Suku Bajo Tergerus Pusaran Zaman


Suku Bajo Tergerus Pusaran Zaman

Ketika berkunjung ke perkampungan suku Bajo  di desa Holimombo kabupaten Buton, matahari  masih berada tepat di atas kepala. Kali ini,  siang terasa terik setelah sebelumnya hujan  deras mengguyur daerah kepulauan di Sulawesi  Tenggara. Nampak beberapa perahu berukuran  sedang terbuat dari papan masih ditambatkan di tiang-tiang kayu diantara rumah panggung dan batu warga Bajo. Sementara jalanan semen yang  dibuat menghubungkan pemukiman Bajo dengan bibir pantai lengang. Beberapa anak kecil berlarian di ujung jalan dan menghilang di balik rumah.  Tak lama terdengar bunyi kecipak air. Mereka  terjun ke dalam air laut di bawah rumah mereka dan berenang dengan asiknya untuk memburu ikan baronang.

Jalanan semen yang ada di perkampungan Bajo tersebut telah dibangun sejak tahun 1955. Saat itulah, hubungan antara warga Bajo dengan daratan secara resmi telah dibuka. Jalan itu menghubungkan desa Holimombo dengan pemukiman warga Bajo, suku laut yang senang tinggal secara nomaden. Sebelumnya, warga Bajo yang kini disebut Bajoberese tersebut tinggal di sekitar pesisir daerah Pasarwajo. Mereka berlayar dari Bone dan sempat menetap di Bau-Bau. Di Pasarwajo, selain mereka menangkap ikan dan hasil laut, suku Bajo itu mengadakan hubungan dengan para warga darat atau penduduk gunung. Mereka bertukar hasil tangkapan laut dengan hasil bercocok tanam di Pasarwajo. Namun, tak lama kemudian mereka pindah ke daerah Holimombo dan disitulah hubungan dengan darat secara resmi dibuka.

“Suku Bajo di Holimombo berasal dari Sulawesi Selatan lalu mereka pergi ke arah timur dan menetap di Bau-Bau. Di sana diabadikan dengan membangun waduk pelabuhan nenek moyang. Mereka lalu berpindah tempat untuk mencari perekonomian yang lebih baik. Dari Bau-Bau, sasaran tempat berikutnya Pasarwajo, di mana diadakan pertemuan suku Bajo dengan orang darat. Karena ekonomi memadai, maka dibangunlah pemukiman adat dusun Bajoberese setelah mereka pindah dan memutuskan menetap di desa Holimombo, “ jelas Simaha (62), tokoh adat desa Holimombo kabupaten Buton, ditemui Jurnal Nasional di pemukiman Bajoberese Sulawesi Tenggara dalam rangka kunjungan Arung Bahari VI Kementerian Budaya dan Pariwisata Indonesia.

Suku Bajo adalah salah satu suku laut yang dimiliki oleh Indonesia. Menurut tulisan perjalanan antropolog Perancis Francois Robert Zacot berjudul Orang Bajo: Suku Pengembara Laut Pengalaman Seorang Antropolog, dikatakan bahwa dari legenda Bajo Sulawesi Selatan suku ini dipercaya berasal dari sebutir telur. Ada juga legenda lain yang mengatakan bahwa di tempat orang Bajo dulu tinggal, banyak burung bertelur di atas pohon sehingga semua pohon tumbang dan menyebabkan banjir. Orang Bajo lantas memakai kayu pohon tersebut untuk membuat perahu agar bebas banjir. Inilah cerita yang mendasari kenapa orang Bajo lekat dengan sebutan manusia perahu (suku laut yang senang tinggal di soppe).

