Tulisan Profil Andara F. Moeis (Kelola)


Andara F. Moeis
Biografi
Andara F. Moeis atau akrab dipanggil Anggie merupakan penari dan koreografer kontemporer yang lahir di Jakarta pada 20 Januari 1986. Ibunya adalah seorang dokter gigi dan ayahnya bekerja di bank. Andara tak memiliki darah seni secara langsung tetapi sejak kecil ia sudah senang menari dan rajin mengikuti ekskul tari. Kecintaanya pada tari bertambah saat dia sekolah di SMA Islam, Al Izhar Pondok Labu, dan membentuk grup tari moderen Shakadelic bersama dengan dua teman perempuannya. Saat itu, Shakadelic sering diudang untuk pentas di acara pentas seni antar sekolah. Andarapun menyadari bahwa tari adalah jalan hidupnya.“Saya merasa senang berada di atas panggung dan menjadi pusat perhatian karena menari,” jelasnya saat diwawancarai. Oleh karena itu, lulus dari SMA, Andara mengemukakan keinginannya untuk melanjutkan sekolah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) bidang koreografi tari kepada orangtuanya. Ia beruntung, orangtuanya memberikan dukungan penuh atas cita-citanya tersebut. Meski demikian, sang Ibu, Ida Mediana, menekankan padanya bahwa jalur yang dipilihnya akan sulit untuk mendapatkan uang. Karena merasa sudah benar-benar jatuh cinta, Andara mengatakan pada Ibunya ia akan tetap bergabung sebagai mahasiswi tari IKJ. Pada tahun 2003 ia resmi diterima sebagai mahasiswa tari IKJ.

Terbiasa dengan kehidupan yang urban dan lekat dengan kegiatan bergaul, awalnya Andara merasa canggung dengan ritme kuliahnya yang sibuk dari pagi hingga malam. Ia mengaku sering cabut kelas dan memilih nongkrong dengan anak-anak dari jurusan lain. Kegiatan itu perlahan-lahan berubah seiring berjalannya waktu dan bertambah padatnya jadwal kuliah pada semester tiga. Andara semakin sibuk berkutat di ruang latihan. Tetapi, ia justru semakin menikmati proses mengkreasikan gerak tari. Perempuan muda ini banyak belajar tari langsung dari maestro tari seperti Sardono W. Kusumo, Hartati serta Jecko Siompo, yang masing-masing memiliki dasar tari tradisi kuat.

“Sekali kita memahami tubuh dan melihatnya dari sudut pandang lain, kita akan lebih menikmati proses menciptakan gerak itu sendiri. Suatu waktu saya pernah dilatih oleh Sardono W. Kusumo dan beliau meninggalkan saya selama beberapa jam agar saya menghayati tubuh dan bukan berpikir menciptakan gerak tari. Gerak akan muncul dengan sendirinya. Musikpun dipasang. Awalnya terpikir apa mungkin, tetapi lama kelamaan saya justru ketagihan dengan proses memahami tubuh itu,” jelasnya.

Di kuliah pulalah ia mulai belajar bagaimana membuat karya tradisi yang berangkat dari pengalaman sehari-hari. Meski di kemudian hari, Andara tidak berfokus pada karya tari tradisi melainkan tari kontemporer, dunia di mana ia tumbuh, namun belajar tari tradisi baginya sangat penting karena bisa memperkaya gerak tari. Andara membuat karya tari pertamanya “It’s Me” pada tahun (2005) sebagai ujian komposisi 5 dari jurusan tari IKJ. Karya itu kemudian ditampilkan kembali di Komunitas Salihara pada tahun 2009. Kemudian, koreografinya yang lain seperti Kosong (2007), “……” (2008) dan Covering With Colors (2009) yang ditampilkan di Praha, Ceko, S[h] elf (2010) dan iBody (2011). Andara F. Moeis juga sudah aktif mengikuti Indonesian Dance Festival (IDF), salah satu festival tari terbesar di Indonesia dan dihargai di lingkup internasional yang didirikan diantaranya oleh maestro tari Nungki Kusumastuti , Sal Murgiyanto dan Maria Darmaningsih, baik sebagai penari ataupun koreografer semenjak tahun 2006. Pada tahun 2011 lalu, Andara F. Moies bersama dengan tiga penari muda perempuan lainnya membentuk pekan tari bertajuk I Move yang diadakan di Taman Ismail Marzuki.

“Kami, sebagai penari muda, merasa masih jarang sekali ada medium yang memfasilitasikan kebutuhan kami untuk menari padahal sumber dayanya banyak. Sayang aja, udah belajar tari sekian lama, tetapi tidak dipentaskan karena keterbatasan sarana. Penari kurang percaya diri untuk pentas sendiri karena gak punya dana juga. Akhirnya, kami membentuk I Move, sebuah pertunjukan yang terutama memberikan kesempatan bagi penari muda tampil. Tahun 2012 ini, I Move diadakan kembali dan respon dari penari mudanya positif,” jelasnya.

Berkat konsistensinya di dunia tari, penari muda inipun mendapatkan penghargaan Empowering Women Artists (EWA) dari Yayasan Kelola untuk periode tahun 2012-2013 dan disebut-sebut oleh Nungki Kusumastuti sebagai penari muda Indonesia yang sudah layak untuk mendunia. Saat ini, selain mengajar tari di sekolah tari Gigi Arts Dance, Andara juga didaulat menjadi juru bicara IDF 2012.


