Ken Zuraida dan Proyek Mastodon Burung Kondor


Image

Foto. Dok. Antara

Ken Zuraida dan Proyek Mastodon Burung Kondor

Sore itu, jalan dari Jakarta menuju kota Depok macet. Jalanan macet terutama ketika melewati kawasan mall yang letaknya berhadap-hadapan satu sama lain. Namun, setelah melewati terminal Depok dan berbelok ke kanan, menuju desa Cipayung, jalanan mulai lengang dan menyempit. Hanya ada beberapa mobil serta mikrolet menyusuri jalan yang berliku-liku tersebut. Mobil kemudian berbelok kiri memasuki sebuah lapangan menyerupai areal hutan seluas dua hektar lebih dengan beberapa padepokan bergaya Lampung di dalamnya. Inilah tempat di mana Bengkel Teater Rendra bermukim. Tempat ini didirikan semenjak tahun 1987 oleh Rendra dan isterinya, Ken Zuraida dan menjadi saksi bagaimana pertumbuhkembangan para pemain teater yang didirikan semenjak tahun 1967 di Jogjakarta.

Ketika berkunjung datang ke Padepokan Bengkel Teater Rendra, tampak para pemain, beberapa familiar beberapa lagi tampak wajah baru, sedang berlatih untuk persiapan pentas naskah Mastodon dan Burung Kondor yang penuh dengan dialog orasi. Awan Sanwani yang sore itu mengenakan baju berwarna kuning menyala terlihat mengacung-acungkan tangannya sembari mengucapkan pidato politik terkait perannya sebagai kolonel Max Carlos, seorang tokoh otoriter dari kalangan militer yang mengagung-agungkan ketertiban di atas kebebasan personal. Sementara, Budi Mardono serta Iwan Burnani duduk atas bangku bambu menunggu giliran mereka tampil di atas panggung. Kondisi Padepokan Bengkel Teater sendiri tidak banyak berubah sepeninggal Rendra dua tahun lalu menurut seorang teman. Sampai kini, tempat tersebut masih tetap rindang juga menawarkan kesejukan.

Menilik sejarahnya, naskah Mastodon dan Burung Kondor pernah dipentaskan oleh Bengkel Teater dengan Rendra sebagai pemain utama pada tahun 1973 di tiga kota Jakarta, Jogjakarta, serta Bandung. Setelah dilarang untuk dipentaskan oleh karena alasan politik, naskah itu pun tak pernah bersinggungan dengan panggung. Padahal, naskah Mastodon dan Burung Kondor merupakan salah satu naskah terbaik yang dipentaskan oleh Bengkel Teater Rendra sama halnya dengan naskah-naskah lain seperti Lakon-Lakon Perjuangan Suku Naga, Sekda, atau Panembahan Reso.

Dalam naskah ini sang dramawan memetaforakan perusahaan-perusahaan besar atau kekuatan mayoritas dengan mastodon, dan mereka yang terpinggirkan atau masyarakat kelas bawah dengan sebutan burung kondor. Tokoh utama dalam naskah ini adalah Jose Karosta, seorang seniman dan juga aktivis kampus yang memiliki jiwa kritis serta peduli pada masalah sosial, ekonomi, politik masyarakat sekitarnya serta berkepribadian karismatik sekilas memang mirip dengan tokoh Rendra sendiri. Dalam naskah tersebut, juga dipaparkan mengenai kekuatan seorang tokoh yang karismatik diwakili oleh Jose Karosta serta pendeta Padre Alfonso, pertentangan antara lembaga revolusioner dengan lembaga pemerintahan militer yang diwakili oleh Juan Federico dan Kolonel Max Carlos. Meski dibuat berpuluh-puluh tahun lalu, naskah tersebut tetap terasa relevan untuk dipentaskan pada masa sekarang ini.

Ken Zuraida, yang kali ini bertindak sebagai sutradara, ketika kami datang sedang duduk di sebuah bangku bambu mengamati anak asuhnya berlatih teater. Ia nampak larut dalam naskahnya. Sesekali ia maju dan membenarkan posisi blocking para pemain. Proyek pementasan yang rencananya akan dimainkan pada bulan Agustus ini merupakan proyek perdana dari Ken Zuraida Project. Ken Zuraida Project, merupakan sebuah proyek regenerasi anggota Bengkel Teater Rendra yang dikepalai oleh Ken Zuraida. Semenjak Rendra meninggal pada 2009 lalu, kegiatan di Kampus Bengkel Teater Rendra praktis dipimpin langsung oleh isterinya. Pada peringatan 100 Hari Rendra Berpulang, Ken Zuraida atau akrab dipanggil Ida memimpin anggota lama dan baru tersebut untuk mementaskan karya Bib Bob (Teater Mini Kata) di Taman Ismail Marzuki, sebuah teater eksperimental Rendra yang mencuri perhatian jagad teater Indonesia pada tahun 1960-an. Teater Mini Kata diilhami oleh khasanah kesenian tradisional Jawa. Rendra pernah mengungkapkan di suatu media pada tahun 2005 bahwa ia memang senang dengan kesenian tradisional Jawa meski mengaku tidak terlalu akur dengan kebudayaan Jawa yang diibaratkannya seperti sebuah kasur tua.

