Tergantung di Benang yang Tipis


Jurnal Nasional | Sabtu, 31 Dec 2011

 

 

 

 

 

 

 

Utami Diah Kusumawati

utamidk@jurnas.com

SEORANG penari masuk ke atas panggung. Ia memakai sebuah topeng berwarna putih. Diiringi oleh gamelan dan suara penembang, ia mempertontonkan  kebolehannya dalam menari. Gerakannya lincah dan ia terlihat sangat menguasai panggung. Tak lama, ia mengganti topengnya dengan warna merah muda serta merah menyala. Seiring pergantian topeng tersebut, karakter yang ditampilkannya juga berubah. Ia semakin galak, semakin keras. Dan, penonton terserap karismanya.

Itulah Suwitri (78), penari topeng asal Slawi, salah satu dari tiga maestro tari tradisi yang menari di atas panggung Graha Bakti Budaya, beberapa waktu lalu. Ketika mengenakan topeng, tak ada yang menyangka bahwa ia telah nenek-nenek. Tubuh rentanya ternyata masih sangat gagah dan lihai ketika menari di atas panggung. Bahkan ia menjelma menjadi seseorang yang lain, yang terlihat jauh lebih muda dari umur yang dimilikinya. Suwitri dikatakan menguasai enam jenis Tari Topeng Slawi. Sementara, Ibunya, yang juga maestro tari topeng Slawi, menguasai dua belas jenis gaya.

Hal ini membuktikan adanya sebuah penurunan kemampuan yang terjadi dalam regenerasi para penari Topeng Slawi. Dengan kata lain, seni tradisi Indonesia terancam untuk tidak terdatakan akibat proses regenerasi yang berjalan tidak baik. Hal yang sama juga dialami oleh maestro tari asal Banyumas, Mbah Dariah. Lelaki yang malam itu menarikan tarian Lengger Lanang dan beralih jender menjadi perempuan, mengatakan proses regenerasi berjalan lambat di daerahnya.

Sementara itu, Dedy Luthan, Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta, mengatakan, nasib para maestro tari  memprihatinkan. Meski telah diberikan dana tunjangan (tanpa uang kesehatan dan lainnya) oleh pemerintah, tiap tahun sebesar Rp1,25 juta per bulan, para maestro tari yang umumnya sudah renta itu dibebani juga kewajiban meregenerasikan kemampuan mereka kepada yang lebih muda tanpa diberikan bantuan lain yang memadai oleh pemerintah. Akibat keterbatasan kemampuan oleh sebab usia, para maestro ini sudah keburu tiada tanpa sempat menurunkan kemampuannya kepada generasi penerusnya.

“Hal ini kan sangat disayangkan. Padahal, kekayaan budaya dan tradisi kita banyak. Tetapi, akhirnya hilang begitu saja karena tidak tertangani. Baru-baru ini saya pergi ke Kalimantan dan melihat sebuah tari yang tidak saya kenal dipertunjukkan di sana. Saya, yang sudah sering bepergian ke Kalimantan untuk meriset tari, kaget. Sangat banyak khasanah kekayaan kita yang perlu kita eksplorasi,” kata Dedy.

Persoalan regenerasi ini tidak menimpa kelompok pertunjukan tradisional Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih. Tetapi, persoalan tetap ada. Nasib kelompok pertunjukan ini seperti tergantung di atas benang yang tipis. Ketika ditemui di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Ceu Imas, sutradara Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih mengatakan kesulitan terutama ada pada menjaring penonton untuk datang, serta jadwal pementasan yang tidak jelas.

Tahun lalu, kelompok ini sempat vakum pementasan selama nyaris setahun dengan alasan pengajuan proposal berupa sinopsis cerita serta judul pementasan terlambat diajukan kepada pemerintah yang diwakilkan oleh pihak pengelola gedung kesenian Miss Tjitjih.

“Gak ada pentas bikin repot juga. Soalnya, para pemain umumnya bergantung dari uang pementasan,” katanya.

Bertahan dan Tersingkir

-Sementara itu, Dewi Noviami, Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, pada malam pembukaan pentas Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih berjudul “Kuntilanak Waru Doyong” mengatakan, upaya untuk eksis pada kelompok-kelompok pertunjukan tradisional di tengah modernitas patut diacungi jempol. Kelompok Miss Tjitjih, misalnya, sudah ada sejak tahun 1928 dan masih bertahan hingga kini meski dalam perjalanannya banyak mengalami kesulitan dan seringkali terabaikan.

“Tahun lalu, Komite Teater pernah mengundang kelompok ini pentas di pembukaan Festival Teater Jakarta 2010 dan saya melihat langsung bagaimana penonton tersentak oleh penampilan Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih. Teknologi sederhana digunakan secara kreatif pada kisah drama horor dan betul-betul berhasil membangun efek kejut pada penonton. Hal seperti ini yang membuat kami tersadar, banyak orang belum pernah memiliki pengalaman dikagetkan dalam pertunjukan,” katanya.