Selain legenda telur, ada juga kisah yang mengatakan bahwa asal muasal suku ini bermula dari seorang puteri kerajaan Johor yang kabur dari Johor, menetap di Sulawesi dan menikah dengan suku Bugis. Mereka akhirnya menetap di daerah Bajo yang akhirnya menjadi sebuah suku laut tersendiri bernama suku Bajo. Tak heran jika banyak yang mengaitkan Bajo baik dengan Johor ataupun Bugis. Bahkan, konon Raja Johor, ayah sang Puteri, memiliki keyakinan “Orang Bugis adalah kakak lelaki, dan orang Bajo adalah Adik Perempuan.” seperti ditulis Syamsuddin Ch. Haesy dalam kolom Jurnal Nasional.

Namun, terlepas dari apakah suku Bajo berasal dari sebuah telur atau perbauran dua budaya Bugis dan Johor, suku Bajo telah terkenal semenjak abad 16 sebagai sebuah sea nomads, yakni suku laut yang senang berpindah-pindah tempat. Mereka menyisiri lautan dengan rumah perahu mereka (soppe) dan hidup diatas rumah perahu. Interaksi mereka lakukan di laut seperti beranakpinak, tidur, dan makan meski tak jarang juga di daratan untuk berjualan hasil tangkapan laut. Bahkan, mereka telah lama terlibat dalam arus perdagangan internasional dengan menjual hasil-hasil tangkapan laut mereka, misalnya ke Australia.

“KALAU MELAUT SAYA BISA SAMPAI KE NUSA TENGGARA TIMUR NAIK PERAHU KECIL. LAMANYA 1-2 BULAN. BIASANYA MENGGUNAKAN BENSIN 80 LITER TAPI GAK BISA SALAH JALAN, HARUS BENAR-BENAR TAHU RUTE. KALAU JAUH BEGITU HABIS MELAUT SAYA ISTIRAHAT SEHARI SEBELUM MELAUT LAGI. BIASANYA KALAU MELAUTNYA LAMA DAPAT KOTOR 2 JUTA DAN BERSIHNYA 800 RIBU. TAPI GAK SELAMANYA MELAUT DAPAT HASIL, KADANG GAK DAPAT APA-APA JUGA. SEMENTARA PEREMPUANNYA JUGA SUKA MELAUT, BIASANYA MENCARI TERIPANG ATAU LOLA (KERANG), ” KATA LAMTIMO (52) WARGA BAJO BERESE.

Zacot mengatakan dalam bukunya, kehidupan setiap pelaut terutama Bajo merupakan jalinan dari berbagai keberangkatan, ketidakhadiran dan resiko. Bagi masyarakat Bajo, kehidupan sangat dinamis mulai dari pikiran yang bisa tiba-tiba berubah saat melaut, peran khusus anak-anak, jadwal yang menentukan kegiatan, rute-rute laut yang harus diperhatikan sampai tempat-tempat bermukim baru yang mesti ditemukan. Pola nomaden inilah yang kemudian menjadi psikologis dari suku Bajo, bahwa kehidupan ibaratnya angin yang berubah-ubah. Dalam satu wawancara saya dengan salah satu suku Bajo, mereka berkata, “di mana ada angin di situlah kekuatan kita.”

Kebanggaan atas kehidupan dilaut inilah yang membentuk kepercayaan diri yang tinggi suku Bajo terhadap kearifan lokal mereka tentang laut. Mereka telah belajar mengenai laut dalam cara-cara unik yang berbeda bahkan dengan nelayan sekalipun. Dalam laporan Zacot dikatakan mereka bangga dan haru atas kemampuan mereka untuk kebal setelah mandi air laut, konon bisa berjalan diatas laut, dan juga bernostalgia atas kejayaan suku Bajo masa lampau sebagai bangsa laut yang tak terkalahkan. Oleh karena itulah, suku Bajo zaman dahulu, banyak yang tidak mau untuk menetap di daratan, karena seperti ditulis oleh Zacot, mereka menolak untuk tunduk pada kekuasaan apapun juga. Selain itu, hidup dengan tata cara darat berarti tunduk dan pasrah, tentunya berlawanan dengan kebanggaan diri mereka.

