayang. Bagaimanakah nasib kesenian tradisional Singkawang yang merupakan bagian dari identitas masyarakat Singkawang dan juga Indonesia skala umumnya di masa depannya? Jika tidak segera ada pembinaan, pendataan ataupun kepedulian dari banyak pihak terkait, bisa-bisa nasib kesenian tradisional yang bertumpu pada keahlian kecepatan tangan ini, hanya tinggal sekadar nama.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s