Bangkitnya Opera Batak


Bangkitnya Opera Batak
 
Image
 
Masih terkendala infrastruktur dan dukungan, tapi terus menjejakkan posisinya di dunia teater Indonesia.


Bangkitnya Opera Batak

Meski terkendala infrastruktur dan dukungan, opera Batak kembali menjejakkan posisinya di dunia teater Indonesia

 

 

Seorang perempuan setengah baya, mengenakan kain ulos berwarna merah cerah, memasuki panggung dengan langkah terbata-bata. Dialah inang atau dalam bahasa Indonesia, dipanggil dengan nenek. Wajahnya penuh guratan kepedihan. Dia berkata mengeluarkan semua curahan hatinya kepada penonton, “Jonaha anakku, Ibu sangat mencintaimu. Ke manakah kau, sayang?” ujarnya lirih.

Dan dimulailah kisah mengenai upaya pencarian Jonaha, anak si Inang yang telah lama menghilang entah ke mana oleh dua orang pemuda, Jasoman dan Boba. Mereka mencari ke berbagai tempat mulai dari mampir di kedai atau ‘Lapo‘ bertemu dengan ‘Ito‘ atau kakak perempuan, bertamu ke rumah ‘Opung‘ atau kakek tua, bertemu dengan pemuda pemudi menortor dalam koreografi lima etnis di Sumatera Utara hingga menyeberangi Danau Toba dengan perahu kecil tetapi Si Jonaha tetap tak jua ditemukan. Alhasil, kedua pemuda bertemu kembali dengan si Inang dan mengabarkan berita ini.

Cuplikan pertunjukan berjudul Si Jonaha di atas merupakan bagian dari pementasan Opera Batak yang diadakan beberapa waktu lalu di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki dalam acara Maestro ! Maestro! 5. Pementasan Opera Batak kali ini merupakan salah satu perwujudan dari revitalisasi Opera Batak yang dilakukan oleh Pusat Latihan Opera Batak (PLOT) bekerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) selama sepuluh tahun, terhitung semenjak 2002.

Dalam pementasan yang diperankan oleh di antaranya dua musisi maestro Batak, Zulkaidah Harahap dan Alister Nainggolan serta pemain teater dari generasi muda seperti Ojax Menalu dari teater moderen “Air in Arts” serta penari ISI Solo Mateus Suwarsono, teater yang ditampilkan terlihat moderen dari segi pengemasan. Hal ini tampak pada sinkronisasi yang terjadi antara tata musik, lakon dengan tata tari, penataan panggung, serta bahasa yang menggunakan bahasa Indonesia meski tetap berlogat Batak. Namun pertunjukkan Si Jonaha tetap memiliki ciri khas teater tradisi lisan, yakni tingginya kemampuan spontanitas para pemain untuk menguasai panggung dan dialog.

Teater tradisi di Indonesia umumnya berangkat dari tradisi teater lisan. Teater jenis ini mengandalkan pada kekuatan ingatan atau memori kolektif alih-alih penghafalan naskah teks untuk dipertunjukkan. Tak heran para pemain teater tradisi di Indonesia banyak yang bermain spontan dengan kuat serta mampu berinteraksi dengan para penonton secara mumpuni.

Tradisi teater lisan itu di beberapa kota di Indonesia mulai diperhatikan sebagai modal atau potensi khasanah kebudayaan bangsa yang di dalamnya terdapat perpaduan antara seni pertunjukan dengan kisah folklor suatu daerah. Penonton tak hanya mendapatkan tontonan, tapi juga kisah unik sarat pesan dari cerita daerah yang dilantunkan para pemain teater lisan ini.