Utami Diah Kusumawati – Penulis
Profil
Dari Ranah Tari KontemporerDalam sebuah wawancara, Andara menegaskan bahwa ia merupakan penari yang mengusung ciri kontemporer. Meski sempat belajar tari tradisi selama kuliah di IKJ dan pada guru seperti Sardono, Hartati dan Jecko Siompo, Andara tetap memutuskan untuk melaju di bidang tari kontemporer. Alasannya sederhana, ia besar dan tumbuh dalam lingkungan urban yang memperkuat modal kontemporernya.

“Seluruh karyaku tidak ada yang berangkat dari tradisi melainkan pengalaman sehari-hari yang kemudian dijadikan pengalaman universal, sesuatu yang lekat denganku. Bagiku membuat karya bukan persoalan semata-mata eksistensi melainkan sebuah pemikiran atas apa yang akan disumbangsihkan pada masyarakat dan kita mesti jujur untuk itu,” jelasnya.

Ciri kontemporer itu tercermin dalam karya-karyanya. Misalnya dalam karya “It’s Me” (2005) yang menceritakan tentang dirinya, sebagai anak remaja yang baru memasuki dunia tari. Ada perjuangan di sana. Dalam karya ini juga ditampilkan gambaran kehidupan sosial anak muda di Jakarta secara umum yakni, dekat dengan teknologi dan informasi, pesta, budaya pop urban (direpresentasikan oleh produk-produk seperti misalnya sepatu keds, tanktop) serta sosialisasi. Andara menggunakan latar musik pop moderen yang ikonik seperti Britney Spears untuk mengentalkan atmosfer tempo kini. “Karya ini terinspirasi dari pengalaman pribadi saya sebagai anak muda yang besar dan tumbuh di kota Metropolitan seperti Jakarta yang sangat kompleks, multikultural dan moderen.Karya “Its Me” ditampilkan pertama kali sebagai Ujian Komposisi 5, festival tari “next traces” oleh Dewan Kesenian Jakarta di Graha Bakti Budaya, festival tari kontemporer di Padang, dan di Komunitas Salihara.

Sementara itu, tarian kedua berjudul “Kosong” merupakan tarian koreografi Andara F. Moeis yang mengisahkan tentang kondisi individu yang tidak lagi mengetahui apa yang diinginkan dan tidak lagi memiliki kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. Kekosongan membuat individu-individu menjadi outer directed yakni mengarahkan diri pada orang lain dalam rangka mencari pegangan dan petunjuk untuk menentukan hidup. Karya ini dipentaskan dalam gelar koreografi kota oleh Dewan Kesenian Jakarta kerjasama dengan Japan Contemporary Network di Goethe Haus (2007). Karya ini dipentaskan oleh Siti Ajeng Soelaeman serta Nur Hasanah. “Karya ini terinspirasi atas masalah yang dialami manusia di Jakarta yang menjadikan mereka manusia yang bergerak seperti robot dengan rutinitasnya,” jelasnya.

Karya Andara F. Moeis selanjutnya adalah “….” (2008) yang dipentaskan pertama kali sebagai karya akhir ujian S1 Institut Kesenian Jakarta di Teater Luwes (2008) kemudian di Komunitas Salihara (2009). Karya ini menurutnya merupakan pengembangan dari karya kosong yang ide dasar berangkat dari Jakarta yang menjadikan manusia bergerak bagaikan robot dengan rutinitas dan mobilitas yang tinggi sehingga manusia tersebut tidak tahu lagi apa yang diinginkan.

Tarian berikutnya berjudul “S[h]elf” (2010) yang dikoreografikan oleh Fitri Setyaningsih dengan dramaturgi Yudi Ahmad Tajudin. Dalam tarian ini, Andara ‘Anggie’ F. Moeis berkolaborasi bersama Siti Ajeng Soelaeman mengisahkan perjalanan mereka sebagai dua penari muda yang lahir dari kebudayaan urban dan lekat dengan kegiatan gaul urban seperti kongko, pesta dan bergaul dengan ringan. Meski demikian, tidak berarti mereka tanpa kerja keras karena anak-anak muda ini juga memiliki kesungguhan berkarya, kompetensi bekerja yang ditunjukan lewat kiprah mereka di dunia seni tari. S[h]elf ditampilkan dalam acara pembukaan IDF 2011 dan Komunitas Salihara (2010).

Kemudian karya “Covering With Colors” merupakan tarian karya Andara F. Moeis yang dipentaskan di Praha Ceko pada acara malam tari kontemporer Indonesia oleh Institut Kesenian Jakarta bekerjasama dengan kedutaan Republik Indonesia (2009). “Karya ini terinspirasi dari lukisan-lukisan prof. Sardono W. Kusumo. Di sini saya mencoba bermain warna dari lukisan beliau. Karya ini merupakan hasil eksplorasi,” jelasnya.

Terakhir, karyanya adalah iBody (2011) yang dipentaskan dalam acara iMove (2011) atau Indonesian Movement Platform for the Youth di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Karya ini ditampilkan juga pada acara Internasional Dance Festival (IDF) 2012 . Menurutnya, karya ini berangkat dari anatomi tubuh dan ia mencoba bereksplorasi dengan anatomi tubuh dan properti-properti yang dekat dengannya seperti bantal, kaus kaki serta lampu.

Andara mengaku banyak mendapatkan inspirasi dari kejadian kesehariannya selain pengalaman masa lalunya yang banyak memperkaya rasanya sebagai seorang penari.

 

Utami Diah Kusumawati — Penulis
Karya
Its Me (2005)
Kosong (2007)
“….” (2008)
Covering With Colors (2009)
S[h] elf (2010)
iBody (2011)
Kontak
Andara F. Moeis
Apt. Sudirman Park Jl. KH. Mas Mansyur Kav. 35 Tower B Unit 35 CB Jakarta
Phone : 08568935194
Email : miss.andara@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s