Review Goyang Penasaran


Goyang Penasaran

Membongkar wacana seksualitas, perempuan, dan kekerasan, dalam lakon realis berbalut moda horor.

Utami Diah Kusumawati


KETIKA duduk di kelas empat SD, saya teringat sebuah pantun lelucon yang diungkapkan oleh seorang teman lelaki saat kami sedang bermain balas pantun. “Beli nasi jangan entar-entar, idih Suri mah si ‘toge pasar’.” Teman saya, si Suri (bukan nama asli), yang diejek oleh sang teman lelaki mukanya merah padam menahan malu sementara teman-teman lain menertawai dan dengan segera tertarik dengan kata itu. ‘ToGe PaSar’ yang merujuk kepada si toket gede dan pantat besar. Setelah dewasa, saya menyadari bahwa kami telah belajar untuk bersikap misogini semenjak kecil, tanpa sadar.

Misogini, menurut sosiolog Allan G Johnson, adalah sikap budaya di mana perempuan dibenci hanya karena mereka perempuan. Kebencian terhadap perempuan ini biasanya dimanifestasikan dalam praduga seksualitas dan ideologi, yang merupakan sebuah bentuk opresi atas perempuan dalam masyarakat yang memuja lelaki dan patriarki. Patriarki sendiri, seperti telah biasa dibahas di banyak artikel atau media, merupakan sebuah kebudayaan terfokus pada lelaki sebagai subjek.

Praduga seksualitas dalam kasus di atas adalah lelucon negatif atas pornografi dan seksualitas perempuan, seperti misalnya frasa ‘ToGe PaSar’ di atas atau kalimat ejekan lainnya seperti masih hangat dalam ingatan saya, ‘KuTiLang DaRat’ merujuk pada Kurus Tinggi Langsing Dada Rata, yang merupakan stereotipe bentuk tubuh perempuan model. Seringkali tanpa sadar, teman-teman dan saya, mengejek bentuk tubuh seorang teman perempuan yang secara psikologis dampaknya bisa menimbulkan perasaan negatif dia atas tubuhnya sendiri hingga bertahun-tahun kemudian.

Kenyataannya, misogini memang banyak ditemukan di mana-mana, dalam aktivitas masyarakat keseharian, karena kita telah dibiasakan atau terbiasa untuk berpikir dalam pola pikir patriarki. Jika berkunjung sebentar ke warung-warung kopi di mana warga duduk mengobrol, akan ditemukan banyak sekali obrolan yang cenderung misogini, terutama saat mereka bercerita mengenai isteri mereka sendiri atau perempuan yang dianggap ‘kembang desa’. Hal ini telah menjadi sebuah kebiasaan yang diperlakukan selama puluhan tahun dan mengendap menjadi sebuah perilaku negatif, terutama berkaitan dengan cara pandang masyarakat atas perempuan dan seksualitas.

Persoalan perempuan dan seksualitas ini diangkat oleh penulis, akademisi serta aktivis gender Intan Paramaditha berkerja sama dengan sutradara Teater Garasi, Naomi Srikandi, dalam sebuah pertunjukan berjudul Goyang Penasaran yang dipentaskan beberapa waktu lalu di Salihara. Pertunjukan ini merupakan hasil adaptasi atas cerpen Intan dalam buku Kumpulan Budak Setan (Gramedia Pustaka Utama, 2010).

“Kami berangkat dari forum group discussion (FGD) yang memetakan bersama-sama isu-isu yang menjadi tantangan bagi isu gender dan seksualitas misalnya konservatisme dan radikalisme agama yang berujung pada pengotakan perempuan,” kata Intan.

Goyang Penasaran merupakan kisah tentang Salimah, penyanyi dangdut si kembang desa. Karena bentuk tubuhnya yang seksi dan gerakan menarinya yang dianggap erotis, masyarakat selain memuja-mujanya (di atas panggung) juga menghujatnya karena dianggap sudah membuat warga lelaki berzina mata. Sebelum menjadi penyanyi dangdut, Salimah pernah belajar mengaji pada Haji Ahmad. Religiusitas Salimah mengendap hingga perempuan ini dewasa, di manapun dia berada, terlihat ia tak pernah bisa lepas dari ajaran yang pernah didapatkannya. Namun, Haji Ahmad, justru menjadi penentang utama Salimah, dan para penyanyi dangdut perempuan lainnya, untuk pentas di atas panggung. Tidak terima atas perlakuan warga sekitar, dua tahun kemudian Salimah kembali dan menuntut balas.

Pertunjukan yang mengambil moda horor klasik dan lagu dangdut era 1970an ini bermuatan kritik atas banyak hal, terutama terkait dengan isu perempuan dan seksualitas. Pertama, pandangan misoginis ditampilkan oleh tokoh preman kampung seperti Mamat dan juga tokoh Haji Ahmad. Lelucon negatif atas seksualitas perempuan dilontarkan oleh Mamat ketika melakukan obrolan santai dengan rekannya, Sukron, di warung kopi. Misalnya perkataannya mengenai tubuh Salimah yang ‘semok’ dan ‘bahenol’ karena sering melacur. Dalam hal ini, keseksian tubuh atau seksualitas perempuan selalu dilihat dari sudut pandang yang negatif dan berujung pada sikap ‘mengejek’.

