Transformasi Tarling: Sinergisme Tradisi dan Industri


TRADISI

Transformasi Tarling: Sinergisme Tradisi dengan Industri
N. Riantiarno dalam sebuah acara diskusi buku Kitab Teater beberapa waktu lalu di Gedung kesenian Miss Tjitjih mengatakan pentingnya sinergisme antara dua hal yakni idealisme dengan bisnis untuk mengembangkan dunia pertunjukan di tanah air.
Hal ini terutama penting diperhatikan ketika membicarakan ranah tradisi, bukan karena grup-grup kesenian pertunjukan tradisi, yang mengusung konsep ‘masa lalu’ terancam punah akibat industri bisnis terkait pasar dan komodifikasi yang berkembang pesat. Melainkan, ditilik dari kemampuan mereka untuk bertahan, grup-grup kesenian tradisi ini mau untuk mengkompromikan dua dunia, masa lalu dan masa sekarang, tradisi dan industri, tanpa meninggalkan esensi isi. Salah satunya misalnya saja kesenian tradisional asal Jawa Barat, tarling.
Musik tarling (merupakan kependekan dari kata guitar atau gitar dan suling) adalah jenis seni untuk janggrungan atau hiburan yang semula biasa dilakukan oleh anak-anak muda pesisir utara di malam hari. Mereka biasa naik ke atas panggung, menyawer sembari mendengarkan lagu yang berisi pesan moral yang mencerahkan jiwa.

Dalam era selanjutnya, tarling berkembang menjadi seni pertunjukan panggung, juga industri hiburan. Asal-usul tarling, menurut Wikipedia, mulai muncul sekitar tahun 1931 di Desa Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan musik Dermayonan dan Cirebonan popular sekitar tahun yang sama dan menjadi gaya hidup, sesuatu yang digemari, bagi anak-anak muda di daerah tersebut.
Saat itu, nama tarling belum digunakan untuk menyebut seni tradisi ini. Nama yang digunakan untuk merujuk kesenian musik daerah pesisir utara adalah Melodi Kota Ayu untuk daerah Indramayu serta Melodi Kota Udang untuk daerah Cirebon. Nama Tarling kemudian baru diresmikan saat Radio Republik Indonesia sering memperdengarkan musik ini. Kemudian oleh Badan Pemerintah Harian (DPRD), nama tarling diresmikan untuk seni musik ini pada tanggal 17 Agustus 1962.
Tarling berkembang di wilayah yang dipengaruhi unsure Cirebon, khususnya Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan Subang. Instrumen yang dahulu dipakai biasanya gitar dan suling. Sekarang telah berkembang dengan menambahkan gitar melodi, ritmis, bas, suling, kendang, gong, kecrek, dan vocal. Lirik yang biasa dipakai adalah bahasa Jawa dialek Cirebon atau Dermayon. Instrumen banyak mengubah idiom musik dalam gending-gending tari Cirebon, wayang kulit, dan kliningan Sunda (Telisik Tradisi, Kelola).
Menurut Anton Rustadi Mulyana dalam artikelnya Tarling Cahaya Muda, buku Telisik Tradisi, tarling semula merupakan jenis seni untuk janggrungan atau hiburan yang umumnya dilakukan oleh anak-anak muda pesisir utara pada malam hari. Tetapi karena alasan minat dan sikap kreatif serta respon yang bagus dari masyarakat pendukungnya, tarling kemudian bertransformasi menjadi seni pertunjukan panggung sekaligus industri hiburan.
Hal ini tampak pada misalnya bergesernya perangkat instrumen yang dipakai dalam seni tarling menjadi lebih kompleks. Saat ini musik tarling telah menggabungkan unsur musik, sastra lagu, serta teater untuk menghasilkan jenis pertunjukan yang popular. Terkadang, musik dangdut, yang masih menimbulkan pro dan kontra diantara para seniman, juga diselipkan di dalam tarling untuk lebih menarik perhatian dengan memunculkan bintang-bintang biduan tarling seperti diantaranya H. Dariyah dari Cahaya Muda atau Nunung Alvi, Tia Permatasari, atau Sri Avista.


Meski demikian, kekhasan tarling dalam pemuatan kisah-kisah lokal yang biasanya diceritakan dalam cerita rakyat, dongeng, legenda, atau kisah keseharian penduduk Jawa Barat tetap dimasukkan selain tentunya menggunakan gitar dan suling. Misalnya saja yang dilakukan oleh Yoyo Suwaryo dari grup tarling Dharma Muda yang mengangkat fenomena sosial eksploitasi perempuan dalam seni tarling dalam lagunya Dongbret. Hal ini menyebabkan kesenian ini terus bertumbuh menjadi seni pertunjukan yang tetap mendapat tempat di hati masyarakatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s