Karinding dan Pergerakan Kaum Muda Sunda Menjaga Seni Musik Tradisi


Karinding dan Pergerakan Kaum Muda Sunda Menjaga Seni Musik TradisiImage

KEMAJUAN teknologi serta perkembangan zaman di era globalisasi membuat tradisi seringkali tercerabut dari akar kebudayaannya. Alhasil, ia menjadi tersisih dan kemudian terancam punah. Hal ini berlaku di seluruh ranah tradisi, salah satunya adalah alat musik tradisional Sunda, Karinding. Ketika budaya populer masuk dan menyergap ruang gerak anak muda Bandung, maka ruang bagi Karinding untuk semakin dikenali oleh warganya sendiri semakin menyempit.

Modernitas menyebabkan kaum muda Bandung lebih mengenali idiom-idiom atau memakai simbol-simbol berbau barat tanpa memahami apa artinya. Hal ini menyebabkan munculnya kegelisahan bagi sejumlah budayawan serta kaum muda Bandung yang peduli akan kesenian tradisional. Bersama-sama mereka mengembangkan alat musik tradisional Sunda, Karinding, dan mulai mempopulerkannya ke masyarakat muda Bandung.

Karinding mengacu pada wikipedia merupakan sejenis alat musik atau perkusi khas Sunda yang terbuat dari pelepah kawung (batang pohon aren) dan bambu. Menurut buku Karinding Attack terbitan Minor Books, karinding konon merupakan alat musik yang telah digunakan di dataran Sunda terutama Tasikmalaya sejak abad ke 15.

Alat musik ini terbuat dari pelepah kawung atau bambu berukuran 20 x 1 cm yang dibuat menjadi tiga bagian yaitu bagian jarum tempat keluarnya nada (cecet ucing), pembatas jarum, dan bagian ujung panenggeul (pemukul). Jika ujungnya dipikul, maka bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi khas. Bunyi tersebut bisa diatur tergantung bentuk rongga mulut, kedalaman resonansi, tutup buka kerongkongan, atau hembusan dan tarikan nafas.

“Dahulu Karinding dimainkan di acara yang menyangkut hajat hidup, ritual, silaturahmi juga acara berkaitan dengan alam seperti gerhana bulan, gempa, dan lainnya. Karinding juga biasa dipakai untuk mengusir hama dan pemujaan terhadap roh nenek moyang. Nadanya yang mengandung desibel rendah ternyata ampuh mengusir hama. Namun, meski umumnya dipakai untuk mengusir hama, alat musik ini pada dulunya juga sering digunakan bagi para pria untuk menarik perhatian gadis-gadis, ” jelas Iman Rahman Angga Kusumah atau akrab dipanggil Kimung, salah satu seniman Karinding, ketika ditemui di Bandung.

Ia mengatakan kalau jenis bahan dan desain Karinding menunjukan perbedaan usia, tempat, jenis kelamin pemakai. Karinding menyerupai susuk sanggul dibuat untuk perempuan, sedang yang laki-laki menggunakan pelepah kawung dengan ukuran lebih pendek, agar bisa disimpan di tempat tembakau. Bahan juga menunjukan tempat pembuatan karinding. Di Priangan Timur, misalnya, karinding menggunakan bahan bambu. Sementara penyebutannya juga mengalami variasi seperti misalnya di daerah Yogyakarta Karinding dikenal dengan “Rinding”, di Bali disebut “Genggong”, di Kalimantan disebut “Dunga” atau “Karindang”, di Nepal bernama “Jawharp” dan di China bernama “Chang”.