Salah satu daerah di Sumatera yang memiliki tradisi teater lisan yang kuat adalah daerah Sumatera Utara. Daerah ini kuat dengan Opera Bataknya. Opera Batak merupakan jenis pertunjukan teater tradisi lisan yang dimulai pada 1925 ketika Tilhang Gultom mendirikan sebuah kelompok seni bernama Tilhang Parhasapi. Kelompok seni ini mempertunjukkan cerita-cerita yang menggambarkan kehidupan masyarakat Batak dikombinasikan dengan musik, tarian serta nyanyian Batak.

Kemudian, Tilhang Parhasapi diubah namanya menjadi Tilhang Opera Batak. Pada zaman itu masuk pengaruh teater dari Jerman dan Belanda setelah misionaris-misionaris dari Eropa masuk memperkenalkan agama Kristen ke masyarakat Batak. Oleh karena itu, muncullah nama Opera yang berarti Opera (bergaya) Batak. Setelah Tilhang Gultom meninggal, kelompok opera ini kemudian diteruskan oleh puteranya, Gustafa Gultom, yang pada 1954 mengganti nama menjadi Serindo atau Seni Ragam Indonesia.

Serindo mengalami masa jayanya pada 1965 ketika penonton paling membludak dan tawaran pentas ramai, lalu kemudian bubar dan mati suri pada 1985. Para anggotanya kemudian berpencar, ada yang membentuk opera Batak baru seperti Serasi, Rose Opera atau Serada dan ada yang mencari pekerjaan lain ke album rekaman musik dan televisi, yang ‘naik daun’ mulai 1984.

“Opera Batak dahulu kurang berkembang karena adanya stigmasisasi masyarakat terhadap gaya hidup para pemain opera Batak yang dianggap bebas, serta rendahnya dukungan daerah pada grup opera Batak. Padahal dahulu setiap pertunjukannya selalu dinantikan dan penontonnya ramai,“ jelas Thompson Hs, sutradara teater dan direktur Pusat Latihan Opera Batak (PLOT) Siantar saat ditemui pada acara pengenalan Opera Batak di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, dengan mementaskan lakon Si Jonaha beberapa hari lalu.

Hal ini diakui juga oleh ‘Inang‘ Zulkaidah Harahap, sang maestro, yang telah aktif bermain di Opera Batak sejak ia berusia 15 tahun. Zulkaidah Harahap masih mengingat pasti stigma yang diberikan masyarakat mengenai citra para pemain Opera Batak sebagai ‘sampah masyarakat‘. Ia menjelaskan masyarakat yang taat agama umumnya masih melihat pergaulan antara pemain opera, lelaki dan perempuan bermain bersama-sama, sebagai sesuatu yang tidak pantas.

“Dulu saja saya dilarang oleh Bapak dan Ibu. Usai pentas selalu dijemput tetapi saya balik lagi ke grup teater. Selalu begitu. Akhirnya ibu menyerah dan menyerahkan saya kepada Opung (sang pemilik opera),” jelasnya ditemui di belakang panggung beberapa saat sebelum pertunjukan di TIM dimulai.

Zulkaidah mengakui ketertarikannya pada Opera Batak dimulai dengan perkenalannya dengan grup opera yang didirikan Tilhang Gultom. Ia bercerita selalu datang menyelinap ke pertunjukan tanpa tiket dan terkagum-kagum dengan aksi para pemain di atas panggung. Ia pun memutuskan bergabung dengan grup opera Batak dan diberi tanggungjawab, awalnya hanya untuk memasak makanan bagi semua pemain.

Untuk itu, ia mesti terpisah dengan keluarganya karena Ibunya menentang keputusannya bermain teater. Ada kalanya hati Zulkaidah sedih karena ia teringat dengan sang Ibu, sementara kariernya di grup opera masih sebagai tukang masak. Ia juga dijauhi teman-temannya karena terkena penyakit campak dan kakinya melepuh. Saat itulah kepandaiannya bernyanyi dan bermain seruling kecil menjadi satu-satunya obat pelipur lara.