Namun, iklim di Indonesia yang akhir-akhir ini tidak menentu, menjadi sebuah tantangan baru tersendiri bagi suku Bajo. Banyak pelaut Bajo yang pulang melaut tanpa membawa hasil, hilang di tengah lautan akibat gelombang besar, serta terbelit kemiskinan. Di satu pihak, pertemuan mereka di titik-titik yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan suku daratan membuat mereka sadar: butuh sebuah proses adaptasi agar keberlangsungan mereka tetap ada. Kehidupan suku gunung dan penduduk di daratan yang jauh lebih menentu menjadi sebuah godaan tersendiri bagi mereka. Terlebih, semenjak kasus di Berau, di mana 100 orang lebih suku Bajo ditangkap dan dipaksa tinggal di wisma departemen sosial karena tidak memiliki KTP (kartu tanda penduduk) dan dianggap penduduk ilegal, muncul sebuah traumatis dalam diri penduduk Bajo. Mereka enggan termarjinalkan dalam lingkup pergaulan sosial di mana mereka butuh untuk hidup dan bertahan. Terlebih, ketika kondisi laut dan daya dukung habitat mereka tidak sepenuhnya mendukung.

Melihat situasi ini yang kritis atas keberlangsungan para nelayan akibat cuaca tak menentu, pemerintah dibawah Kementerian Perikanan dan Kelautan mulai menggulirkan bantuan. Hasrun, seksi perencanaan dinas perikanan dan kelautan kabupaten Buton, mengatakan pemerintah daerah memberikan dua bantuan kepada suku laut Bajo seperti penguatan usaha dan struktur armada dan pemberdayaan. Penguatan usaha dan struktur armada berupa pemberian alat tangkap seperti jaring dan keramba sebesar 30 juta ataupun bantuan dana untuk kapal sebanyak 300-800 juta. Dana itu kemudian akan dikelola oleh suku Bajo untuk disesuaikan dengan kebutuhan kapal mereka.

Tak hanya itu, dinas perikanan dan kelautan juga mengajarkan tentang pemeliharaan ekosistem laut seperti terumbu karang dan mencanangkan program bank ikan, yakni daerah tertentu yang ditetapkan sebagai zona bebas menangkap ikan atau Daerah Perlindungan Laut (DPL). Dengan adanya program ini, Hasrun mengatakan, suku Bajo tidak diperbolehkan menangkap ikan pada lokasi yang telah ditetapkan. Namun, dengan demikian, produksi ikan di lokasi tersebut akan meningkat dengan tajam sehingga akan menguntungkan masyarakat pesisir juga.

“Dinas memberikan bantuan kapal untuk digunakan menangkap kerapu dan tuna. Mereka akan belajar berwirausaha dari sini. Mengenai DPL memang ada pro dan kontra, sih dari suku Bajo karena daerah tangkapan mereka berkurang. Tetapi khusus untuk populasi ikan karang malah jadi meningkat. Inti program ini sih sebenarnya gimana memberdayakan masyarakat pesisir dan mengajak masyarakat pesisir untuk turut menjaga kelestarian dan ekosistem laut,”jelasnya.

Namun, menanggapi bantuan pemerintah tersebut, Dedi S. Adhuri, peneliti di kelompok studi maritim pusat penelitian kemasyarakat dan kebudayaan LIPI bersikap skeptis. Menurutnya, kebijakan dan pemerintah terutama berkaitan dengan suku laut masih bersikap sektoral. Dalam hal ini, kebijakan tentang suku laut masih disamaratakan dengan masyarakat daerah pesisir atau nelayan hanya karena mereka tinggal di pesisir dan menangkap ikan.

“Padahal kenyataannya kan tidak demikian. Suku Bajo jelas berbeda dengan nelayan. Apa yang menjadi psikologis mereka dengan nelayan juga berbeda. Kebijakan pemerintah saat ini gak ada yang dibuat berdasarkan kesukubangsaan dan etnositas. Akibatnya apa? Untuk jangka ke depan, keberlangsungan suku Bajo dan kearifan lokal yang mereka miliki bisa punah, seperti juga yang ditulis oleh Zacot dalam bukunya,” jelasnya.

