Pengobatan Tradisional Suku Sakai: Bertahan di Tengah Dunia Medis Modern


Pengobatan Suku Sakai

Tetap bertahan di tengah dunia medis modern.

Utami Diah Kusumawati

utamidk@jurnas.com

Sejak dulu Indonesia terkenal dengan aneka pengobatan tradisional dengan berbagai macam metode alternatif. Salah satunya adalah pengobatan menggunakan perantaraan ruh, arwah atau makhluk dari dimensi lain sebagai terapi. Konsep pengobatan ini diterapkan suku Sakai yang menetap di kabupaten Bengkalis Provinsi Riau.

Suku Sakai merupakan salah satu bagian dari masyarakat suku luar atau terasing di Indonesia. Mereka tinggal di daerah hutan dan hidup dengan berburu hasil hutan, mencari kulit kayu dan barter dengan para pedagang yang tinggal di luar komunitas mereka. Suku ini nomaden atau hidup berpindah-pindah dari satu lahan ke lahan yang lainnya, meski tetap berada di areal hutan. Mereka percaya bahwa lingkungan mereka dihuni makhluk gaib yang disebut ‘antu‘, menurut Pasurdi Suparlan dalam buku Orang Sakai di Riau: Masyarakat Terasing dalam Masyarakat Indonesia.

Sementara, Nathan Porath, seorang dosen di Universitas Nakhon Sawan Rajabhat, dalam salah satu bukunya mengenai orang Sakai, semasa pemerintahan Soeharto, penduduk suku tradisional Sakai disebut sebagai masyarakat pinggiran dan ditempatkan sebagai makhluk aneh, primitif, tidak progresif, yang diharapkan mesti mengikuti kebijakan pemerintah.

Suku ini sempat mengalami syok budaya saat pemerintah membangun jalan di areal pemukiman mereka serta membentuk model pemukiman baru. Keberadaan jalan raya membuka akses mereka pada modernitas. Suku Sakai yang tadinya hanya mengenal hutan sebagai sumber kehidupan, kini mengalami perubahan besar-besaran. Mereka mengenal televisi, mulai mengendarai sepeda motor, memakai perhiasan emas, dan lain sebagainya.

Namun meski sebagian hidup mereka sudah beranjak ke kehidupan modern, Suku Sakai masih mengandalkan dukun untuk pengobatan. Ini merupakan tradisi yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur mereka. Dukun bagi suku Sakai bertindak sebagai seorang ‘dokter‘ yang mendiagnosa penyakit pasien dengan bantuan arwah dan kemudian mentransfer pengetahuannya ke pasien. Tidak sembarang orang dapat jadi dukun. Seseorang ‘diperbolehkan’ jadi dukun jika dia telah mendapatkan wangsit dari arwah, mewarisi keahlian bapak atau saudara lelaki, dan menuntut ilmu dari dukun lain.

Menurut Nathan, yang meneliti mengenai pengobatan tradisional suku Sakai selama satu setengah tahun, dalam tradisi pengobatan Sakai, dukun atau disebut ‘semanggeh‘ mengalihkan kesadarannya ke dimensi arwah dan memanggil arwah yang dilihat mata batinnya. Dukun kemudian berkelana dengan ruh tersebut untuk mencari obat atau ‘ubet‘. Setelah menemukan jawaban, dukun akan menafsirkannya ke dalam pertunjukan fisik bagi sang pasien berupa tari-tarian, musik serta pantun. Bagi Nathan, aksi fisik tersebut merupakan cermin atas apa yang dilakukan oleh jiwa pasien di dimensi arwah.

Selama melakukan proses penyembuhan, pihak keluarga si sakit juga mesti melakukan beberapa ritual, di antaranya membuat miniatur rumah dilengkapi dengan obyek bunga, lebah dan burung tiruan serta menyalakan obor. Miniatur tersebut tidak mesti rumah, bisa berupa benda atau obyek lain tergantung dari permintaan sang ‘antu‘ atau arwah yang nantinya akan menetap di miniatur tersebut. Umumnya setelah pengobatan selesai, dan antu dari tubuh pasien berpindah ke rumah miniatur, maka miniatur tersebut akan dibuang sang dukun.

Lalu sang dukun mengenakan atribut upacara seperti ikat kepala berwarna merah, selempang berwarna merah dan bertelanjang dada. Kemudian dukun tersebut akan membacakan mantra dan berdiri mengambil campuran beras putih dan kuning untuk disebar ke seluruh sudut ruangan selama tiga kali. Ritual itu dilakukan hingga dukun menemukan jawaban atas sakit sang pasien. Jika telah ditemukan, maka api obor yang dipersiapkan akan dipadamkan.

Nathan mengatakan, suku Sakai menggunakan keahlian mereka berhubungan dengan dunia arwah hanya untuk kepentingan pengobatan. Dalam kaitannya dengan dunia medis yang modern, suku Sakai bersikap terbuka dalam pengertian para dukun tidak melarang anggota masyarakat Sakai berobat ke dokter di klinik terdekat di luar pemukiman mereka.

Meski tidak ada larangan pergi ke dokter, pada kenyataannya suku Sakai masih enggan berobat ke dokter karena takut dengan pengobatan modern yang dianggap menyakitkan seperti jarum suntik. Dalam banyak kasus, Nathan melihat dukun justru mendorong pergi ke dokter jika mereka tidak berhasil menyembuhkan pasien.

“Penelitian atas pengobatan tradisional yang berfokus pada medium dunia arwah ini mulai menarik perhatian peneliti dunia medis sejak tahun 1960. Dunia medis mencoba mencari adanya hubungan antara pengobatan tradisional yang supranatural dengan kesembuhan pasien. Meski dianggap mistis, pada kenyataannya terapi yang dilakukan suku Sakai berhasil menyembuhkan pasien,” kata Nathan ketika diwawancarai Jurnal Nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s