Image

 

“Saat itulah, Opung mendengar saya bernyanyi Ungut-Ungut dan meminta saya bernyanyi dengan iringan seruling. Pentas pertama saya dapat banyak uang dari penonton yang menyawer. Uang yang disawer ke saya semuanya kata Opung untuk saya. Senang sekali rasanya,” ceritanya bernostalgia.

Selain Zulkaidah, Alister Nainggolan, maestro Opera Batak lainnya yang sangat mahir bermain seruling juga mengatakan kendala dalam menjalankan opera Batak terutama ada pada rendahnya dukungan daerah akibat stigmatisasi tersebut.

Akibatnya, tidak di semua daerah bisa dengan mudah dilakukan pementasan karena tidak diperbolehkan warga setempat. Dalam banyak hal, Alister, yang usai lepas dari Serindo sempat mendirikan sebuah grup opera bernama Tiurma Opera, seringkali mesti pandai-pandai mengambil hati warga setempat untuk bisa melakukan sebuah pementasan.

“Kadangkala, bahkan kepala desanya yang menghalangi pementasan kami,” katanya.

 

Revitalisasi Opera Batak

Oleh karena rendahnya penghargaan masyarakat terhadap Opera Batak maka beberapa pihak, termasuk di antaranya yang dilakukan oleh Pusat Latihan Opera Batak (PLOT) melakukan revitalisasi terhadap Opera Batak. Revitalisasi Opera Batak terutama ditujukan untuk mengangkat citra para pemain Opera Batak yang buruk supaya proses regenerasi berlangsung baik serta berkembangnya grup-grup Opera Batak secara maksimal.

“Opera Batak sempat mati suri saat dilakukan pemetaan tradisi-tradisi di Sumatera Utara. Lalu ATL Medan Sumatera Utara mengajukan proposal untuk program revitalisasi opera Batak. Beberapa tahun kemudian terwujud revitalisasinya, muncul banyak bantuan dari berbagai pihak seperti gubernur, anggota dewan hingga lembaga asing seperti Japan Foundation dan Ford Foundation dan juga media yang banyak menuliskan artikel tentang opera Batak,” jelas Pudentia, ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).

Revitalisasi dilakukan dengan mengadakan pelatihan-pelatihan berupa pelatihan cerita, pelatihan manajemen, artistik, konsep dasar teater serta pelatihan bahasa lokal Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Samosir, serta Batak Pakpak kepada para praktisi teater tradisi lisan.

Upaya revitalisasi pada pertunjukan lebih berupa bagaimana mensinkronkan antara musik, tari dengan adegan teater. Karena pada zaman dulu, antara musik, tari dengan lakon tidak ada sinkronisasi satu sama lain. Para pemain terbiasa melakukan spontanitas di setiap adegan. Alhasil, antara satu bagian dengan yang lain terkadang tidak sinkron. Ketidakteraturan juga dirasakan oleh para pemain muda yang bergabung ke dalam Opera Batak.

“Waktu saya pertama kali bergabung dengan opera Batak saya kaget. Di sini tidak ada aturan sama sekali, jadwal latihan tidak ada, semua bebas datang dan pergi sesuka hati. Kadang kita mau latihan, mereka malah tidur. Generasi tuanya tampak masih bernostalgia, sementara saya dan beberapa teman sudah terbiasa dengan sistem dan disiplin latihan, manajemen organisasi dalam teater modern. Awal-awal sempat miskomunikasi tetapi setelah proses adaptasi semua berjalan lancar. Saya belajar dan dapat ilmu banyak di teater tradisi ini dan senang banget. Menurut saya penting bagi pelaku seni teater modern untuk memperkuat fondasi dengan teater tradisional terlebih dahulu sebelum mengembangkan ke arah yang kekinian,”jelas Ojax (26) pemeran Jasoman yang juga staf pengajar di Universitas Medan, ketika ditemui di belakang panggung.

