Review: Bangkitnya Batman


| Minggu, 29 Jul 2012

Setiap orang memiliki ketakutannya tersendiri akan kematian. Namun, apa jadinya jika ketakutan ini lantas diolah menjadi sebuah daya pendorong untuk menolong orang yang lemah? Coba simak saja di Batman: The Dark Knight Rises.

utamidk@jurnas.com

“SAYA tidak takut (akan kematian). Saya marah,” ujar Bruce Wayne alias Batman (Christian Bale) sebelum ia memutuskan untuk memanjat tembok penjara Blackgate yang konon tak pernah bisa dipanjat kecuali oleh seorang bocah kecil kesekian kalinya. Wayne dicebloskan ke penjara oleh penjahat Blackgate yang juga anggota Organisasi Bayang-Bayang, Bane (Tom Hardy).

Rasa takut Wayne yang kemudian diolah menjadi sebuah amarah akhirnya menolongnya keluar dari penjara Blackgate. Hanya ada dua pilihan ketika itu baginya: mencoba terus dengan risiko mati menubruk dinding batu atau tidak mencoba, tetapi hidup tanpa pengharapan. Ia memutuskan memilih yang pertama dan sukses. Wayne mencoba memanjat dinding penjara tanpa bantuan tali atau pengaman sama sekali. Ia seolah-olah memasrahkan dirinya sama sekali pada tangan-tangan kematian. Meski nyatanya ia justru sedang memusatkan pikirannya untuk berhasil keluar, alih-alih takluk oleh rasa takut akan kematian.

Tak hanya itu, iapun berhasil menyelamatkan Kota Gotham akibat determinasi keluar dari kubangan kegagalan dengan mengandalkan amarah secara positif dalam dirinya.

Sebelumnya, Wayne terpuruk ke dalam lubang gelap. Ia bahkan memutuskan tak mau keluar dari keadaan itu dan memilih untuk menyembunyikan diri di rumah karena kecewa atas apa yang diberikan hidup dan kegagalan menyelamatkan orang-orang yang disayangi termasuk sang kekasih. Rasa bersalah yang terlampau mendalam menyebabkan Wayne memberlakukan hukuman pada dirinya sendiri dengan mengasingkan diri.

Namun, dalam prosesnya menghukum diri tersebut, Wayne mendapatkan pencerahan terutama mengenai rasa sakit dan penderitaan yang dialaminya sebagai seorang Batman (yang ironisnya saat itu adalah musuh masyarakat). Bahwa penderitaan dan kesakitan akan membuat orang tumbuh semakin kuat — seperti kata pepatah apa yang tidak bisa membunuhmu akan menjadikanmu kuat — dan bahwa ia harus melakukan satu hal: bangkit.

Film Batman Dark Knight Rises merupakan lanjutan dari dua episode Batman sebelumnya, Batman Begins (2005) dan Dark Knight (2008). Film ini disutradarai Christopher Nolan, yang pernah menyutradarai film Memento (2000) dan Inception (2010). Sementara naskahnya ditulis oleh sang adik, Jonathan Nolan, bersama dengan David S Goyer dan Christopher sendiri. Awalnya, Christopher enggan membuat sekuel ketiga dari film Batman, namun akhirnya dia sepakat membuat trilogi Batman setelah membuat naskahnya bersama Jonathan Nolan — ia merasa Dark Knight Rises akan memberikan hasil akhir memuaskan bagi kedua film sebelumnya.

“Ada sebuah pemahaman bagi beberapa tokoh, misalnya Batman ataupun Komisioner Gordon, bahwa pengorbanan harus dibuat untuk menyelamatkan Kota Gotham. Dan untuk membuahkan hasil, hal tersebut butuh waktu, proses, dilakukan terus-menerus dalam waktu lama. Mereka harus mencapai sesuatu untuk akhir film itu dan perasaan di akhir film mereka mendapatkan validitas. Pengorbanan ini mesti memiliki makna. Makanya, kami butuh waktu lama untuk menemukan semua formulasi tersebut,” kata Christopher Nolan pada situs film collider.com.

Dalam film Dark Knight Rises ini, Christopher menampilkan sosok penjahat yang memiliki karakter berbeda dengan tokoh Joker dalam Dark Knight (2008). Jika Joker (Heath Ledger) digambarkan sebagai tokoh gila, tak bisa diprediksi, cerewet, penuh kekacauan, dan memiliki senyum ala setan, maka tokoh penjahat baru di film ini, yakni Bane (Tom Hardy) digambarkan sebaliknya: tak banyak omong, tersistematis, cerdas dan lebih merupakan tipe penjahat klasik dengan tubuh besar bak monster. Meski tokoh Bane lebih terlihat manusiawi dengan latar belakang psikologis mengapa ia berakhir sebagai seorang kriminal Kota Gotham.

Yang cukup mengesankan dalam film ini adalah bagaimana Christopher Nolan mengeluarkan potensi tiap tokoh, baik itu jahat atapun baik. Sehingga, setiap tokoh memiliki sisi hitam dan putihnya tersendiri dan menjadikan film pahlawan super ini terasa lebih realistis dan manusiawi dibanding film-film sejenis lainnya. Misalnya saja, tokoh polisi Foley (matthew Modine) yang idealis, namun ketika penjahat menyerang dan kota berada di titik paling kritis justru ia bersembunyi di rumahnya.

Ataupun tokoh Miranda Tate (Marrion Cotillard) pengusaha yang mengadakan proyek idealis ‘Energi Bersih’ namun ternyata penjahat yang mempersiapkan pembunuhan dan penghancuran Kota Gotham dan warganya. Sedangkan Selina Kyle (Anne Hathaway — sayangnya tidak terlalu ‘kuat’ untuk peran Selina yang licik dan oportunitis), awalnya merupakan tokoh perempuan pencuri dan terkesan apatis atas orang lain, namun ketika bencana datang justru mau menolong Kota Gotham.

Penggambaran tokoh-tokoh yang tidak terjebak ke dalam karakterisasi oposisi biner antara si baik versus si jahat ini, merupakan kekuatan film Dark Knight Rises. Christopher seperti hendak mengatakan bahwa setiap orang berpotensi baik menjadi ‘pahlawan’ ataupun ‘penjahat’ tergantung bagaimana pilihan seseorang pada akhirnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s