untitled


Kata Ibu, hati perempuan itu terbuat dari kaca. Ia menawan, mengilap, memesona namun sekaligus juga rapuh. Sekali salah sentuh, ia akan pecah berkeping-keping dan sulit dipersatukan kembali. Aku tak ingin mempercayai perkataan Ibu. Perempuan tidak selemah itu. Aku tidak selemah itu. Aku kuat. Hatiku terbuat dari batu karang yang tak juga pecah dan bergeming meski terhempas kerasnya ombak. Ingin rasanya mempercayai hal itu. Tetapi, mengapa sulit sekali untuk melepaskan diri dari kenyataan bahwa perkataan Ibu di akhir cerita selalu…. benar.
***
Novel yang sedang kubaca telah sampai pada halaman 70. Tokoh lelaki dalam novel itu bertemu dengan tokoh utama perempuan di sebuah jamuan makan malam. Sang lelaki, terlihat acuh dengan penampilan acak: rambut tergerai sebahu, baju kemeja yang terbuka kancing bagian dada, serta celana jins selutut dengan warna pudar, menemukan tatapan sang perempuan dari sudut ruangan. Perempuan itu tampak jauh lebih beradab dibanding sang lelaki. Ia mengenakan setelan gaun hitam selutut yang tampak serasi dengan kalung mutiara yang dipakaikan secara anggun di leher perempuan yang jenjang. Ketika mata sang lelaki menemukannya, ia sedang tergelak dan wajah lucunya terpaku beberapa detik menatap sang lelaki.
Aku tersenyum dan langsung meletakkan novel tersebut di atas kasur. Mataku terpejam dan imajinasiku lantas mengembara. Ya, Tuhan, betapa indah pertemuan itu. Betapa romantis. Memang manusia selalu ditakdirkan untuk berpasangan dan memang pertemuan itu lah titik puncaknya. Perempuan dan lelaki, bersatu dalam cinta yang dicari-cari nyaris seumur hidup mereka. Ah, betapa pandai sang penulis melukiskan kejadian itu ke dalam rangkaian kata-kata. Membuatku terpesona lalu larut ke dalamnya.
Suatu saat nanti, akan kutemukan pangeranku, seperti kisah-kisah yang kubaca dalam kisah novel romansa itu. Suatu ketika nanti, ketika sudah cukup umurku, aku akan bahagia selamanya bersama dengan sang kekasih hati. Ia yang memenuhi selera yang kuinginkan, akan selalu melindungiku, menjagaku, serta mengasihiku sebagai seorang perempuan. Ya, seorang perempuan. Suatu saat nanti….
***
“Sedang apa?”
“Menulis.. eh tidak aku sedang…”
“Pasti berhayal memimpikan Arto,”
“Tidak,”
“Gak mungkin. Aku tau wajahmu seperti apa setiap kali membayangkan lelaki itu. Ngaku saja. Memang dia udah nembak kamu belum?”
“Belum.”
“Kok bisa? Kalian kan jalan bersama terus setiap saat.”
“Gak tau, mungkin aja dia ilfil sama aku.”
“Kok gitu ngomongnya?”
“Soalnya dia ngomongin perempuan lain.”
“Perempuan lain? Siapa?”
“Si cantik yang sangat feminin itu.”
“Tenang, ngomongin belum tentu suka, siapa tau dia hanya mau buat kamu cemburu. “
“Mudah-mudahan saja yah begitu.”
“Kita berdoa aja biar gitu. Terus, cerita pendek kamu bagaimana kelanjutannya?”
“Sudah selesai, tapi bingung mau diapain terusnya.”
“Dikirim saja.”
“Gak mau, belum pede.”
“Ah kamu biasa seperti itu. Ayo, aku bantu mengirimkan. Tulisan-tulisanmu kan bagus.”
“Gak ah, biar saja jadi konsumsi pribadi.”
“Tuh kaan.. gimana mau maju?”
