Topeng Slawi yang Berusaha Untuk Lestari


Suwitri Menari dalam Maestro!Maestro! 4

Utami Diah Kusumawati

utamidk@jurnas.com

 

SALAH satu cara yang dilakukan oleh para seniman tradisi untuk melestarikan ilmu pengetahuan tradisi dan kearifan lokal yang mereka miliki adalah dengan menurunkannya kepada anak atau kerabat mereka. Proses regenerasi dari generasi ke generasi ini merupakan pola yang umum dilakukan oleh para seniman tradisi dalam upaya melestarikan seni tradisi.

Hal ini juga dilakukan oleh para seniman tari topeng tradisional asal kabupaten Slawi, Kota Tegal. Misalnya saja Suwitri (78). Dia belajar Tari Topeng Slawi dari ibunya, Warmi, yang juga belajar dari ibunya, Darem. Warmi sendiri menguasai 12 jenis Tari Topeng Slawi sedangkan Suwitri enam jenis. Pada waktu acara Maestro! Maestro! 4 yang diadakan di Gedung Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Suwitro menarikan tiga jenis tari topeng — salah satunya Endel yang merupakan tarian terkenal di Slawi. Dari gerakannya yang lincah kita tidak menyangka perempuan di balik topeng ini sudah begitu sepuh.

“Saat ini di Slawi sudah ada empat generasi penari Topeng Slawi dan Suwitri termasuk generasi yang keempat,” kata Bambang Purnomo, Ketua LSM Gerbang Mataram, kepada Jurnal Nasional.

Di Slawi ada 12 jenis macam tarian, yang masih tersisa sebanyak enam tarian, di antaranya adalah tarian Kresna, Panji, Panggawa/patih, Lanyapaan Alus dan Klana, serta Endel. Beberapa atribut dari Tari Topeng Slawi mirip tari asal Indramayu. Kalau Topeng Slawi, ekspresi wajahnya menjurus ksatria dengan gerak langkah lebih halus, dinamis, tetapi tidak seperti tari Remo (tari asal Jawa Timur yang memang berfungsi untuk penyambutan tamu) yang rancak dan dinamis. Dalam tari Topeng Slawi, kata Bambang, gerakannya lebih ke arah kebudayaan Solo atau Mataram.

Dari segi busana, lebih mirip ke arah tari Indramayu, dengan busana berciri maskulin yang mengesankan ‘gagah’. Saat pementasan di TIM, Suwitri mengenakan pakaian seperti celana panjang selutut berwarna hitam dilapisi dengan kain batik dan ikat pinggang manik yang dipadankan dengan kemben hitam dan selendang dua warna. Selama tiga babak pergantian topeng, busana yang dikenakannya tetaplah sama. Sementara itu mengenai musik, gamelan yang biasa digunakan oleh seniman Tari Topeng Slawi lebih lengkap dibandingkan dengan musik dari Jawa Barat. Gamelan wayang Tari Topeng Slawi merupakan pengembangan dari budaya Matraman.

“Daerah Slawi merupakan daerah perpaduan kultur antara pesisir dan agraris. Hasilnya adalah gerakan yang halus meskipun gerakan tarinya cepat,” katanya.

 

Maestro yang Terlupakan

Perkembangan Tari Topeng Slawi memang tidak sesulit daerah-daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh adanya dukungan dari berbagai pihak untuk turut membantu melestarikan tradisi Tari Topeng Slawi yang sudah ada sejak lama. Misalnya saja kegiatan tari massal saat perayaan hari jadi Kota Tegal 2009 lalu di mana sebanyak 3.000 anak sekolah berpawai untuk menarikan Topeng Slawi. Selain acara tersebut, menurut Bambang Purnomo, lembaga-lembaga sosial budaya Kabupaten Slawi, juga turut mengadakan acara Festival Tari Daerah tingkat kecamatan yang diikuti oleh anak-anak sekolah dari kabupaten Slawi.

“Embrio para penerus tari sudah banyak ditemukan di sekeolah-sekolah yang ada di Slawi. Tinggal terus mengembangkan embrio tersebut agar matang,” kata Bambang.

Harnoko, tokoh masyarakat dan ketua FKKB ( Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa) Kabupaten Slawi mengatakan, Tari Topeng Slawi sudah dikenal oleh masyarakatnya sendiri, hal ini bukti bahwa apresiasi masyarakat terhadap seni tradisi cukup tinggi. Namun, persoalan utamanya, menurutnya, ada pada apresiasi terhadap sumber dari mana tari itu didapat. Ia melihat masih banyak maestro tradisi yang kemudian jasanya terlupakan, padahal berkat merekalah kesenian tradisi di suatu daerah bisa terus lestari. Salah satunya yang dialami oleh Suwitri. Untuk bertahan hidup, Suwitri yang telah banyak berjasa melestarikan tari Topeng Slawi kemudian mesti berjualan bubur.

“Jangan sampai maestro-maestro ini kemudian hanya menjadi sebuah ikon kota saja, namun kesejahteraannya termasuk jaminan hidupnya lantas dilupakan,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s