Jika para preman bersikap mengejek atas seksualitas Salimah, sikap tokoh Haji Ahmad tak jauh berbeda. Ia dengan terang-terangan menghujat dan menilai seksualitas perempuan merupakan sesuatu yang ‘dilarang’, ‘berdosa’ dan ‘hina’. Hal ini tampak dalam perkataannya yang merendahkan para penyanyi dangdut perempuan sebagai ‘setan gentayangan’, ‘penebar pandangan berbisa’, ‘primitif’ dan ‘penebar maksiat’. Alhasil, para preman, meski sesungguhnya sangat menikmati penampilan Salimah di atas panggung turut melihat Salimah dalam kacamata sang Haji Ahmad yang misoginis.

Perempuan dalam titik ini, dirugikan dengan pandangan yang berbau misoginis tersebut. Seksualitas perempuan yang semestinya dihargai dan dirangkul dalam budaya yang patriarki menjadi sesuatu yang tabu, berbahaya, bahkan berdosa. Dalam pertunjukan Goyang Penasaran, yang menjadi pihak dirugikan adalah Salimah dan para penyanyi dangdut perempuan lainnya. Pada tingkat ekstrem, kebencian pada seksualitas perempuan ini berujung pada perilaku salah, destruktif dan kekerasan terhadap perempuan seperti dalam Goyang Penasaran diwakili oleh para preman dan warga yang membentuk ‘Gerakan Sapu Maksiat’.

Menghindari Objektifikasi atas Seksualitas Perempuan

Laura Mulvey, feminis, pada tahun 1970-an pernah menulis sebuah kritik tentang apa yang disebutnya ‘male gaze’ atau pandangan pria terutama terkait dengan seksualitas perempuan dalam media visual seperti film, iklan, videoklip ataupun media cetak seperti koran atau majalah. Mulvey menilai masih banyaknya pembuat karya yang secara sadar dan tak sadar terperangkap ke dalam keinginan untuk memuaskan imajinasi kebutuhan seksual lelaki atas perempuan. Hasilnya adalah eksploitasi seksualitas perempuan termasuk di dalamnya penggambaran bentuk tubuh perempuan yang ‘berlebihan’, adegan pemerkosaan yang merendahkan perempuan serta seks yang timpang yang menempatkan perempuan dalam posisi objek penderita.

Kritik Mulvey atas ‘male gaze’ ini diterapkan dalam pertunjukan Goyang Penasaran. Hasil kritik ini muncul dalam tokoh crossdressing seperti Ari Dwianto yang memerankan Salimah. Meski dalam ceritanya digambarkan Salimah adalah Kembang Desa yang seksi dan montok, namun pihak Teater Garasi tidak menggunakan aktor perempuan untuk memenuhi kriteria deskripsi tersebut. Naomi Srikandi, ketika diwawancarai usai pertunjukan, mengatakan ide menggunakan tokoh lelaki berangkat dari dua keinginan. Pertama, keinginan memberikan tafsir baru atas cerpen Intan, sebagaimana sutradara memiliki kekuasan di panggung untuk menafsirkan karya. Kedua, keinginan melepaskan dari perangkap ‘male gaze’ seperti yang dikemukakan oleh Mulvey.

“Saya dan Intan mencoba menggunakan perspektif gender di sini dengan menampilkan tokoh lelaki untuk Salimah. Hal itu merupakan kritik juga yang kami terapkan pada diri kami sendiri, bagaimana membebaskan diri dari stereotipe tentang penggambaran perempuan. Selain itu, strategi ini merupakan upaya tafsir baru atas cerpennya,” ujar Naomi Srikandi.

Ayu Utami, saat ditemui secara terpisah di sebuah diskusi film, mengatakan, strategi menghindari ‘male gaze’ ini penting untuk menghindari teralihkannya penonton dari isu atau pesan utama yang ingin disampaikan oleh pembuat karya. Ia melihat seringkali pembuat karya terjebak. Ingin menampilkan isu sadar gender, tetapi ketika pementasan malah terjerumus ke dalam eksploitasi erotika atas perempuan.

Dalam hal ini, pertunjukan Goyang Penasaran cukup berhasil menghindari ‘perangkap’ tersebut. Sayangnya, jika hendak membangun sebuah kesadaran gender terutama terkait atas perempuan dan seksualitas, tokoh-tokoh yang dibangun dalam pertunjukan ini masih ditampilkan terlalu hitam – putih atau ‘binary oposition’. Misalnya tokoh Haji Ahmad digambarkan dengan ekstrem, penuh kebencian atas sosok Salimah. Membangun pendekatan yang humanis, untuk menarik empati dan simpati dari masyarakat luas, dibutuhkan dalam membuat karya yang berangkat dari kesadaran ini, seperti yang dikatakan oleh Manneke Budiman dalam sebuah diskusi seksualitas di Newseum Cafe pertengahan April lalu.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s