Semangat Multikulturalisme di Lombok


Semangat Multikulturalisme Lombok
 | Minggu, 5 Aug 2012
 
Dibangun di atas fondasi beberapa suku bangsa, Lombok menjadi sebuah kota yang memiliki wajah budaya yang beragam sebagai pembentuk identitas.
 
 
Image

LOMBOK yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat sedang berupaya mengembangkan diri dari berbagai segi, baik identitas kebudayaan maupun pariwisatanya. Terdiri atas masyarakat yang multikultur, Lombok dengan lanskap alamnya yang menawan, berpotensi menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara.

Namun, sebagai entitas kebudayaan yang berdiri sendiri, masyarakat Lombok tidak sekadar ingin mengembangkan pariwisata tanpa identitas pembentuknya. Maka, dibangunlah kesadaran bahwa Lombok dengan budaya sasaknya memiliki akar sejarah sendiri jauh sebelum kedatangan orang-orang Bali ke Lombok.

Masyarakat tradisional Sasak merupakan penghuni awal di Pulau Lombok. Konstruksi masyarakat ini dibentuk berdasarkan konsensus bersama dari berbagai etnis yang pada masa lalu sudah ada di Lombok, yaitu etnis Bali, Jawa, dan Makassar.

Mereka membentuk kebudayaan baru melalui proses alkulturasi budaya, yang kini dikenal sebagai Sasak. Secara etimologis, menurut Goris S, Sasak berasal dari kata ‘sah’ berarti pergi dan ‘shaka’ yang artinya leluhur. Dengan demikian, Sasak berarti ‘pergi ke tanah leluhur’. Dari etimologi ini diduga leluhur orang Sasak adalah Jawa, yang kemudian bertemu dengan kelompok pendatang seperti dari Bali, Sumbawa, Arab, China, dan Makassar.

Menurut Lalu Agus Fathurrahman dalam buku Menuju Masa Depan Peradaban Refleksi Budaya Etnik di NTB, sebagian besar orang Sasak kini adalah orang desa yang mayoritas beragama Islam dan pernah dibangun di atas fondasi spiritualitas, animisme, Hindu, dan Buddha. Hal ini menyebabkan masyarakat Sasak menjadi sebuah kebudayaan yang multietnis dan multikulturalisme, dan merupakan gambaran wajah kebudayaan yang alkulturatif. Proses akulturasi ini bisa diamati dari beberapa peninggalan cagar budaya di Lombok seperti pura maupun masjid tua tradisional.

Perkembangan kebudayaan di Lombok mendapat pengaruh dari kebudayaan Islam dan Hindu dalam periode yang hampir bersamaan, yaitu pada pertengahan hingga akhir abad 16.Peradaban Islam di Pulau Lombok berkembang di bagian Utara dan Selatan Lombok. Sedangkan peradaban Hindu berkembang dari bagian Barat ke Timur Lombok.
Jejak-jejak peradaban Islam dapat dilihat dari peninggalan mesjid tua tradisional yang masih bisa ditemukan di Lombok bagian Utara dan Selatan. Misalnya saja, pada Masjid Rambitan dan Masjid Bayan Beleq. Mesjid- mesjid tua ini merupakan bukti keberadaan terjadinya sinkretisasi agama, antara Islam dengan Hindu yang mewujud kepada suatu ajaran Islam Waktu Telu.

Menurut Nur Alim, seorang juru kunci di Masjid Rambitan, Islam Waktu Telu mengacu kepada ajaran Islam yang meyakini tiga rukun Islam, yakni puasa, salat dan sahadat. Khusus untuk zakat dan menunaikan haji tidak dilaksanakan. Islam Waktu Telu ini menurutnya adalah sebuah upaya penyebaran agama Islam oleh para sunan yang berasal dari Jawa secara perlahan-lahan kepada penduduk Sasak. Tak heran jika saat itu, yang diperkenankan melakukan salat hanyalah kiai atau wali, sebagai perwakilan masyarakat sekitarnya. Masjid pun berfungsi sebagai tempat bersembahyang dan menetap kiai atau wali-wali tertentu.

Masjid tradisional Rambitan memiliki bentuk yang unik. Terdiri atas sebuah bangunan berbentuk limas dengan atap terbuat dari alang-alang atau bambu yang diikat dengan menggunakan tali tambang. Sementara dindingnya terbuat dari bambu yang dibelah dan dipasang terbalik. Pintu gerbang masjid dibuat rendah. Begitu pula pada pintu masuk masjid. Menurut Nur Alim, hal ini merupakan simbol agar setiap orang yang memasuki wilayah masjid merendahkan hatinya sebelum bertemu Sang Khalik.