Percakapan itu sudah berlangsung sekitar lima belas tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Debi adalah teman baikku di sekolah. Ia adalah satu-satunya anak yang selalu mendukung hobi menulis dan mendorongku untuk segera menerbitkan buku kumpulan cerpen. Ia juga yang menyebarkan buku cerpen yang kutulis ke seluruh anak di kelas. Mereka membacanya bergiliran dan banyak dari mereka yang memuji tulisanku. Di sekolah, aku menemukan kekuatan dalam diriku tumbuh, berkembang, dan diapresiasi secara luar biasa oleh kawan-kawan sekolahku. Bahkan guru-guruku yang selalu tidak pernah ketinggalan mengirimkan tulisan-tulisanku untuk disertakan ke dalam festival bulan bahasa tingkat sekolah dasar.
Namun, di rumah, tidak pernah ada percakapan seperti itu. Tulisan-tulisan yang menggunung di meja belajar tidak pernah dianggap penting oleh orang rumah. Kalau di sekolah aku belajar mengenali bakat, di rumah aku belajar untuk menanamkan impian bahwa setiap perempuan pada akhirnya nanti akan menikah dan hidup bahagia, persis seperti akhir cerita di novel-novel, film ataupun kisah yang diturunkan oleh ibu, nenek, atau tanteku. Mereka tidak pernah menceritakan bahwa dengan sebuah kekuatan impian, seorang perempuan akan bisa hidup baik dengan kekuatan kakinya sendiri. Impian menurut mereka adalah ketika akhirnya perempuan bisa menikah dan mengikuti suaminya. Dan, aku sebagai anak perempuan yang juga tumbuh dalam norma yang menanamkan nilai bahwa nasehat orangtua adalah bekal hidup di masa depan, memercayai sepenuh hati perkataan itu.
“Ibu, kalau aku nanti dapat suami yang gak terlalu kucintai bagaimana?”
“Gak penting, yang penting ia cintai kamu. Lelaki itu mudah pindah ke lain hati soalnya. “
“Tapi bukannya hubungan bisa hambar?”
“Ah, siapa bilang. Tantemu aja bisa bertahan sampai sekarang. Punya enam anak lagi. Perempuan itu gak usah banyak nuntut. Sudah syukur ada lelaki yang mau ngurus kita.”
“Begitu ya Bu?”
“Iya. Di mana-mana kita memang harus ikut dengan perkataan suami.”
Begitu kata Ibu. Dan, aku pun tumbuh dalam kerangka berpikir seperti itu. Tujuan hidupku adalah sesederhana menemukan lelaki yang sangat mencintaiku, dilihat dari perlakuannya: memperhatikanku, bisa mengantarjemput, selalu ada saat kubutuhkan, melindungiku, membuatku merasa aman berada di dunia ini. Tetapi, apalah rasa aman itu kalau ditentukan dari bagaimana orang memperlakukan kita? Bukankah rasa aman itu diciptakan dalam diri sendiri bukan muncul karena kehadiran orang lain? Dilema hadir dalam diriku.
***
Seperti novel yang kubaca, perempuan mesti menemukan pasangannya, kekasihnya, berdua dan tidak sendiri. Jika, ia setelah bertahun-tahun melalui masanya untuk mencari kekasih tetap melajang, berarti ada kesalahan. Dan kesalahan itu, dalam duniaku, selalu ditujukan bagi sang perempuan. Ketika orangtuaku bertengkar karena satu hal, Ibu lalu akan menyalahkan dirinya dengan melihat dirinya rendah. Ia akan mencari-cari alasan bagaimana sikap dirinya buruk, salah, dan tidak tepat untuk ditujukan kepada Ayah. Padahal, di mataku, pertengkaran itu tercipta karena ego besar Ayah yang tak pernah mau disalahkan. Ayah selalu sempurna, benar, dan tidak pernah salah.
Pengalaman ini, ternyata meresapi alam bawah sadarku, dan berimbas kepada hubunganku dengan lelaki. Setiap kali menjalin hubungan dan gagal, aku selalu menyalahkan diriku. Kenapa aku tidak bisa lebih baik? Kenapa aku tidak bisa lebih perhatian? Kenapa aku tidak begini dan begitu. Dan diantara perasaan bersalah itu, aku menyisipkan imajinasiku akan romansa. Dalam novel-novel yang kubaca, kesakitan itu adalah kewajaran dalam sebuah hubungan perempuan dan lelaki, terutama bagi sang tokoh perempuan.