Tak hanya itu, ia juga berpentas keliling 26 kota di Jawa dan Sumatera meneruskan upaya Rendra yang terhenti di tengah jalan. Kemudian, pada bulan Juli 2010, ia berpentas mengolah naskah Rendra SEKDA dengan masih membawa bendera Bengkel Teater Rendra. Namun, pada tahun 2011, ia kemudian memutuskan untuk menggelar karya lama terjemahan Rendra bertajuk Mastodon dan Burung Kondor dengan membawa bendera yang sama sekali berbeda, Ken Zuraida Project. Diwawancarai di padepokan bergaya Lampung saat istirahat latihan teater, Ken Zuraida, mengatakan keinginannya untuk menampilkan para pemain baru dalam pementasan perdana Ken Zuraida Project kali ini.

“Saya memulai seleksi tepatnya pada tanggal 19 April 2011, memang baru sekali dan agak nekat, tetapi situasi dan kondisi membuat saya yakin audisi harus dijalankan biarpun waktunya terbatas. Awalnya, saya mengirimkan undangan ke berbagai tempat. Namun, akhirnya setelah bergonta-ganti pemain, terpilihlah keseluruhan dua puluh dua pemain,” jelasnya.

Dua puluh dua pemain itu berasal dari beberapa tempat di pulau Jawa seperti Cirebon, Bandung, Solo, Malang, Yogyakarta, Salatiga, Jakarta. Tak semua dari mereka pemain lama dalam dunia perteateran. Beberapa diantaranya bahkan sama sekali baru. Ken mengatakan keputusannya memilih pemain baru dikarenakan pemain baru ini yang diharapkan bisa mengekspresikan kegelisahan yang dialami pada masa kini ke dalam peran-peran yang mereka mainkan. Meski demikian, ada beberapa faktor yang tetap ia perhatikan saat memilih para pemain baru tersebut, diantaranya adalah yang memiliki karakter kuat, bisa mewakili peran dengan baik, serta berkomitmen tinggi.

“Meski pada akhirnya bisa dibilang seleksi alam juga yang menentukan. Untuk musik, saya menggandeng Lawe sebagai direktur musik. Tadinya saya mengundang Wayan Sadre, tetapi ia sakit, jadinya digantikan oleh Lawe, murid Wayan Sadre juga. Saat ini masih belum final penggodokannya, mungkin dua minggu lagi sudah bisa didengarkan, ”jelasnya.

Sementara mengenai naskah lama yang kembali dipentaskan, Ida mengatakan ingin memperkenalkan kembali salah satu naskah lama Rendra yang hingga sekarang sama sekali belum dipentaskan di tempat lain setelah pertunjukkan yang terakhir di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Ia juga menilai adanya urgensi untuk memanggungkan ini karena sebuah relevansi dengan nilai kekinian. Apakah ia menilai adanya kesamaan dengan persoalan yang menjadi fokus pada naskah itu berpuluh tahun lalu dengan sekarang? Ia menjawab iya.

Menurutnya, persoalan yang ada di Indonesia tidak banyak berubah semenjak tahun 1970. Mungkin banyak gedung-gedung bertingkat yang berdiri megah namun demikian banyak persoalan yang tetap sama dan belum menemukan pemecahannya sendiri.  Mengingat beliau mengatakan hal tersebut, saya jadi ingat salah satu perkataan Rendra dalam sebuah artikel di koran pada tahun 1992 yakni watak bangsa Indonesia telah terlanjur dipupuk menjadi jelek sehingga upaya penyembuhannya memerlukan waktu dan kerja keras lama. Ironis bahwa persoalan yang sama masih tetap berlangsung meski waktu telah berlalu puluhan tahun. Hal ini juga senada dengan pendapat Ida, “Indonesia memang secara tampilan berbeda, tetapi dari segi substansi tidak banyak perubahan, bahkan di beberapa lini atau bidang lebih memburuk,”jawabnya. Melalui pementasan kali ini, harapnya, mampu membangunkan kesadaran kolektif sejarah akan pentingnya semangat perjuangan serta kekritisan akan masa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s