Kesulitan seperti proses regenerasi ataupun rendahnya dukungan pementasan terhadap kelompok seni tradisi merupakan beberapa dari puluhan persoalan yang menimpa para pelaku seni tradisi di seluruh Indonesia. Imbasnya ada dua, mereka terus bertahan dengan langkah kaki terseok-seok dan kehabisan napas atau langsung tersingkir oleh bentuk pertunjukan lain yang lebih modern.

Untuk grup pementasan tradisi, ancaman terutama datang pada kompetisi dari grup musik dangdut modern. Jumlah personil lebih sedikit (dibandingkan personil kelompok pementas tradisi yang banyak, sehingga biaya tanggap jadi lebih mahal), lagu-lagu yang akrab di telinga masyarakat, serta eksploitasi sensualitas membuat grup dangdut modern lebih laris dipesan oleh masyarakat.

Beberapa kelompok seni tradisional mau beradaptasi dengan kenyataan ini. Tarling, misalnya, memodifikasi pertunjukan tradisi gitar dan suling menjadi pertunjukan menggunakan alat musik lain yang lebih lengkap. Ditambah mereka juga menyisipkan lagu dangdut di tengah pertunjukan. Meski, nilai ‘pakem’ pertunjukan tradisi ini, berupa kisah-kisah lokal, pesan moral, legenda, tidak pernah absen dipentaskan. Tak hanya kelompok tarling, Butet Kartaredjasa, seniman Yogyakarta, juga mencoba memadukan seni pertunjukan tradisi dalam kemasan modern.

Dalam acara Indonesia Kita yang ia konsepkan, ia membawa tradisi-tradisi dari beberapa provinsi di Indonesia seperti Maluku, Yogyakarta, Kalimantan, Riau, dan Jawa Timur, ke dalam sebuah pertunjukan dengan konsep modern. Modern di sini berupa: tata artistik panggung yang disesuaikan dengan kekinian, konsep cerita yang mengambil isu-isu kekinian hingga akrab di telinga masyarakat, serta pertunjukan musik oleh musisi masa kini. Hasil yang didapat? Penonton selalu penuh dan mereka dapat mengenal tradisi –meski eksplorasi tradisinya masih sedikit– dan daerah lain di Indonesia lebih baik.

Kelompok tradisi lain, misalnya Wayang Sasak, dalam Kongres Musyawarah Masyarakat Sasak yang diadakan di Newseum Café di Jalan Veteran, akibat ancaman eksistensi akhirnya memutuskan untuk menjadikan pertunjukan seni tradisi Wayang Sasak berkolaborasi dengan sisi pariwisata.

Dukungan bagi Seni Tradisi

Provinsi Nusa Tenggara Barat saat itu baru saja meresmikan bandar udara internasional dan pemerintah daerah NTB berencana untuk meningkatkan promosi pariwisata daerah mereka. Kelompok seniman wayang sasak dan perwakilan pemerintahan daerah yang ada sepakat untuk menjadikan seni ini sebagai salah satu ‘produk’ yang akan ditawarkan kepada para turis.

Sementara, beberapa kelompok lain, tidak mau tersentuh sisi modernitas dan tetap konsisten di jalur ‘murni’ tradisi. Mereka lantas menggarap pasarnya sendiri atau beberapa digandeng oleh pihak pemodal untuk ditampilkan dalam acara-acara khusus di Ibu kota. Sebut saja salah satunya, The Mask, yang diadakan oleh GELAR, perusahaan pribadi yang bergerak di bidang kesenian dan kebudayaan, di mana para maestro tari topeng tradisional akan berpentas di Jakarta, di hadapan para penonton Ibu kota.

Menanggapi persoalan itu, pemerintah, di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, membentuk satu direktorat yang khusus menangani tradisi, yakni Direktorat Pembinaan Nilai Tradisi dan Kepercayaan. Wiendu Nuryanti, wakil menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan, mengatakan, hal utama yang akan dilakukan berkaitan dengan persoalan regenerasi seni tradisi adalah membentuk tim khusus untuk memetakan serta mendokumentasikan warisan tradisi yang terancam punah.

“Yang terpenting adalah didokumentasikan dulu supaya tidak kehilangan jejaknya,” katanya.

Tahun ini, beberapa tradisi dan kearifan lokal yang menaungi ruh-ruhnya, lenyap tak terlacak. Di sisi lain, upaya-upaya baik dari seniman ataupun pihak-pihak yang mendukung tradisi terus dilaksanakan dengan masih maraknya pementasan-pementasan seni tradisi di ibu kota, riset-riset yang terus dilakukan (beberapa diluncurkan dalam bentuk buku) oleh individu-individu yang menghargai seni tradisi, serta advokasi seni tradisi oleh para pencinta seni tradisi. Pemerintah juga membentuk satu direktorat khusus untuk menangani persoalan seni tradisi di Indonesia.

Di tahun mendatang, persoalan utama yang mesti diperhatikan dalam hal seni tradisi adalah dibutuhkan pendataan dan pendokumentasian secepatnya atas keseluruhan kekayaan tradisi di Indonesia serta penyegaran kembali seni tradisi (bisa berupa sokongan pementasan) agar tetap bisa bertahan di tengah hiruk pikuk modernitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s