Review Ambilkan Bulan Bu


Ambilkan Bulan adalah film petualangan musikal anak mengenai pencarian dan cinta yang pas ditonton semua anak.

AMELIA (Lana Nitibaskara) merupakan seorang gadis cilik yang kesepian. Ibunya, Ratna (Astrid Nurdin), terlalu sibuk bekerja sebagai manajer sumber daya manusia di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Dia nyaris tak memiliki waktu untuk putri semata wayangnya tersebut. Terlebih semenjak kematian sang suami, Ratna praktis menjadi orang tua tunggal demi menafkahi Amelia.

Amelia merasa tidak diperhatikan oleh sang Ibu. Ia lantas mencari kesibukan bermain internet yang kemudian mempertemukannya dengan sepupunya, Ambar. Amelia pun memutuskan untuk berkunjung ke keluarga besar ayahnya di desa. Di sana ia bertemu dengan sebuah kehidupan yang berbeda dari di kota tempat ia tinggal. Ia juga bertemu dengan teman-teman baru seperti Pandu, Kuncung, dan Hendra. Bersama-sama mereka bermain menelusuri desa hingga ke hutan dan… tersesat.

Film Ambilkan Bulan merupakan karya sutradara muda Ifa Isfansyah yang sebelumnya menggarap film Sang Penari. Film musikal ini mengangkat kisah mengenai petualangan seorang gadis dalam suasana tempat tinggal yang jauh berbeda dari kehidupannya sehari-hari.

“Syuting berlangsung 22 hari pada Maret lalu. Mengambil lokasi sebagian besar di Solo, Jawa Tengah. Tepatnya di daerah Karanganyar, Tawangmangu, Hutan Bromo dan Gunung Cemoro Sewu. Selebihnya, syuting dilakukan di Jakarta. Syuting berjalan lancar nyaris tanpa kendala kecuali cuaca pegunungan yang dingin dan mengganggu beberapa artis. Sempat juga terjadi hujan es, badai dan longsor. Namun, semua teratasi dengan baik sampai syuting hari terakhir,” kata Ifa Isfansyah.

Film ini dibintangi oleh beberapa artis cilik, salah satunya adalah Lana Nitibaskara yang memerankan Amelia. Dalam Ambilkan Bulan, Lana bermain cukup baik. Gadis cilik ini terlihat luwes dan tak kikuk bersanding dengan pemain lain yang jauh lebih senior seperti Agus Kuncoro, misalnya. Lana selama ini dikenal sebagai penyanyi jazz cilik yang sering manggung bersama Ireng Maulana Band. Ia juga sudah memiliki album yang berjudul Spirit of Jazz. Tak heran suaranya dalam film ini ketika menyanyikan lagu karya AT Mahmud seperti “Paman Datang”, “Mendaki Gunung” dan “Ambilkan Bulan” terdengar merdu.

Lagu-lagu yang ditampilkan dalam film ini semuanya merupakan karya AT Mahmud. Lagu-lagu tersebut adalah Ambilkan Bulan, Libur Telah Tiba, Kereta Apiku, Mendaki Gunung, Amelia, Pelangi, Anak Gembala, Bintang Kejora, Paman Datang, dan Aku Anak Indonesia. Pak Raden, yang hadir dalam acara pemutaran film tersebut, mengatakan, pemutaran kembali lagu AT Mahmud diharapkan bisa menarik minat anak-anak untuk kembali menyanyikan lagu-lagu yang sesuai dengan mereka.

“Sekarang ini lagu untuk anak-anak nyaris tidak ada. Kita mesti sering memperkenalkan kembali lagu anak-anak, agar mereka sering menyanyi dan bergembira,” kata ‘Pak Raden’.

Helmy Yahya, selaku produser Ambilkan Bulan, mengatakan, lagu-lagu AT Mahmud yang ditampilkan dalam film ini merupakan sebuah upaya untuk memopulerkan kembali kejayaan lagu anak-anak yang semakin hari semakin terlupakan. Dahulu, katanya, kita mengenal beberapa nama artis cilik terkenal seperti Chica Koeswoyo, Joshua, Eno Lerian, Bondan Prakoso ataupun Dina Mariana. Sekarang, jikalau pun ada, tidak populer seperti artis cilik sebelum masa ini.