“Aku gak mengerti apa yang salah sama diriku!”
“Salah bagaimana?”
“Aku gagal lagi menjalani hubungan dengan lelaki ini.”
“Kenapa mesti anggap kamu yang salah?”
“Karena aku memang tidak pandai dekat dengan lelaki. Dia sudah begitu sempurna, baik hati, perhatian, dan tak perhitungan.” Aku mulai memasuki pola berpikir yang kudapat dari lingkup keluargaku.
“Kenapa mikir begitu?”
“Karena memang aku yang bodoh!” aku akan berteriak setengah panik menyadari bahwa kekurangankulah yang mengantarku ke jurang kehancuran. Tingkat penyesalan pada tahap ini akan memuncak dan kepalaku akan terasa sakit serta pandangan berkunang-kunang.
“Kamu gak salah apa-apa lagi. Kalian memang tidak cocok saja.”
“Tetapi aku bisa saja melakukan hal yang lebih baik dari sekarang…” aku mulai mencari-cari hal yang justru bisa memperbesar rasa bersalahku. Pikiran-pikiran negatif atas diri sendiri.
“Dengan apa? Kau sudah berusaha sebaik-baiknya kau bisa.”
“Tetap saja gagal. Seorang perempuan yang gagal.”
“Itu karena dia yang bodoh dan kau beruntung tidak mendapatkan lelaki itu.” Temanku berupaya melawan perasaan negatifku atas diri sendiri dengan mencoba membuka pemahaman lain. Namun, aku yang sudah keburu larut dengan semua mekanisme menyerang diri sendiri, akan jatuh ke dalam melankolia panjang. Beberapa hari aku akan menangis. Menangisi semua kelemahanku, kekuranganku, diriku, yang menuntun pada kegagalan semua hubunganku. Menyedihkan. Aku benar-benar merasa tidak berharga.
***
Seorang penulis sejati adalah ia yang bisa betah duduk berjam-jam lamanya untuk memfokuskan pikirannya kepada tulisan. Aku bercita-cita menjadi penulis, namun aku tak pernah mau melatih diriku untuk melakukan hal tersebut. Yang kulakukan setiap kali aku merasa ide sudah berkecamuk dalam pikiranku adalah membuka laptop, menulis sebentar, menyalakan lagu, lantas berkubang ke dalam imajinasi romansa. Tak lama kemudian, aku akan berhenti menulis karena sudah merasa nyaman dengan buaian perasaan dan imajinasiku sendiri. Aku menemukan dia, lelaki itu, atau hatiku sakit sekali aku bahkan tidak bisa berpikir saking sakitnya karena dia, lelaki itu.
“Kamu harus melatih pikiranmu. Jangan bentar-bentar ke lelaki. Baru semenit nulis udah ngayal dengan romansa-romansa murahanmu itu.” Seorang teman menasihatiku saat melihat wajahku sudah mulai putus asa.
“Sialan! Aku gak mikirin romansa. Aku sedang mikir kenapa lelaki itu seperti memainkan perasaanku ya?”
“Itu dia. Kamu terlalu terfokus pada apa yang terjadi antara kau dengan lelaki itu. Sudah jelas-jelas dia tak tertarik padamu. Tapi, kau terus mencari-cari penyebab dan alasan. Untuk apa?”
“Kupikir masih ada peluang.”
“Mending kau fokuskan dengan tulisanmu. Apa salahnya hidup sendiri dan mengejar impianmu. Fokus pada apa yang menjadi kekuatanmu, tidak lantas menjatuhkan dirimu dengan berhayal yang tidak-tidak. Atau jangan-jangan kau kini sudah menjadi sadomasokis. Menikmati dirimu kesakitan.”
“Asem! Aku tidak gila sakit.”
“Buktinya sekarang. Tahu kau hanya dimanfaatkan masih tetap saja bertahan.”
