Teater, Tradisi dan Dikotomi Kebudayaan


Teater, Tradisi, dan Dikotomi Kebudayaan

Jurnal Nasional | Minggu, 15 Apr 2012

 

Indonesia bukan saja membela kebudayan lokal, tetapi sekaligus menghargai dan menegakkan pluralitas kebudayaan.

Utami Diah Kusumawati

utamidk@jurnas.com

ADA dua (jenis) Indonesia. Begitu kata budayawan Jacob Sumardjo dalam sebuah acara diskusi Teater Membaca Tradisi yang diselenggarakan di lobi Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, beberapa waktu lalu. Dua Indonesia itu adalah yang urban dan yang lokal. Mereka yang urban berkembang di kota-kota modern, berbahasa kesatuan Indonesia, hidup dari makan gaji, berpola pikir global modern, berpendidikan Barat. Sementara mereka yang lokal hidup di luar kota atau perdesaan, berbahasa lokal, hidup dari produksi pertanian atau peramu, berpola pikir kesukuan dan penduduknya homogen.

“Perbedaan antara yang urban dan lokal itu menghasilkan perbedaan pemikiran dalam memaknai suatu produk kebudayaan. Produk kebudayaan tua berasal dari mereka yang lokal sementara kebudayaan baru lahir dari mereka yang urban,” kata Jacob.

Menurut Jakob, produk kebudayaan tua yang lahir dari rahim lokalitas biasanya berkaitan dengan budaya-budaya tua, primordial dengan pembacaan yang kosmosentris, religius, tradisional, logika religius-magis, dan cenderung spiritualistik. Sementara produk kebudayaan baru Indonesia, terutama setelah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, cenderung antroposentris, sekuler, modernis, logis, materialistis, serta berorientasi kapitalis. Perbedaan tersebut menurut Jakob merupakan sebuah kekayaan atau keragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Sayangnya, seiring berkembangnya zaman, perlahan-lahan mereka yang lokal terpinggirkan dan tersisihkan oleh kuasa budaya yang lebih baru muncul di perkotaan.

“Dengan derasnya arus modernisasi penduduk kota, maka keberadaan keberagaman budaya ini akan sempurna dimatikan,” kata Jacob.

Persoalan dikotomi ini tidak hanya disadari oleh para budayawan tetapi juga oleh para pelaku seni yang berkiprah di dunia pertunjukan di tanah air. Menurut Radar Panca Dahana dalam salah satu tulisannya, Teater Segala yang Mungkin (dari Multikulturalisme hingga Kemenduaan Teater Indonesia), gaya seni pertunjukan kemudian terbagi menjadi dua yakni mereka yang berpola kesenian penghayatan spiritualitas (teater tradisi, lokal) dan intelektualitas (teater modern, Barat).

Teater tradisional biasanya berangkat dengan bentuk yang lebih cair, spontan, serta tak teratur yang memungkinkan para pemainnya untuk berimprovisasi setinggi mungkin dalam mengolah dialog di atas panggung. Sementara teater modern yang berangkat dari gaya pertunjukan Barat memiliki dramaturgi, sinkronisasi antara satu bagian dengan yang lainnya, serta berorientasi logika.

Gerakan penggalian budaya lokal telah lama dilakukan oleh dramawan Indonesia semenjak tahun 1960 seperti diantaranya dilakukan oleh Arifin C Noer, Rendra, Putu Wijaya, Ikranegara, Suyatna Anirun, Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Saini KM, serta N Riantiarno dan dipentaskan ke atas panggung. Pada generasi yang lebih muda, beberapa praktisi teater juga berupaya menggali lokalitas untuk ditampilkan di perkotaan, seperti di antaranya Butet Kartaredjasa dengan Indonesia Kita yang di dalamnya mengangkat pelaku seni dari daerah yang ditampilkan dalam sebuah acara pertunjukan dengan kemasan modern. Iswadi Pratama yang mengolah ruh teater tradisi ‘warahan’ Lampung ke dalam bentuk teater modern. Yudi Ahmad Tajudin dari Teater Garasi yang menggarap, misalnya, kesenian tradisional Tarling-Indramayu dalam pertunjukan ‘Tubuh Ketiga’ dan nama-nama lainnya. Bentuk penggalian ini bisa hadir dengan mengambil napas ruh bentuk teater tradisi, menampilkan seniman lokal langsung ke
perkotaan, hingga mengolah persoalan kebudayan di daerah untuk dikaitkan
dengan modernitas.

Bisri Effendie, antropolog LIPI yang sering meneliti kebudayaan mengatakan, kita tak akan sanggup mendirikan kebudayaan baru belaka, yang tidak berhubungan dengan waktu silam. Kebudayaan baru itu bersendikan kebudayaan lama. Konektivitas itu yang menghasilkan perpaduan antara irasionalitas dan rasionalitas, spiritualitas-intelektualitas, pembelajaran atas multikulturalisme, serta interaksi sosial.

“Ada beberapa pandangan dan sikap terhadap tradisi. Dua yang terpenting adalah mereka yang melihat tradisi dan kebudayaan tak ubahnya seperti artefak, benda mati, hasil kejayaan leluhur yang pantas dimuseumkan dalam bentuk teks tertulis. Lalu yang satunya lagi, percaya bahwa tradisi dan kebudayaan merupakan produk dari interaksi sosial kehidupan yang selalu dinamis. Tetapi, semestinya kita tak terjebak ke dalam dikotomi kebudayaan antara yang lalu dan yang sekarang,” katanya.

Bagi Bisri, tradisi merupakan sebuah instrumen dalam komunitas yang dapat melakukan kontak baik politik, ekonomi, serta budaya. Hidup adalah sebuah keberagaman, sehingga pemahaman akan sesuatu yang di luar ‘kebaruan’ diperlukan agar tidak terjadi keseragaman (homogen). Dalam ranah pertunjukan, proses pembacaan tradisi (serta interaksi sosial yang melingkupinya) menjadi hal yang tak terhindarkan. Seperti dikutip oleh Bisri dari perkataan Gus Dur, teater berangkat dari pengamatan atas kehidupan sosial masyarakat. Kalau tidak ada, maka tidak perlu ada teater.

“Dengan mengapresiasi tradisi lokal yang selama ini menjadi bagian penting dalam pertarungannya dengan kebudayaan homogenitas, teater di Indonesia bukan saja membela kebudayan lokal, tetapi sekaligus menghargai dan menegakkan pluralitas kebudayaan,” ujarnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s