The Flying Swords of Dragon Gate (3D)

Jet Li kembali beraksi, kali ini dengan misi menghabiskan antek-antek Kaisar Dinasti Ming  yang korupsi

Alkisah, pada masa pemerintahan Dinasti Ming yang otoriter, terbagi dua kelompok pemerintahan, yakni Blok Barat dan Blok Timur yang bertugas membantu Kaisar. Namun, kedua blok saling bersiteru satu sama lain dan mereka juga melakukan korupsi hebat yang merugikan rakyat. Dari kalangan rakyat, muncul seorang pemberontak, yang berpihak kepada rakyat. Ialah Zhou Huai’an (Jet Li). Bersama dengan dua rekannya, Huai’an melakukan aksi untuk menumpas mereka yang melakukan kejahatan terhadap rakyat.

Di tengah aksi, Huai’an bertemu dengan pendekar perempuan Lin Yanqiu (Zhou Xun) dan bekerjasama dengan para perompak yang mengincar harta karun terpendam di Gerbang Naga. Gerbang Naga dulunya merupakan sebuah istana tempat menyembunyikan tawanan perang yakni perempuan, anak-anak, dan emas. Ketika badai gurun pasir melanda, istana ini terkubur jauh di dalam pasir.  Tertarik dengan emas yang melimpah ruah, para perompak mengupayakan strategi untuk masuk ke dalam Gerbang Naga. Niat mereka ternyata serupa dengan niat para pejabat pemerintahan, termasuk salah satunya, Yu Hua Tian (Kun Chen), musuh bebuyutan Huai’an.

Dalam film yang disutradarai oleh Tsui Hark ini, seni bela diri merupakan fokus kekuatan utama dan merupakan genre khas dari film-film China.   Sebelumnya, Tsui sudah sering menggarap film-film bela diri termasuk diantaranya New Dragon Gate Inn, yang sukses di pasaran. Pada film kali ini, Tsui masih konsisten mengusung semangat seni bela diri, yakni kesetiaan, fokus pada tujuan, dan hasrat menolong yang lemah. Melihat film dari Tsui sebelumnya, kita tahu bahwa sang sutradara paham mengenai semangat bela diri ini.  Misalnya saja tampak pada karakter Huai’an. Sebagai seorang ahli silat, dia merasa perlu untuk membersihkan Dinasti Ming dari pemerintahan yang korup. Fokus pada tujuannya, dia juga menghindari cinta yang datang dari Yanqiu.

Meski demikian, Tsui tidak hanya menggarap aspek tradisinya semata.  Ia juga mencari sisi kreatif lainnya dengan membuat versi 3D IMAX. Diwawancarai di salah satu situs film, Tsui mengatakan teknologi sangat membantunya untuk mengembangkan kemampuan membuat filmnya, terutama dalam genre seni bela diri. Hasil dari penerapan teknologi 3D ini adalah para penonton bisa lebih merasakan ketegangan yang terjadi ketika pertarungan antara para pendekar, tokoh protagonis dengan antagonis berlangsung. Pedang seolah benar-benar menusuk penonton, serpihan-serpihan besi, tali atau kayu beterbangan, belati dilemparkan ke penonton, semua adegan pertarungan terasa lebih klimaks dengan teknologi ini.

Sayangnya, aksi laga tersebut tidak diimbangi dengan cerita yang rapih. Banyak hal terasa dipaksakan dan terjadi secara tiba-tiba. Misalnya saja, adegan ketika pelayan perempuan Kaisar yang tadinya membelot dan dikejar-kejar oleh pasukan kerajaan berubah menjadi musuh Huai’an. Motif sang tokoh perempuan untuk tiba-tiba mendukung Kaisar tidak jelas di sini. Tiba-tiba di akhir cerita, ia berbelot dan mengatakan bahwa ia mendukung Kaisar. Hal seperti ini juga ditemui pada beberapa adegan lainnya, sehingga jalinan cerita terlihat seperti kurang digarap dan dipikirkan secara mendetail dan baik. Namun, di luar persoalan itu, dari segi hiburan film ini sudah mencukupi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s