“Seringnya anak mendengar lagu dewasa akan bisa merusak pertumbuhan jiwa mereka yang menjadikan perkembangan kepribadian mereka timpang, tidak sempurna,” katanya.

Selain bernostalgia dengan lagu-lagu anak karya AT Mahmud, dalam film ini anak-anak juga akan menikmati sebuah kisah penuh moral yang baik seperti pesan untuk tidak egois, saling menyayangi, bekerja sama, mau bersikap berani dan lainnya. Sayangnya, sisi-sisi kelebihan tersebut tidak diimbangi dengan kemampuan membuat adegan yang terlihat alamiah. Masih ada adegan-adegan yang terasa datang secara “tiba-tiba”, “dipaksakan ada”. Misalnya ketika Lana seusai berbaikan dengan temannya di malam hari dan muncul satu gerombolan anak-anak kecil berlarian di sekitar rumahnya. Dari segi logika hal ini terasa mengganggu.

Selain itu, upaya sang sutradara untuk menampilkan film ini dalam nuansa yang disebutnya sebagai “fantasi” menurut saya adalah sebuah kekurangan tersendiri. Pasalnya, lokasi syuting di Solo, memiliki daerah alam yang luar biasa indah. Ketika ditampilkan dalam bentuk “fantasi” dengan kupu-kupu “palsu” beterbangan, warna yang dibuat lebih terang dan berkilau, bunga-bunga “palsu” memenuhi tempat, kealamiahan dan kecantikan alam Solo malah tidak terekspos dengan baik. Ini sedikit mengganggu. Saya pikir jika ingin dibuat fantasi, sebaiknya dilakukan pada seluruh adegan, tidak hanya beberapa bagian sehingga terlihat satu jalinan padu yang konsisten.

Namun, selebihnya, semangat pembuat film untuk mengangkat tema-tema musikal anak patut diapresiasi dengan layak. Mengingat kini budaya urban dari luar negeri semakin pesat masuk dan menyisihkan nilai-nilai lokalitas yang baik dan membuat anak-anak akhirnya lebih memilih untuk menyanyikan serta menyenangi lagu asing daripada lagu anak-anak negeri sendiri.

Selain Lana, ada juga Astri Nurdin dan Agus Kuncoro, serta penampilan khusus grup band Sheila on 7. Peran anak-anak teman Lana dimainkan oleh bakat-bakat lokal Kota Solo. Sejatinya, film ini untuk mengenang almarhum AT Mahmud dan mengajak anak-anak Indonesia untuk kembali menyanyikan lagu yang sesuai dengan usia mereka. Belakangan ini kita dibuat prihatin oleh banyaknya anak-anak yang menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang syairnya kadang-kadang mengarah ke pornografi.

Helmy Yahya, selaku produser pelaksana, berharap film ini bisa menjadi lokomotif bagi gerakan peduli lagu anak-anak. Film ini sebagai pelunasan janji Helmy kepada mendiang AT Mahmud, orang yang sangat dihormatinya. Helmy pernah berjanji akan membuat sebuah film musikal anak-anak yang diangkat dari lagu-lagu AT Mahmud.

Masih satu rangkaian dengan film ini, Penerbit Mizan mengeluarkan buku yang ditulis berdasarkan skenario filmnya, buatan Jujur Prananto. Penulis buku ini adalah Shara. Sebelumnya, malah sudah diluncurkan album soundtrack film Ambilkan Bulan oleh Sony Music. Album ini berisi sepuluh lagu karya AT Mahmud yang dibawakan oleh beberapa grup band dan artis penyanyi, yaitu: The Changcuters, She, Tangga, Numata, Astrid, Sheila on 7, rif, Superman is Dead, Coklat, Judika, dan Lana.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s