LENGGER LANANG


ImageLENGGER LANANG

Di tangan para penari lelaki ini, Lengger Lanang berhasil menyuguhkan pesonanya

Seorang penari memasuki tubuh panggung. Ia berdiam di sudut dekat grup pemusik. Tubuhnya terlihat ringkih saat ia berbalik menghadap penonton. Tulang menonjol dari balik kulitnya yang kendur, kedua lengannya kurus, keriput menaungi wajahnya. Melihat semua itu, kecemasan sempat terselip. Apakah tubuh yang renta itu mampu menarikan Lengger  Lanang yang terkenal akan goyangan dan geraknya yang dinamis?

Ternyata, Dariah (83 thn) mampu melakukannya. Ia bahkan menarikan tarian Lengger dengan kepercayaan diri luar biasa. Panggung seolah ia taklukan, ia beri nafas, ia rengkuh untuk kemudian dipersembahkan kepada penonton. Aura ini tidak sembarang dimiliki oleh setiap penari. Dan Dariah adalah salah satu dari segelintir penari yang mampu membuat setiap mata tak berpindah untuk menatap lenggoknya.

“Menari itu bawaannya jadi senang, “ celetuk Dariah dengan sumringah saat ditemui usai pentas di belakang panggung.

Tak heran jika pada tahun 2011 lalu, pemerintah, di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (sekarang Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), memberikan penghargaan terhadap kiprahnya. Dariah mendapatkan penghargaan salah satu maestro yang dinilai mempunyai peran besar dalam melestarikan seni tradisi, yakni tarian Lengger Lanang. Untuk itu, Dariah mendapatkan bantuan dana dari pemerintahan pusat sebesar 1,25 juta per bulan seumur hidup.

Lengger Lanang menurut  penjelasan Yusmanto, pemerhati budaya dari Banyumas, muncul dari kebudayaan yang bermuasal di sepanjang aliran sungai Sedayu. Pada masa dahulu, muncul kebudayaan dan kesenian pada bagian barat dan timur aliran Sungai Sedayu. Di bagian barat sungai Sedayu, muncul dan berkembang tarian Ronggeng. Sementara, di bagian timurnya, Lengger hidup dan berkembang.

“Lengger merupakan pertunjukan rakyat, bukan berasal dari kebudayaan keraton, yang  lazim dilakukan di daerah Banyumas, Kedu, Kebumen, Purbalingga. Karena berasal dari kebudayaan rakyat, tarian ini jarang sekali memiliki pakem gerak dan setiap penari bebas menafsirkan gerak sesuai dengan ekspresi personal mereka, ” jelas Yusmanto.

Sesuai namanya, tarian ini ditarikan oleh penari lelaki dan bukan perempuan. Latar belakangnya adalah ketika masa lalu kebudayaan kesenian masih patriarki. Kebudayaan ini menyebabkan ruang bagi perempuan dalam kesenian menjadi minim dan terbatas. Sehingga, banyak peran yang semestinya dilakukan oleh perempuan, akhirnya dilakukan oleh lelaki. Lengger Lanang adalah salah satunya. Meski demikian, uniknya, para lelaki ini tidak malu berubah dan berdandan menjadi perempuan dan melatih gerakan tubuh mereka jadi gemulai. Masyarakat pun merespon dengan baik pertunjukan dari para penari lelaki yang ‘cantik’ dan ‘gemulai’ ini.

 “Peran lelaki dalam menarikan Lengger bergeser saat memasuki tahun 1970. Saat itu ada kepentingan politis yang dilakukan pemerintah terkait dengan kebudayaan daerah sebagai penopang kebudayaan nasional. Sehingga, perempuan menjadi lebih banyak menarikan Lengger,” jelasnya.

Mulai dari tahun tersebut, selain perempuan banyak yang mulai menarikan Lengger, perubahan juga terjadi terutama pada tujuan diadakannya pertunjukan tari. Jika dahulu, tarian Lengger biasa dilaksanakan sebagai pemujaan terhadap dewi Sri (bersifat ritual) sekarang tarian ini dipentaskan untuk tujuan hiburan. Oleh karena itu, terdapat percampuran dan adaptasinya sendiri dengan budaya pop serta tujuan komersil untuk mendapatkan uang.

“Sayangnya, regenerasinya berjalan lambat. Saat ini saja, di daerah Banyumas hanya ada tiga penari muda Lengger Lanang tetapi salah satunya sudah berhenti menari dan menjadi PNS,” jelasnya.

 Yusmanto mengatakan sampai saat ini belum ada bantuan diberikan oleh pihak pemerintah daerah terkait dengan keberlangsungan tari Lengger Lanang Banyumas. Pemda menurutnya masih semata-mata fokus terhadap pembangunan fisik. Sehingga, tak banyak generasi muda yang tertarik menekuni Lengger Lanang. Selain itu, permintaan pementasan tari Lengger Lanang pun juga semakin sedikit yang akhirnya mengancam keberlangsungan hidup para seniman Lengger Lanang tersebut. Hal ini menjadi miris karena beberapa penari Lengger Lanang tidak memiliki anak dan tidak berkeluarga demi menekuni profesi sebagai seniman Lengger. Sehingga proses regenerasi pun mesti mengandalkan pihak luar.

“Anak-anak saya ya kalian semua,” ujar Dariah.

 Mungkin Dariah saat itu sedang bercanda, mengemukakan bahwa kami semua yang bersama dengannya saat itu adalah anak-anaknya. Tetapi, bisa jadi kakek tua ini berharap, pernyataannya bukan sekadar angin lalu semata. Ia ingin benar-benar ada anak-anak atau penerusnya kelak yang menghargai serta merespon seni tari tradisi seperti yang ia telah lakukan di semasa hidupnya.

 Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional Edisi Minggu 07/01/2012

 

 

 

 

Satu pemikiran pada “LENGGER LANANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s