Wayang Minus Gaya Klasik


TRADISI

Wayang Minus Gaya Klasik

Agar mampu bertahan di tengah gempuran modernisasi dan kehidupan masyarakat urban yang serba cepat, seni tradisi harus mampu membuka diri terhadap perubahan zaman.

Salah satu bentuk seni tradisi yang terus dicari relevansinya dalam konteks kekinian adalah wayang. Sebagai jenis seni tradisi yang paling tua di Tanah Air, wayang telah menapaki lapisan zaman. Di masa pra sejarah, wayang hadir dalam bentuk boneka-boneka kayu yang diukir menyerupai wajah dan sosok para leluhur. Ketika agama Buddha, Hindu dan Islam masuk ke Nusantara, wayang mejadi media siar agama dan pengajaran moral kepada masyarakat. Selama berabad-abad, wayang terbukti mampu beradaptasi melintasi zaman dan terus menemukan aktualisasinya di tengah masyarakat.

Upaya aktualisasi seni tradisi wayang terus dilakukan hingga abad millennium ini. Melalui pendekatan teknologi multi media, misalnya, wayang dikemas menjadi tontonan yang tidak lagi terkesan kuno,  ketinggalan zaman, dan hanya ditonton oleh orang-orang tua. Salah satu yang menggunakan pendekatan ini untuk mempopulerkan wayang kepada generasi saat ini adalah Mirwan Suwarso. Mirwan bersama dengan rumah produksinya, Mirwan Suwarso Production (MSP) Entertainment membuat pertunjukkan wayang dengan gaya sinematik.

Pertunjukkan pertama yang dihasilkan oleh Mirwan adalah Jabang Tetuko (2011) yang diproduksi dengan gaya klasik sinematik. Kemudian, dalam Gatotkaca Jadi Raja (2012) ia menambah sentuhan moderen dengan memasukkan jenis musik kekinian seperti hip hop dan jazz. Setelah itu, ia bereksperimen kembali mempopulerkan wayang sinematik dalam pertunjukkan yang akan ditampilkan pada akhir Maret tahun ini di Senayan City, Arjuna Wiwaha. Dalam pertunjukkan yang terakhir, ia mengaku akan menampilkannya jauh lebih kontemporer dari pertunjukkan-pertunjukkan sebelumnya dengan memadukan tarian kontemporer, musik sinematik, teknologi terkini berupa laser serta layar multimedia. Tak hanya itu, ia juga menyertakan ikon kebudayaan pop untuk bermain sebagai salah satu tokoh wayang diantaranya Tora Sudiro, Happy Salma, serta Marcella Zalianty.

“Gak banyak orang yang pernah melihat pertunjukkan wayang dan merasa tak ingin menonton wayang karena mereka bukan orang Jawa. Dengan pendekatan seperti ini, penonton yang tertarik melihat wayang jadi beragam,” jelasnya ketika ditemui di kediamannya di bilangan Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Mirwan mengaku tidak terlalu tertarik untuk mengangkat wayang dengan pendekatan klasik. Akunya karena telah ada kelompok-kelompok yang menampilkan pertunjukkan wayang orang dengan gaya klasik. Selain itu, persoalan kepraktisan menjadi landasan mengapa ia menampilkan pertunjukkan wayang ala kontemporer.

“Kalau menggunakan alat musik gamelan suatu saat dibawa ke luar negeri bakal ribet dan lama format musiknya. Lagipula saya gak terlalu suka mendengarkan gamelan. Kalau pakai musik masa kini, kan, gampang diingat oleh anak-anak muda,” jelasnya.

Mengenai isi cerita, ia mengaku mengambil sumber cerita dari buku wayang karangan Ronggo Warsito, yakni berjudul Pustaka Raja Purwa. ‘Kitab’ petunjuk cerita wayang ini, yang terdiri atas sembilan jilid dan berbahasa Jawa, diambil dari perpustakaan Surakarta. Tidak semua kisah dipilih melainkan hanya cerita menarik saja yang diambil. Kemudian, ia menyesuaikan dengan kekinian atau menambahkan ritme agar cerita tidak berjalan panjang dan membosankan. 

“Dalam Arjuna Wiwaha, ada beberapa adegan yang kita singkat dan langsung ke inti persoalan cerita karena keterbatasan durasi pementasan. Meski demikian, benang merah cerita tetap sama,” ujarnya.