Media Kesenian

Saat ini masjid Rambitan masih tetap digunakan sebagai tempat beribadah masyarakat sekitar Desa Rambitan. Menurut penduduk setempat, masjid tersebut menjadi tempat kunjungan wisata religi yang ramai didatangi terutama pada perayaan-perayaan keagamaan seperti Maulid Nabi. Selain Masjid Rambitan, ada juga Mesjid Bayan Beleg yang merupakan sisa peninggalan kebudayaan pada masa kolonialisasi dan Islam.

Masjid Bayan Beleg terletak di Sesa Bayan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara.
Menurut Raden Palasari, petugas penjaga Masjid Bayan Beleg, kata bayan memiliki arti nyata sedangkan beleg artinya besar. Jadi, Bayan Beleg berarti nyata-nyata besar. Masjid ini didirikan oleh Sunan Pengging atau Pangeran Mangkubumi pada tahun 1640 setelah melarikan diri akibat kalah peperangan melawan Raja Gowa. Di Bayan, ia mengajarkan agama Islam Waktu Telu.

Image

Menurut Raden, penyebaran agama Islam di desa Bayan menggunakan kesenian. Para kiai, yang berjumlah 44 orang, melakukan dakwah agama Islam dengan menggunakan media kesenian seperti cupak gerantang (pertunjukan teater rakyat tradisional Lombok), suling dewa atau suling dewe (meniup suling untuk acara ritual adat), rudat (seni drama diselingi drama dan nyanyian), wayang dan prisihan (saling pukul dengan rotan).

Kesenian dalam hal ini merupakan media penyebaran dakwah yang mampu mendekatkan diri dengan masyarakat. Selain itu, proses penyebaran dakwah dengan media kesenian juga efektif untuk melestarikan kesenian tradisional yang ada pada masyarakat Lombok.

“Kesenian ini masih dipraktikkan hingga sekarang. Setiap perayaan Maulid Nabi atau acara keagamaan lainnya, warga masih melakukan kesenian tradisional di sekitar masjid Bayan Beleg,” katanya.

Lombok memasuki peradaban Hindu Buddha semenjak masuknya orang Bali ke Lombok dalam ekspedisi Anglurah Ketut Karangasem pada tahun 1692 Masehi. Orang- orang Bali ini kemudian menyebarkan kebudayaan Hindu Buddha di tengah masyarakat Pulau Lombok, salah satunya dengan membangun pura peribadatan.

Pura Lingsar yang terletak di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat merupakan pura terbesar dan tertua di Lombok. Dibangun tahun 1714 oleh Raja Anak Agung Ketut Karangasem, pura ini merupakan bukti awal kedatangan orang-orang Bali ke Lombok.

Menurut penjelasan Dende, salah satu petugas di Pura Lingsar, pada akhir Abad 19 Raja Karangasem membangun dua bangunan tempat ibadah untuk dua agama yang berbeda, yakni Islam Waktu Telu dan Hindu.

Image

“Pembangunan Pura Lingsar oleh Raja Ketut Karangasem dimaksudkan untuk menyatukan secara batiniah Masyarakat Sasak dengan Bali,” katanya menjelaskan.

Jejak Kebudayaan

Tak heran jika dalam satu kompleks Pura Lingsar yang luas terdapat beberapa bagian yang terdiri atas pura peribadatan untuk masyarakat penganut agama Hindu dan masjid di areal Kemaliq Linggar untuk masyarakat penganut agama Islam Waktu Telu. Dua bangunan untuk penganut agama yang berbeda ini menunjukkan sudah terdapatnya sikap toleransi dan saling menghormati yang tinggi antarpenganut agama berbeda pada masa itu.

“Ciri khas Pura Lingsar adalah mata airnya yang mengalir tanpa batas,” ujarnya menunjuk ke sebuah areal yang dibatasi oleh pagar berisi empat keran air terbuat dari bebatuan yang airnya mengucur tanpa henti.

Mata air ini dalam bahasa Bali disebut dengan telaga ageng, sementara bahasa Sasak disebut aik mual. Air ini kata Dende diyakini oleh warga sekitar mampu menyembuhkan bermacam penyakit karena asalnya langsung dari pegunungan. Tak heran banyak pengunjung yang datang untuk merasakan langsung khasiat air jernih ini.

“Kalau masuk waktu salat, mata air ini sering digunakan untuk mengambil air wudu,” ujarnya.

Selain Pura Lingsar, salah satu jejak peninggalan kebudayaan Hindu Buddha adalah Pura Mayura. Nama Mayura menurut bahasa Sansekerta berarti burung merak. Pura ini dibangun oleh Made Karangasem pada tahun 1744 dengan nama Taman Kelepug. Pada tahun 1866, taman ini direnovasi oleh seorang raja Mataram bernama Ngurah Karangasem dan namanya diubah menjadi Pura Mayura. Pura ini juga merupakan bukti alkulturasi Hindu Islam. Terbukti dengan adanya patung-patung pemeluk agama Islam dan Hindu saling bersalaman di sebuah tempat yang dikelilingi air dari empat penjuru, disebut Bale Kambang.