Menurut Kimung, selain di Tasikmalaya, perkembangan Karinding juga menyebar ke daerah Parakan Muncung dan juga Ujungberung. Di daerah Ujungberung, Karinding digunakan sebagai alat musik pengiring warga belajar silat. Sementara di daerah Parakan Muncung, ada satu sosok yang mempopulerkan alat musik ini, yakni Abah Olot. Abah Olot yang berasal dari Parakan Muncang ini merupakan anak dari Entang Sumarna yang merupakan seorang pembuat dan musisi Karinding di kawasan Manabaya, Cimanggung, Parakan Muncang. Bersama grup Giri Kerenceng, Karinding kemudian menyebar di Cicalengka dan menginspirasi seniman muda untuk turut berpartisipasi mengeksplorasi Karinding serta memperkenalkannya ke publik.

Ketekunan Abah Olot pun membuahkan hasil. Karinding yang tadinya dikenal sebatas kalangan tertentu kini dilirik juga oleh kelompok musik metal di Ujungberung, yakni komunitas Ujungberung Rebels. Tertarik akan nilai-nilai kesederhanaan, falsafah, serta nada yang dihasilkan oleh alat musik karinding. Ujungberung Rebels pada tahun 2009 mendirikan Karinding Attack, yakni sebuah grup metal yang mengeksplorasi nada menggunakan berbagai jenis alat musik tradisional Sunda.

“Grup musik ini merupakan sebuah fusion atau perpaduan antara gaya keras, tempo cepat, dengan lantunan nada Sunda yang halus,”jelas Kimung.

Dalam grup KARAT atau Karinding Attack terdiri atas sembilan personel, yakni Ki Ameng (karinding), Wisnu (karinding), Kimung (celempung indung), Hendra (celempung anak), Papay (celempung renteng dan kohkol), Okid (gong tiup), Zimbot (suling), Yuki (suling), serta Man Jasad (vokal). Ketika mendengarkan penampilan grup ini, saya menemukan sebuah perpaduan yang unik. Pada salah satu lagu yang ditampilkan, nada dimulai dengan permainan suling yang kemudian dilanjutkan dengan tabuhan gendang, dan dilanjutkan dengan nada yang tiba-tiba metal. Sang vokalis berteriak dengan semangat menyuarakan kritik-kritik sosial dalam lagu ‘Maap’, ‘Lapar Mak’, serta ‘Numora’. Perpaduan karakter metal dengan sentuhan karinding yang meditatif menghasilkan sebuah pertunjukan yang jauh lebih meresapi maknanya.

“Karinding sendiri pada dasarnya memang memiliki banyak filosofi. Bagian pertama dari karinding, pancepengan, merupakan bagian di karinding di mana pemain mesti memegangnya dengan baik. Jangan dipegang terlalu erat tetapi pas dan mantap. Bagian ini mengandung filosofi yakin, bahwa sang pemain harus yakin dengan apa yang ia pegang sebelum kemudian ia mainkan. Yakin bahwa apa yang dimainkannya akan berguna bagi orang banyak,” jelasnya.

Lalu, setelah yakin maka pemain karinding bisa mulai menabuh karinding dengan sabar, tidak tergesa-gesa. Dalam hubungan dengan diri, kesabaran ini mengacu kepada ketekunan dan juga disiplin diri serta manajemen waktu yang baik. Kesabaran berhubungan erat dengan upaya terus menerus mencapai yang terbaik, pantang menyerah dan kreatif dalam menyusun berbagai langkah-langkah yang telah diyakini dengan benar. Setelah itu, karinding bisa dirapatkan ke rongga mulut sampai mengeluarkan bunyi. Ketika bunyi itu hadir, sudah bisa diatur secara sadar oleh sang pemain. Sadar bahwa sang pemain sebaiknya memainkan apa yang harus dia mainkan sebaik mungkin, mengisi kekosongan kawannya, dan juga menyadari posisinya dalam grup.

“ Pola harmonisasi serta prinsip yakin, sabar, dan sadar ini yang menarik untuk diketahui karena ternyata bermuasal dari kearifan lokal masyarakat Sunda. Kalau dalam istilah Jawa Tengah, Eling Lan Waspada,” jelasnya di akhir obrolan.

Utami Diah Kusumawati

Jurnal Nasional Edisi Minggu, 11 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s