Apa yang membuatku bertahan sebenarnya? Aku tahu bahwa hubungan ini hanya berjalan searah dan jelas-jelas aku hanyalah bidak dari strategi besarnya menaikkan namanya sendiri. Tetapi mengapa aku masih mau bersamanya. Karena aku sekarang memiliki seorang lelaki yang disebut kekasih, seperti layaknya perempuan-perempuan umum lainnya? Meskipun aku tahu bahwa tanpa seseorangpun, sebenarnya aku mampu menjalani hidupku sendiri?
“Ibu gak mau kamu asik sama duniamu sendiri. Carilah pacar. Jangan cuma kejar impian saja. “
“Apa salahnya asik sama impian kita sendiri, Bu?”
“Kamu tidak paham. Buat apa ngejar cita-cita setinggi langit. Tanpa lelaki, cita-cita perempuan itu tak ada artinya sama sekali. “
Apa benar memang begitu? Jika perempuan menjadi lajang, apakah semua membuat perempuan itu tampak buruk meskipun ia memiliki segudang prestasi? Seolah semua keunggulan itu tertutupi dengan satu cacat yang mematikan: ia tak bersuami, berkekasih, atau tidak laku. Memang aku pernah mendengar cibiran salah satu tanteku terhadap satu sodara perempuan yang lain. Perempuan itu pekerja kantoran, konsultan humas di sebuah perusahaan media agency. Di usianya yang ke tigapuluh lima tahun, ia sudah mendapatkan banyak penghargaan dan profil di media-media cetak serta visual. Tapi, bagi tanteku tetap saja perempuan itu gagal: ia tak punya pacar, suami, ataupun anak. Hah!
***
Kini perempuan itu telah berdiri di depan sang lelaki. Mereka tak menyangka akhirnya tiba juga pada titik itu. Titik yang selanjutnya akan mengubah kehidupan mereka berdua. Takdir yang mempertemukan mereka. Dan sang lelaki akan menggandeng tangan sang perempuan. Ia akan menggamitnya dengan lengannya yang kokoh dan kekar. Perempuan itu akan menyelipkan lengannya yang mungil diantara lengan kekar sang lelaki. Bersama, mereka akan berjalan menuju sebuah pintu, melarikan diri dari acara jamuan makan malam yang menjenuhkan.
Kuletakkan novel itu di atas meja. Halaman telah mencapai angka 120, sebentar lagi cerita akan mencapai konflik dan menemui klimaksnya sebelum akhirnya mencapai titik balik. Tenggorokanku terasa kering. Maka, aku berjalan mengambil segelas air putih. Aku tahu sebenarnya, dari semua novel-novel romansa yang kubaca, ending akan berakhir seperti apa. Semua alur cerita seperti bisa tertebak olehku sejak awal. Namun, tetap saja aku senang membacanya hingga habis. Lantas, menyelipkan diriku ke dalam imajinasi, sebuah sesi lanjutan usai membaca novel.
***
“Jadi, pas pulang dia gak antar kamu?”
“Enggak.”
“Gila, jam berapa itu padahal. Jam dua, sayang, jam dua malam!”
“Iya, tapi aku biasa pulang sendiri.”
“Jangan jadikan alasan. Keenakan dia.”
“Ngapain sih mesti tergantung sama orang.”
“Bukan itu maksudnya. Sudahlah. Dia tanya kabarmu setelah kau sampai rumah?”
“Enggak. Mungkin dia cape.”
“Gila. Aku gak ngerti kenapa kamu bisa suka sama dia. Kamu sama dengan perempuan-perempuan lain yang menikmati diperlakukan sewenang-wenang oleh kekasih mereka.”
“Tidak, aku berbeda.”
“Kau sama.”
“Beda.”
Namun, meski ujung bibirku mengucap kata ‘beda’, dalam hatiku aku mengamini perkataan temanku. Aku memang terlihat menikmati perlakuan sewenang-wenang pacarku. Tubuhku gemetar saat membayangkannya. Apa benar perempuan sepertiku ternyata seorang sadomasokis?
***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s