Review Soegija


ImageReview

Film Soegija yang akan tayang serentak 7 Juni 2012 di bioskop-bioskop, mengangkat semangat patriotisme dan humanisme dalam kisah drama sejarah populer.

Utami Diah Kusumawati

utamidk@jurnas.com

“Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bangsa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar.”

Kutipan di atas terdapat dalam catatan harian Monseigneur Albertus Soegijapranata SJ atau Soegija, seorang pribumi pertama yang diangkat menjadi uskup di tengah berkecamuknya perang dunia dan krisis kepemimpinan di Tanah Air. Tetapi, ini bukan persoalan bagaimana ia dilihat dari ranah keuskupannya, melainkan mencakup bidang yang lebih luas dan universal, yakni bagaimana sisi patriotisme dan humanisme seorang Soegija dalam menyikapi ancaman disintegrasi bangsa, dan keutuhan negeri Republik Indonesia, yang saat itu ancaman itu datang dari sekutu dan Jepang.

Berdasarkan catatan sejarah, kita juga mengenal adanya tokoh-tokoh lain yang memiliki spirit patriotisme dan humanisme yang tinggi seperti Soegija. Misalnya saja KH Abdurrahman Wahid atau akrab dipanggil Gus Dur. Tokoh Muslim yang mlahir dalam keluarga kiai terpandang di Jombang ini terkenal pula atas pemikirannya yang humanis dan pluralis, yang menekankan kedamaian di atas kekerasan. Tokoh-tokoh baik Soegija ataupun Gus Dur merupakan tokoh religius yang kuat dan dipercaya sebagai puncak pemimpin agama masing-masing, namun mampu menjembatani perbedaan yang ada di tengah masyarakat secara bijaksana demi tujuan yang lebih besar, yakni keutuhan bangsa.

Soegija memulai awal kariernya sebagai guru yang kemudian menyatakan keinginannya menjadi seorang imam dan belajar menimba ilmu ke Belanda, diasuh langsung oleh para imam ordo Salib Suci. Dalam perjalanan hidupnya, ia sempat juga bekerja sebagai redaktur majalah Swara Tama kemudian ditahbiskan sebagai uskup pada 1931, beberapa tahun sebelum penjajahan Jepang dimulai dan pecahnya perang dunia kedua. Sebagai seorang uskup yang memegang kekuasaan tertinggi dalam organisasi agama, yang menonjol dari Soegija adalah sikap humanismenya.

Dalam film Soegija arahan sutradara Garin Nugroho, misalnya kentara dalam keputusannya untuk menjadikan gereja sebagai tempat penampungan sementara korban perang tanpa membedakan status, agama, dan suku. “Di sini tidak ada lawan atau kawan, yang ada hanya pasien.” Begitu komentarnya dalam film tersebut ketika tentara Belanda hendak mencari gerilyawan untuk dihabisi. Soegija juga menyumbangkan peran dalam mencapai kemerdakaan Republik Indonesia dengan melakukan surat menyurat dan pertemuan dengan para pemimpin Indonesia dan pihak Vatikan, sehingga mendapatkan dukungan kemerdekaan pertama.

Sementara Gus Dur, ketika ia memegang tampuk pemerintahan yakni sebagai Presiden Republik Indonesia, sikap humanisnya tampak dalam keputusannya mencabut Instruksi Presiden No 14 Tahun 1967 tentang pendiskriminasian terhadap etnis China dalam menjalankan agama dan kepercayaannya. Berkat keputusannya tersebut, warga keturunan China bisa dengan bebas dan dengan aman mampu menjalankan kepercayaannya karena adanya jaminan perlindungan negara. Festival Imlek pun bisa kembali dijalankan. Bertahun-tahun ke depan, festival Imlek justru menjadi sebuah contoh semangat pluralisme di mana di dalamnya terdapat partisipasi bersama warga dengan latar belakang yang berbeda dalam arak-arakan budaya yang menjadi hiburan bagi warga sekitar.

Kedua tokoh ini sama-sama mampu menggunakan kekuasaan dan perannya yang besar untuk menjamin keamanan dan memberikan perlindungan bagi masyarakat kecil dan bukan mendekan pihak minoritas.

Dalam acara jumpa pers yang diadakan di Setiabudi beberapa waktu lalu, Moslem Abdul Rahman, antropolog, mengatakan, film Soegija ini mengangkat kembali memori sejarah yang telah hilang atas semangat humanisme dan patriotisme. Sementara itu, sang sutradara, Garin Nugroho menjelaskan bahwa adanya krisis kepemimpinan di Tanah Air menginspirasikannya untuk membuat film-film sejarah populer yang mampu mengembalikan semangat masyarakat. Tokoh Soegija diangkat karena ia melihat besarnya sumbangsih yang dilakukan oleh tokoh ini dalam menyumbang kemerdekaan Republik Indonesia.

“Banyak kata-kata dari tokoh ini yang sangat relevan untuk keadaan bangsa kita saat ini,” katanya.

Film ini dibuat dengan menggunakan biaya produksi sebesar Rp12 miliar dan didukung oleh pemain figuran sebanyak 2.775 pemain dengan mengambil seting lokasi di Semarang, Magelang, Ambarawa, Klaten, dan Yogyakarta. Riset film ini dilakukan selama lima tahun di bawah Yayasan Puskat atau Pusat Pengembangan Masyarakat. Film ini diperankan di antaranya oleh Nirwan Dewanto, Annisa Hertami, Wouter Braaf, Henky Sulaiman, Butet Kartaredjasa, dan Olga Lydia dan akan ditayangkan di bioskop serentak pada 7 Juni 2012 ini.

“Saya bikin hiburan yang dikerjakan sungguh-sungguh. Kemasan Hollywood, namun dengan gaya Melayu. Main musiknya orkestra besar, nyanyinya tetap saja Benci tapi Rindu.” Demikian pernyataan Garin di Kapanlagi.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s