ROMAN CINTA KLASIK DALAM WAYANG BEBER


WAYANG BEBER

Image

Wayang Beber merupakan narasi roman cinta sejati yang tertuang dalam sebuah bentangan kertas

Alkisah Prabu Bramawijaya dari Kerajaan Kediri panik. Puterinya, Dewi Sekartaji, menghilang dari istana karena enggan dijodohkan oleh lelaki yang tak sesuai hatinya. Prabu Bramawijaya lantas memerintahkan Jaka Kembang Kuning, Raden Panji Asmorobangun yang menyamar jadi rakyat jelata,  menemukan Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana. Akhir cerita, sang raja yang menyamar akhirnya jatuh cinta pada sang puteri. Demikian pula sang puteri padanya.

Itulah penggalan kisah dalam lakon Joko Kembang Kuning yang ditampilkan oleh grup tradisional Wayang Beber Pacitan dalam pementasan yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta akhir Maret ini. Sang dalang dengan fasih menceritakan kisah demi kisah dalam gulungan wayang yang bisa dibeberkan atau dibentangkan sepanjang tiga sampai empat meter di atas sebuah ‘ampok’.

Kisah roman atau cerita tentang cinta sejati memang biasa disajikan dalam pertunjukkan wayang beber tradisional. Menurut sang dalang, Rudi Prasetyo, lakon Panji yang bertema roman (kisah percintaan antara Raden Panji Asmorobangun dengan Dewi Candrakirana) merupakan pakem yang sering dipentaskan dalam pagelaran wayang beber tradisi di Pacitan, Jawa Timur.

“Dalam cerita itu terdapat pesan sebuah cinta sejati, yakni satu untuk setiap orang,” katanya ditemui sebelum pementasan.

Karena seorang dalang tak menjadi sekadar penutur cerita tetapi juga penyampai moral, dalang wayang beber, katanya, mesti menganut kesetiaan sebuah cinta sejati. Jika melanggar, misalnya menikah dua kali, maka jabatan wayang akan dicopot.

Wayang beber sendiri merupakan suatu pertunjukan wayang menggunakan gulungan gambar sebagai penyampai cerita yang bermula dari zaman kerajaan Majapahit. Setiap pertunjukkan biasanya terdiri atas enam gulungan dan setiap gulungan berisi empat kisah cerita. Sehingga, total adegan yang dibawakan dalam satu pementasan biasanya 24 buah. Tetapi, menurut sang dalang, gambar ke 24 biasanya tak ditampilkan. Alasannya adalah gambar tersebut tidak lazim, bisa karena gambar kosong, gambar luar biasa bagus, atau gambar mengandung adegan pornografi. Wayang beber kemudian dibesarkan di Pacitan dan Wonosari dengan masih memegang kuat pakem-pakem tradisi yang ada.

“Tidak sembarang orang bisa menjadi dalang wayang beber. Mesti keturunan langsung atau diangkat anak, seperti saya, oleh sang dalang terdahulu. Prosesnya juga panjang dan membutuhkan banyak ritual tertentu. Makanya proses regenerasinya langka dan sulit,” ujar Rudi yang belajar mendalang pada Mardi Guno Utomo.

Image

Wayang beber menggunakan kertas gedok dan dilukis dengan teknik lukis tradisional, yang disebut teknik sungging. Dalam teknik pewarnaan tersebut, tampak gradasi untuk satu warna. Misalnya untuk menampilkan warna langit yang biru, bisa dibutuhkan hingga lima warna, mulai dari putih, biru muda, biru, biru gelap, dan hitam. Wayang-wayang lukisan ini kemudian digulung dan diletakkan di dalam sebuah ‘ampok’ atau kotak penyimpanan wayang yang terbuat dari kayu suren. Kayu jenis ini merupakan kayu yang tak gampang didapatkan sehingga pada perkembangannya, para pecinta wayang beber di perkotaan membuat ampok dari berbagai macam media, seperti kayu, bambu, ataupun bahan lainnya.

Selain dikenal karena teknik pewarnaannya yang rumit, wayang beber juga terkenal akan nuansa magisnya. Misalnya saja, sebelum pementasan, sang dalang mesti melakukan aneka ritual magis tertentu untuk kelancaran pertunjukan. Rudi menjelaskan sebelum pementasan hari itu berlangsung, dia telah meletakkan sesajen, meminta izin dari leluhur serta membaca mantera-mantera. Lalu, ketika izin telah diturunkan dari leluhur, berupa tanda-tanda tertentu yang diketahui oleh keseluruhan tim, wayang beber baru bisa digelar di atas panggung.

“Percaya gak percaya, tetapi sudah empat kali kita mengalami kejadian tidak enak karena ada yang kurang dalam melakukan proses ritualnya,” jelas lelaki kelahiran 1984 yang telah menekuni dunia wayang beber semenjak tahun 2003 ini.

Tak hanya itu, ketika pementasanpun, di depan wayang beber diletakkan aneka sajian mulai dari nasi, ayam, telor, kelapa yang ia sebut sebagai sajen. Sementara di bagian kanannya, ia meletakkan dupa yang berbau khusus. Kuatnya nuansa mistis ini, pelakonan yang monoton serta visual tanpa gerak, membuat wayang beber seringkali ditinggalkan oleh generasi muda dan membuat proses regenerasi dalang berjalan alot di daerah asalnya.

Menurut budayawan, Taufik Razen, beber sendiri memiliki arti bentara atau bentangan dan tradisi wayang beber muncul sebagai sebuah upaya menunjukkan budaya tandingan oleh masyarakat pesisiran. Dari catatan perjalanan kalifah cina pada zaman Majapahit, terdapat sebuah pertunjukkan wayang pertama, yakni wayang beber yang ditulis di lontar pada abad 9 dan 10 dengan menggunakan narasi nusantara.

Image

“Kisah dalam wayang beber dituliskan oleh Darmawangsa Teguh di Kediri dengan elemen Sanskrit dan versi Kediri. Cerita Panji yang dikisahkan oleh dalang merupakan cerita yang berasal dari khasanah asli nusantara, hubungan antara matahari dan bulan, hide and seek, pencarian dan penemuan, digubah dalam cerita panji. Tak heran kalau peradaban pesisiran diikat oleh cerita panji,” jelasnya.

Saking pentingnya kisah Panji dalam narasi wayang beber, banyak negara tertarik untuk memamerkan koleksi wayang beber Indonesia. Salah satunya adalah Moscow yang berniat memamerkan koleksi wayang beber sepanjang 60 meter. Bagi masyarakat internasional, kisah Panji yang terbentuk dalam wayang beber merupakan representasi kebudayaan masyarakat pesisiran di daerah Asia Tenggara. Kisah ini nyatanya telah tersebar luas mulai dari Sulawesi, Batam, Timor, Vietnam, Thailand sampai Kamboja.

“Kisah panji ini bagi masyarakat dunia penting karena merupakan bayangan kebudayaan pesisiran. Oleh karena itu pemeliharaan wayang beber sangat penting. Diperlukan inovasi agar wayang ini bisa terus lestari di era digital ini, “katanya.

Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional, Minggu 25 Maret 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s