Bintang Hening Fitri Setyaningsih


Berporos pada tubuh. Tentang perjalanan sebuah bintang nun jauh di sana.

Suasana gelap pekat. Muncullah beberapa penari menyeruak dari kegelapan tersebut. Mereka berjalan perlahan-lahan. Mereka mengenakan pakaian hitam-hitam. Mata mereka berkedip-kedip dan memendarkan kerlip cahaya yang minim. Sesekali, di antara langkah-langkah, mereka berputar dan mengelilingi poros diri sendiri. Langkah-langkah mereka meninggalkan jejak-jejak, lajur dan petunjuk navigasi.

Gerakan-gerakan navigatif layaknya bintang tersebut, merupakan karya koreografer muda Fitri Setyaningsih dalam pertunjukan tari “Bintang Hening” yang diadakan di Gedung Kesenian Jakarta beberapa waktu lalu.

“Bintang Hening” merupakan karya yang terinspirasi dari cerpen Primo Levi berjudul sama. Cerpen ini mengacu kepada astronomi dan kisah mengenai sebuah bintang nun jauh di sana yang bergerak dengan tenang. Namun dalam keheningan tersebut menunjukkan peta perjalanan, sebuah petunjuk. Oleh Fitri karya cerpen itu diadaptasi ke dalam sebuah karya panggung dengan mengambil esensi yang sama, gerak dan perbintangan.

Esensi tersebut kemudian ia kaitkan ke dalam lingkup yang berkorelasi dengannya secara geografis. Atas bantuan Yayasan Kelola, ia meriset bagaimana suku tradisional Mandar yang menetap di Sulawesi Barat menggunakan pengetahuan perbintangannya sebagai navigasi kehidupan mereka. Hal ini menarik di mana Fitri menarik benang merah atas sebuah karya sastra dan kemudian mengaitkannya dengan pengetahuan lokal yang dimilikinya, terutama karya tersebut berangkat dari perbincangan seputar astronomi.

Di Indonesia, pengetahuan mengenai perbintangan dimiliki oleh banyak suku asli laut Indonesia mulai dari Bajo, Mandar, Moro, Sekak dan lainnya untuk navigasi pelayaran serta petunjuk kehidupan mereka. Alam, bagi suku-suku laut ini, adalah sebuah buku tanpa kertas atau seolah kamus, mengutip istilah Primo Levi. Suku-suku ini membaca langit, gerak bintang, warna, kabut, garis, atau tanda-tanda lain dengan intuisi yang kuat dan pemahaman detail yang menakjubkan.

“Saya melakukan magang di Suku Mandar selama bulan Juli 2011 kemarin. Suku Mandar memiliki tradisi astronomi lokal yang panjang berdasarkan kehidupan mereka sebagai nelayan maupun pelaut. Selama magang, saya tinggal di desa Lambe Karama dan didampingi ahli penduduk setempat,” jelas Fitri ditemui usai pertunjukan.

Dari magang tersebut, Fitri mengatakan mendapat pengetahuan bahwa suku Mandar menggunakan tubuh mereka juga sebagai pusat pengetahuan. Misalnya, sebagai masyarakat nelayan mereka mengukur keadaan di laut, bahaya, pergantian musim, dengan menggunakan tubuh. Tubuh bagi suku Mandar tidak sekadar obyek melainkan media navigasi, yang praktis berguna buat petunjuk kehidupan mereka. Bahwa eksplorasi tubuh penting untuk bertahan hidup. Pemahaman ini kemudian yang melahirkan bekal bagi Fitri untuk mengeksplorasi gerak tubuh yang lebih kaya, berangkat dari pemahaman pengetahuan suku lokal di Indonesia.

Untuk proyek ini, Fitri menggunakan penari dari ISI Solo, Jawa Tengah. Alasannya adalah karena para penari tersebut memiliki teknik tari yang standar. Meski demikian, dalam pementasan kali ini ia mengatakan kerja koreografi tari paling minimalis dari sebelumnya. Penari lebih banyak memainkan hal-hal kecil dari anggota tubuh maupun panca indera. Misalnya menggerakkan kelopak mata berkali-kali dengan komposisi tertentu, menggoyangkan tubuh bak bandul jam ataupun memutar tangan seperti poros sepeda yang berputar.

“Untuk mendukung semua konsep keheningan perbintangan agar maksimal, saya juga bekerjasama dengan Afrizal Malna pada artistik, Sigit Pratama pada musik, serta Joko S. Gombloh pada eksekusi materi,” jelasnya.

Pentas Fitri kali ini seolah mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya sebagai modal ragam gerak tubuh yang lebih variatif bagi para penari. Eksplorasi gerak tari yang berangkat dari riset seperti ini, selain berguna bagi dunia tari, juga memiliki sumbangsih terhadap pelestarian wawasan kebudayaan Indonesia. Khususnya bagi kalangan muda, agar lebih peka lagi terhadap masyarakat dan tempat mereka tinggal.

Utami Diah Kusumawati l diterbitkan 10 Juni 2012 di Jurnal Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s