Matah Ati Melebur Batas


Image

Oleh Utami Diah Kusumawati

Menargetkan Penonton Generasi Muda, Tarian Klasik Langendriyan Mangkunegaran Dimodifikasi Moderen  

Dua orang penari dengan kostum khas Jawa Mangkunegaran masuk dari sisi kanan dan kiri panggung. Mereka sama-sama membawa satu buah pecut berukuran sedang hendak merepresentasikan kearogansian prajurit Belanda. Diiringi oleh lagu dari kelompok gamelan , mereka menari dalam gerakan Bedhoyo yang halus serta bermain pecut.

Namun, tak lama kemudian, tarian berubah menjadi sebuah gerakan street dance atau tari jalanan dengan koreografi yang lebih urban dinamis. Mereka melompat dan berakrobatik. Penonton yang memenuhi gedung Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, terutama mereka anak muda yang mengenal dekat koreografi urban, lantas bersorak.  

Inilah yang menjadi kelebihan dalam pertunjukan tarian kolosal Matah Ati yang terinspirasi oleh salah satu cerita epik sejarah budaya Jawa pada abad 17, yakni kisah cinta terjadi antara Raden Mas Said dan Rubiyah atau Raden Ayu Matah Ati. Matah Ati sendiri dibuka dengan adegan di mana Rubiyah duduk menghayal tetap kehidupan ningrat yang diidamkannya, lalu pertemuannya dengan seorang ksatria asal Surakarta, Raden Mas Said serta peperangan untuk melawan ketidakadilan antara penduduk Jawa dengan tentara VOC di mana Rubiyah menjadi pemimpin pasukan perang perempuan. 

Lakon Matah Ati dipilih dengan tujuan menginspirasi generasi muda lewat semangat juang melawan ketidakadilan serta mengindikasikan kesetaraan gender antara perempuan dan lelaki.  Meski ide cerita serta konsep dasar tarian diambil dari ranah tradisi Jawa klasik yang penuh pakem, namun penggarapannya cair tetap mengikuti perubahan zaman dan dibuat dalam atmosfer modern serta kekinian. Hal itu tampak pada modifikasi gerak tari Bedhoyo yang sudah jauh lebih dinamis dengan tempo cepat, tidak selambat seperti pada gerak asli klasiknya. Tak hanya itu, terdapat pula sisipan tarian dengan koreografi urban untuk menarik perhatian penonton dari generasi muda.

Selain dari segi tari, nuansa moderen juga terlihat pada aransemen musik serta penggarapan artistik. Pada musik, selain menyertakan kelompok gamelan klasik untuk menegaskan pakem musik Jawa, terdapat pula sentuhan jazz dari alat musik saxophone yang sesekali terdengar mengalun diantara adegan per adegan. Tak hanya itu, lagu Sudjiwo Tejo yang banyak mengalami modifikasi modern pun menjadi pilihan untuk mengantarkan lakon, diantaranya adalah Zaman Edan. Pada tampilan artistik, latar gambar pada bagian belakang panggung dibuat dengan teknik visual masa kini sekaligus kreatif.

Untuk mengeluarkan konsep kekinian pada artistik, Jay mengaku banyak menampilkan bentuk desain geometris pada artistik panggung.  Misalnya, pada adegan di mana Rubiyah yang ditarikan oleh Rambat Yulianingsih duduk menghayal dan tubuhnya mengeluarkan cahaya berbentuk geometris. Ia mengatakan mendapat inspirasi itu dari hasil riset berkunjung ke makam Rubiah dan menemukan banyak motif kain blambangan dengan pola geometris. Menurutnya, hal ini pantas ditonjolkan karena menunjukkan bahwa dalamkebudayaan Jawa bentuk geometris sudah banyak terdapat di luar bentuk desain ukiran yang lazimnya ditemukan dalam bentuk desain Jawa.

“Kami memang menargetkan pada generasi muda, oleh karena itu pertunjukkan dikonsepkan sesuai dengan kekinian meski pakemnya tetap kita jaga, yakni Langendriyan Mangkunegaran. Untuk riset, kita banyak baca dari buku harian Mangkunegaran serta konsultasi sama dosen sejarah,”kata Jay Subyakto usai pementasan perdana Matah Ati pada tanggal 12 Mei silam.

Untuk mempertahankan pakem, para penari yang berjumlah kurang lebih 150 orang dilatih secara khusus oleh koreografi tari Daryono, Nuryanto serta Eko Supendi. Menurut produser sekaligus penulis naskah Atilah Soeryodjaya, formasi tari sudah dikonsepkan oleh para dosen tari Institut Seni Indonesia Solo. Meski demikian, tarian klasiknya telah dimodifikasi sesuai dengan konsep tari yang mereka usung sejak pertama kali, yakni modern kekinian.  Sama halnya dengan kostum yang dipakai oleh para penari. Busana batik yang didesain khusus oleh desainer batik Iwan Tirta tersebut mengambil tradisi kain batik asal Mangkunegaran.

“Bajunya sih kita repro dari model desain asli batik khas Mangkunegaran,”jelas Atilah.

Sementaran para penari bergulat dengan tarian Bedhoyo modifikasi, mereka juga mesti bertahan dengan menari di atas panggung yang tidak datar melainkan miring dengan sudut 15 derajat. Fajar Satriadi, pemeran Raden Mas Said, mengatakan mesti bertumpu pada jari kaki sebagai pengerat di lantai dan penjaga keseimbangan pada bidang miring. Sementara Ramabt Yulianingsih mengaku sering terpeleset saat latihan karena di samping menjaga keseimbangan ia juga mesti bermain sampiran. 

Ide untuk menari di atas panggung miring ini datang dari Jay dan memang salah satu kekhasan dari tata artistik panggung Jay Subyakto.Sebelumnya lelaki ini juga menggunakan teknik bidang miring pada beberapa pementasan diantaranya pertunjukkan Semesta Raya Indonesia dan konser fesyen. Jay mengaku sempat diprotes oleh para penari apalagi mereka mesti menarikan tarian Bedhoyo dalam tempo lebih dinamis. Namun, Jay berargumentasi siasat ini digunakan olehnya justru untuk keunggulan para penari sendiri.

“Dengan bentuk miring itu, penonton kan jadi bisa lebih melihat dengan jelas formasi atau bentuk koreografi tari di atas panggung. Misalnya ketika adegan perang antara prajurit Belanda dengan Jawa, semua gerakan penari jadi tampak. Lagipula gak ada suatu pertunjukkan di sini yang bagus kalau gak susah,” jelasnya.

Tetapi memang argumentasi Jay pada akhirnya terbukti. Saat menonton, bentuk formasi tari serta koreografinya terlihat lebih hidup dan berbentuk dengan para penari bersisian atas dan bawah di atas bidang miring. Tarian perang dengan komposisi yang dibolak-balik antara petani Jawa dengan prajurit Belanda menjadi indah untuk dilihat, tentunya esensial dalam sebuah pertunjukkan tari kolosal yang berpotensi untuk dibawakan di kancah internasional.  

 

 

 

 
 

Satu pemikiran pada “Matah Ati Melebur Batas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s