“Bale Kambang digunakan untuk mengadili suatu perkara pada zaman penjajahan Belanda,” ujar Made, petugas di Pura Mayura.

Jejak peninggalan budaya pada masa Hindu Buddha dan Islam yang ada di Lombok tersebut merupakan potensi kekayaan khasanah budaya masyarakat Lombok. Dari jejak kebudayaan itu terlihat bahwa sejak dulu masyarakat Lombok sudah menerima berbagai bentuk keragaman dan bisa menjadi suatu contoh semangat kerukunan antarumat yang berbeda latar belakangnya.

Oleh karena itu, seyogyanya pembangunan dan pengembangan masyarakat Lombok –di mana pemerintah daerah Lombok kini tengah gencar-gencarnya mempersiapkan diri dengan tujuan meningkatkan ekonomi kreatif rakyat dan rencana investasi pariwisata 2012 – jangan sampai melupakan aspek vital pembentuk identitas masyarakat Lombok itu sendiri: warisan budaya. Budaya termasuk di dalamnya benda cagar budaya, instrumen tradisi, dan adat kesenian rakyat yang membentuk keseluruhan Lombok mesti selalu mendapat tempat dan diperhatikan pengembangan dan pembinaannya.

Eksibisi di Areal Publik

Seiring berkembangnya teknologi dan budaya kapitalisasi di tengah masyarakat urban perkotaan, hasrat untuk mempelajari sejarah bangsa pun semakin menipis. Budaya jalan-jalan di mal, membuat masyarakat perkotaan semakin enggan menyisihkan waktunya untuk berkunjung sebentar ke museum untuk memperlajari sejarah bangsa. Terkadang alasan mereka, selain dinilai tidak menarik, juga persoalan terbatasnya waktu.

Manusia era masa kini memiliki waktu yang semakin terbatas di antara tumpukan kegiatan yang mesti diselesaikan. Untuk menggali minat kembali masyarakat dan mengingatkan kembali memori mereka mengenai peristiwa sejarah di masa lalu, diadakanlah pameran Warisan Budaya Indonesia: rekaman Jejak Budaya Bangsaku di Mal Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB.

Pameran di mal ini, menurut Surya Helmi, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bertujuan untuk menyosialisasikan pentingnya nilai-nilai purbakala dan menjelaskan kepada masyarakat mengenai warisan nenek moyang yang perlu diketahui. Sebelumnya, pameran warisan budaya Indonesia di ruang publik juga telah diadakan di Makassar dan Surabaya.

“Mal kami nilai sebuah tempat publik yang strategis agar minat masyarakat bisa diarahkan untuk mempelajari warisan nenek moyang. Mereka bisa sambil lalu ketika jalan-jalan di mal bersama keluarga atau rekan. Saat ini perlu jemput bola di masyarakat agar budaya tetap menjadi perhatian mereka,” katanya.

Dalam Pameran ini pengunjung mal bisa mengetahui sejarah perkembangan kebudayaan di Indonesia mulai dari zaman prasejarah, Hindu, Buddha, hingga Islam atau kolonial. Peninggalan Kebudayaan pada zaman prasejarah seperti kawasan Sangiran, kawasan Prasejarah Maros dan Pangkep, situs Gunung Padang, situs Leang Bua serta Kawasan Megalitik Nias. Sementara, peninggalan kebudayaan pada zaman Hindu Buddha seperti kompleks Candi Borobudur, kawasan Candi Prambanan, Situs Percandian Muara Jambi, Kawasan Trowulan, serta Pura Lingsar. Sedangkan peninggalan pada masa kolonial atau Islam di antaranya adalah Masjid Raya Baiturrahman, Mesjid Agung Demak, Benteng Ujung Pandang Fort Rotterdam, Istana Tua Sumbawa, Makam Dantraha, Makam Tolobali, Masjid Rambitan, Mesjid Pujut, dan Mesjid Bayan Beleg.

Pengunjung yang memenuhi Mal Mataram tampak antusias berkeliling tempat displai pameran. Misalnya saja Itok, yang berkunjung ke mal bersama dengan dua anak perempuannya. Ia sedari tadi menjelaskan kepada kedua anaknya mengenai sejarah Pura Lingsar, yang merupakan warisan budaya asal Lombok.

“Jadi, dari dulu umat beragama sudah hidup rukun satu sama lain, ya,” katanya kepada kedua anak-anaknya menunjuk sebuah masjid yang terletak di areal pura.

Menurutnya, pameran budaya di mal merupakan kegiatan menarik untuk dilihat karena bisa menambah wawasan kepurbakalaan atau sejarah. Sambil mengajak anak-anaknya belanja di mal, dia bisa sekaligus melihat-lihat pameran budaya.

“Saya pikir ini alternatif yang menarik ya, kadang datang ke museum malas. Bosan. Isinya itu-itu aja. Kalau di mal gini, kan jadi beda,” tuturnya.

***

utamidk@jurnas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s