Dedi menilai keputusan suku Bajo untuk akhirnya menetap di darat, diantaranya membuka jalan darat dengan penduduk desa, membangun rumah batu, dan mulai meniru cara hidup orang darat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kebencian atas pemerintah yang dianggap kurang memerhatikan mereka. Kedua, sukarela. Ketiga, butuh barang-barang pasar untuk bertahan hidup. Kalau hidup berpindah-pindah terus akan sulit mendapatkan barang pasar. Akhirnya mereka memilih untuk merapat ke darat. Keempat, tekanan kondisi laut seperti ombak laut membuat mereka beradaptasi atas kondisi laut. Sementara terjadi generation gap antara suku Bajo tua dan muda. Suku Bajo muda tak mampu bertahan dengan perubahan iklim tersebut.

“Pengetahuan suku Bajo saat ini tentang laut gak semulus untuk dipraktekkan seperti yang dipakai oleh nenek moyang mereka. Oleh karena itulah, terjadi adaptasi dengan daratan,”katanya.

Meski beberapa secara sukarela memilih untuk berhubungan dengan darat atau men’darat’, mereka masih memiliki kemampuan pengontrolan atas sumber-sumber darat yang masih

rendah. Mereka tidak bisa bercocok tanam dan tidak mengerti cara hidup orang darat. Sementara di pihak lain, kemampuan melaut mereka juga terbatas. Alhasil, kata Dedi, akses suku Bajo terhadap sumber daya daratan rendah sehingga ini menjadi masalah tersendiri juga buat mereka.

“Semestinya di titik ini ada bantuan kepada suku Bajo untuk perlindungan terhadap akses sumber daya di daratan. Mereka dibimbing dan jangan ditinggal karena telah lama tinggal di laut tentunya adaptasi dan proses transisi mereka akan berjalan lambat. Maritim culture mereka juga mestinya dibuka. Jangan hanya memberikan bantuan sebatas bertujuan untuk melestarikan terumbu karang atau meningkatkan hasil laut. Mereka bukan nelayan. Harus mengerti dan memberikan bantuan berdasarkan kebutuhan hidup masyarakat laut ini,”jelasnya.

Ia lantas menyaran kan diadakannya alternative livelihood, yakni pelajaran tentang mata pencaharian alternative yang bisa dilakukan oleh suku Bajo namun tetap berkaitan dengan laut. Tujuannya, agar mereka tidak ketergantungan pada satu sumber daya alam saja. Pemberdayaan rumput laut menjadi salah satu contoh yang cocok. Meski demikian, Dedi mengatakan tetap perlu ada pembimbingan karena suku Bajo memiliki jiwa pemburu yang penanganannya berbeda dengan mayoritas nelayan dan masyarakat pesisir.

Kegelisahan baik yang dirasakan oleh Dedi ataupun Zacot bukan sebuah alasan yang diada-ada. Perubahan secara tiba-tiba, termasuk iklim tidak menentu, pembauran dengan daratan, generation gap, sampai ketidakmampuan mengontrol sumber-sumber daya alam baru, membuat masa depan suku laut dan juga generasi mudanya menjadi tidak menentu arahnya. Di satu pihak, keinginan mereka untuk maju mengarahkan mereka pada pendidikan juga tawaran hidup menggiurkan di daratan. Di pihak lain, mereka adalah suku laut yang dikenal karena kearifan lokalnya atas laut, bersinggungan dengan seluruh elemen laut semenjak mereka dilahirkan, dan mencintai lautan sebagaimana diri dan kehidupan mereka sendiri. Mereka, sebagai suatu potret nyata adanya hubungan yang kuat antara alam dengan manusia, merupakan salah satu wajah kekuatan bahari Indonesia yang merupakan negara terdiri atas kepulauan ini. Jika identitas mereka hilang, apa lagi yang bisa diandalkan dari kebaharian negeri kita ini?

Utami Diah Kusumawari dimuat di koran Jurnal Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s