Revitalisasi juga dilakukan dengan membuat pertunjukan menjadi variatif dan mampu dipahami kalangan luas sehingga lebih banyak yang memahami serta mengenal Opera Batak. Salah satu caranya dengan menggunakan bahasa Indonesia namun tetap mempertahankan logat dan bahasa tubuh Batak. Alhasil, para penonton tidak hanya belajar kebudayaan Batak tetapi juga terhibur dan tertawa terpingkal-pingkal saat menyaksikan pertunjukan Opera Batak. Pemain juga tidak hanya semata-mata berasal dari suku Batak tetapi pemain dari luar Batak pun diperkenankan untuk menjadi pemeran pula.

“Dalam pementasan kali ini, kita menggandeng beberapa pemain non Batak seperti lulusan ISI Solo serta mahasiswi UKI asal Mentawai. Ternyata, mereka fasih bermain Opera Batak. Para pemain terutama kita latih untuk membiasakan diri dengan kegiatan mendongeng karena Opera Batak banyak menggunakan metode bercerita atau mendongeng,” jelas Thompson.

Mateus Suwarsono, salah satu pemain yang berperan menjadi si Gagu dalam lakon Si Jonaha, yang juga lulusan ISI Solo, mengatakan ketertarikannya untuk berpartisipasi dalam opera Batak bermula dari jatuh cinta sejak ia pindah ke Sumatera Utara pada 1997. Ia melihat banyaknya potensi seni yang bisa dikembangkan di Sumatera Utara akibat kekayaan etnis yang ada di sana. Sayangnya ada keterbatasan infrastruktur, serta jarangnya praktisi seni yang menganggap kreativitas dan ekspresi diri perlu dieksplorasi dan dikembangkan.

“Umumnya pelaku seni di sini masih melihat seni sebagai sebuah warisan atau kegiatan yang dilakukan saat adat membutuhkan. Seni adalah sebuah ekspresi komunal dan pewarisan. Oleh karena itu penting untuk memberikan kesadaran kreativitas dan ekspresi kepada generasi mudanya,” jelasnya.

Proses revitalisasi yang telah berlangsung selama sepuluh tahun meningkatkan citra pemain Opera Batak di mata masyarakat Batak umumnya. Grup-grup opera Batak baru pun bermunculan, menandakan kebangkitan kembali teater tradisi lisan asal Sumatera Utara tersebut.

Tak hanya itu, Opera Batak juga mendapatkan banyak perhatian dari pihak akademisi untuk ditelaah sebagai salah satu kekayaan budaya lisan Nusantara yang berkembang luas. Melalui revitalisasi ini para maestro Opera Batak juga didaulat menjadi pengajar opera di Pusat Latihan Opera Batak (PLOT) di Siantar, Sumatera Utara, yang memberikan pengajaran mengenai opera tradisi di Sumatera Utara kepada para mahasiswa.Image

Namun kerja keras dan upaya dari para praktisi seni teater ini nampaknya belum sepenuhnya didukung pemerintah, dengan ketiadaannya gedung pertunjukan Opera Batak khusus. Sebab, gedung teater adalah infrasrutktur penting bagi para ‘pejuang’ teater tradisi ini, untuk dapat terus berkarya dan mensosialiasikan keberadaannya di tengah masyarakat luas.

Jurnal Nasional | Minggu, 8 Apr 2012

Utami Diah Kusumawati

utamidk@jurnas.com

2 pemikiran pada “Bangkitnya Opera Batak

    1. anggaran sih pasti ada, Mas Ginanjar, cuma pas aku tanya sama pementasnya, mereka bilang ribet banget birokrasinya dan selalu ada faktor x lain yang buat mereka males kerjasama dgn pemerintah. sayangnya, pementasan di gbb kmrn gak terlalu ramai meski yg datang antusias bgt dan meriah responnya. kupikir masalah promosi yg kurang. trims sdh apresiasi ya mdh2an ada opera batak lain bs ikut menonton.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s