Selain Mirwan, nama lain yang juga terobsesi untuk memodernkan cara mempertunjukkan wayang adalah Wawan Gunawan atau lebih akrab dikenal dengan Wawan Ajen. Wawan, yang merupakan seniman jebolan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung ini, menciptakan ‘wayang ajen’ pada tahun 2000. Wayang ajen merupakan nama yang ia berikan untuk pertunjukkan wayang golek dengan konsep pertunjukkan ala teater. Ia memasukkan dramaturgi, manajemen panggung ala teater, serta menggaet pelaku-pelaku seni dari bidang tari dan teater untuk berpartisipasi dalam pertunjukkan wayang goleknya.

“Wayang ajen sebenarnya merupakan keprihatinan saya akan cara mengembangkan wayang di masyarakat. Tak ada kebebasan ruang untuk berkreasi bagi para dalam saat itu. Oleh karena itu, saya memberanikan diri membuat sesuatu yang beda. Agar kiblat wayang tidak terpaku pada satu hal semata. Tujuannya agar tradisi wayang terus lestari dan diminati di tengah kekinian,” jelasnya saat ditemui di Bentara Budaya Jakarta beberapa hari lalu sebelum melakukan pementasan kolaborasi bersama Sol Project berjudul ‘No Estes Siempre Mabok Bae Mi Amor!’.

Dalam wayang ajen, yang dimodifikasi oleh Wawan, selain dalam pengemasan juga dalam karakter wayang. Ia mengatakan tidak pernah mengutak-atik karakter wayang tradisional yang ada dalam cerita tradisi, seperti Gatotkaca dan lainnya. Untuk karakter tradisional, ia malah memberikan penegasan dalam hal karakter serta tampilan wajah wayang goleknya serta membuat karakter wadasan serta mega mendung untuk menunjukkan ciri Jawa Barat. Sementara itu, upaya untuk mendekatkan dengan kekinian, ia tampilkan dalam wujud wayang-wayang baru seperti wayang ikon yang dekat dengan masyarakat. Misalnya, ia pernah membuat wayang Dedi ‘Miing’ Gumelar, wayang Punk, wayang Orang Mabuk, wayang Gayus, wayang Nazarudin serta wayang Artalita.

Membuat wayang-wayang dengan karakter kekinian juga mulai banyak diikuti oleh kelompok-kelompok wayang lainnya, salah satu yang terkenal adalah Wayang Kampung Sebelah yang didirikan oleh Ki Jlitheng Suparman. Dalam wayang Kampung Sebelah, semua tokoh-tokoh wayang kulitnya bahkan sudah moderen dan dekat dengan kekinian. Misalnya saja wayang-wayangnya, merupakan tokoh-tokoh penduduk sebuah desa BangunJiwo dengan beragam profesi seperti lurah, tukang jamu, penarik becak, dan lainnya. Setiap hari mereka membicarakan isu-isu yang beredar di masyarakat dan dekat dengan konteks kekinian. Cara penyajian yang mengangkat isu-isu terkini merupakan salah satu strategi yang dipilih oleh banyak dalang untuk mendekatkan wayang dengan masyarakat moderen yang terlalu banyak digempur dengan budaya pop yang instan.

 

“Wayang-wayang dengan karakter baru ini, saya masukkan ke dalam bagian sisipan atau sindiran, di tengah isi cerita. Tujuannya untuk mengangkat kembali tempo dan menarik minat penonton. Strategi ini dibutuhkan untuk mendekatkan wayang dengan masyarakat masa kini. Anak muda bukan tak suka wayang, mereka hanya tidak menyukai pengemasannya,” jelas Wawan.

Baik Mirwan ataupun Wawan, yang sama-sama mencintai wayang sejak mereka kecil, sadar bahwa upaya untuk melestarikan seni tradisi di tengah kekinian memerlukan sebuah keberanian menghubungkan jembatan antara masa lalu dengan masa kini. Bahkan, terkadang mereka mesti keluar dari pakem umum atau hal klasik yang telah dipatuhi selama bertahun-tahun. Pengemasan seni pertunjukkan wayang dengan penggunaan berbagai media dan teknologi serta modifikasi tokoh ataupun isi cerita menjadi salah satu cara yang dipilih oleh para pelaku seni ini untuk mempertahankan semangat penonton atas pertunjukkan yang berangkat dari ranah tradisi.

 Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional, 18 Maret 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s