RINDU


Image

RINDU

10.10

Ketika pertama kali membuka kedua mata, rasa malas itu masih ada. Berat dan mengukung seperti tali yang diikatkan kencang pada tubuhnya.

Ia menarik nafas panjang seolah-olah kegiatan tersebut bisa menyuntikkan kekuatan untuk berdiri dari tidurnya. Tetapi, tidak ada yang terjadi. Tubuhnya masih telungkup seperti bintang laut merebahkan diri di atas pasir. Ia sadar sudah saatnya bangun sebab sekali ia membiarkan rasa malas itu menguasai, ia akan menjadi sulit untuk dilepaskan. Seharian ia bisa-bisa hanya berbaring.

Lantai terasa seperti udara malam hari di lereng gunung di pipinya, membangunkan rasa lapar di tubuhnya. Semalam, belum sempat meletakkan sehelai kasur di atas lantai kamar ia sudah terburu terlelap. Malam tadi masih sama seperti malam-malam panjang lainnya dengan kegiatan rutin latihan teater hingga tengah malam. Usai latihan yang biasanya diakhiri pukul dua belas, ia akan menulis naskah di kamarnya sebelum mengizinkan diri tertidur. Tetapi, semalam hujan turun deras. Usai merokok di luar kamar dan memperhatikan rasa dingin pelan-pelan menjadi sahabatnya, ia masuk ke kamar dan kalah oleh kuasa dingin yang menjadi di saat hujan turun. Ia tertidur.

Kini, ia terbangun empat jam sebelum ia memulai latihan teater. Biasanya ia akan berdiri dengan cepat usai membuka mata, terlebih saat menyadari matahari sudah naik nyaris di atas kepalanya. Lalu, ia akan melakukan olah tubuh dan pemanasan, merentangkan kedua tangan, menekuk tubuhnya, menggoyangkan kepala, merasakan seluruh otot tubuhnya tertarik dan darah mengalir lancar di tubuh mengusir rasa malas dan menyumbangkan kesegaran.

Sementara, setibanya di tempat latihan, ia akan mengkordinir teman-teman teater untuk melakukan pemanasan setelah bincang-bincang singkat mengenai apapun di dalam ruang latihan. Mereka biasa melakukan latihan pemanasan gerak tubuh selama kurang lebih sejam sebelum berlatih akting dan peran. Untuk kali ini, mereka semua sedang mendalami naskah terjemahan Oscar Wilde yang berjudul The Importance of Being Earnest. Kegiatan itu rutin ia lakukan nyaris setiap hari selama kurang lebih tiga jam dan akan meningkat frekuensinya tatkala grup teater mereka akan melakukan pementasan.

Dia tidak pernah merasa jenuh melakukannya setau yang ia sadari. Tetapi, tidak untuk beberapa hari ini. Seperti ada sesuatu yang menahannya. Sesuatu yang mengingatkan akan kekosongan ruang di kamarnya tidur setiap malam walaupun perkakas pementasan berserakan di sana. Naskah-naskah yang ditumpuk di sebelah komputer, koleksi film pertunjukkan, sketsa-sketsa gambar yang ia pajang di tembok lemarinya ternyata sudah dipenuhi debu waktu.

Ia memejamkan mata kembali. Terbayang olehnya pertemuan dengan perempuan itu di suatu pertunjukkan musikal. Ia sebenarnya tidak terlalu menyukai hadir ke acara musikal kecuali jika benar-benar terpaksa. Hari itu, ia datang karena temannya, salah satu produser film yang hendak memberikan peran utama di sebuah film major label, mengajak bertemu di acara tersebut. Maka, ia pun datang hanya dengan sebuah niat bertemu sang teman. Mengejar kebutuhan finansialnya yang semakin menipis hari demi hari, nyaris nihil.

Ketika ia memilih menunggu di sebuah kafe yang letaknya cukup jauh dari keriuhan pengunjung musikal, di satu pojok ruangan yang arah pandangnya terhalang oleh rindang pepohonan berukuran besar, datanglah perempuan itu. Ia memiliki rambut panjang dan ikal kecil menyerupai jalinan mi instan yang umumnya ia santap setiap hari tergantung di kepala sang perempuan. Tidak ada yang istimewa dari perempuan itu. Tubuhnya kurus dan kecil dan ia terlihat sangat sadar diri akan proporsi tubuhnya. Ada aura ketidakpercayaan diri terpancar dari gerak-gerik perempuan tersebut. Meski sebenarnya, lelaki itu menyukai pilihan baju yang dikenakan sang perempuan: sebuah setelah gaun selutut yang mengingatkannya akan Argentina era 1980an dengan motif bunga-bunga dan rok lebar.

Perempuan itu sadar kalau ia diamati. Berkali-kali ia mengintip dengan sudut matanya ke arah tempat duduk sang lelaki. Kadangkala tatapan mata mereka beradu dan perasaan yang muncul memberikan lelaki itu suatu kesenangan tersendiri. Sebuah peluang petualangan singkat selama ia menunggu sang teman. Ia mencondongkan tubuh untuk menu jukkan ketertarikan. Namun, sang perempuan semakin bertambah kikuk. Jelas terlihat gelombang ketidakpercayaan diri menyerbu perempuan itu. Sekonyong-konyong sang lelaki membayangkan kesulitan-kesulitan yang dialami sang perempuan dalam hidupnya. Ketersiksaan untuk berada di tengah-tengah orang asing yang menyulut rasa sadar kekurangan kepribadian pada diri sang perempuan.

Namun, malam itu, bulan dan langit terlihat menawan. Sejujurnya, ia bukan pria yang sangat romantis. Ia tidak senang bermain-main imajinasi dari alam dan hanyut terbawa perasaan. Tetapi, maam itu terasa sedikit berbeda. Ada sebuah keinginan yang mendesak muncul secara alamiah untuk lebih merasakan alam. Ia menikmatinya. Keinginan awal untuk berpetualang telah tergantikan dengan gairah lain yang uniknya memberikan rasa ketenangan tersendiri. Ia bisa merasakan gamblang bagaimana udara bergerak lambat menyapu tubuh, melihat sinar bulan menembis awan dan membentuk bayangan bundar di atas danau dekat kafe, mendengar daun bergesekan terkena angin, serta rasa sejuk yang menjalar dari dalam tubuh. Semua keheningan itu, sensasi yang tercipta secara alamiah saat ia menghayati, segera memunculkan sisi lain kepribadian dari sang perempuan.

Di balik kekikukan yang tidak mempesona dan membuat perempuan itu sungguh membosankan, ia bisa merasakan sebuah kehangatan api menyala. Api yang tidak dimiliki oleh semua orang, hanya bagi mereka yang telah menerima pengalaman pengalaman terpahit dalam hidup tetapi terus bertahan dan maju. Ia yakin perempuan itu pernah berada dalam satu titik di mana ia berdiri pada ambang keyakinannya, nyaris terjungkal ke jurang. Tetapi, api itu menyelamatkannya, membawanya terus ada hingga waktu ini. Kekuatan itu seketika terpancar dan ia merasakan merasuki tubuhnya, mencuri perhatian dan juga membuatnya malu. Kejujuran perempuan itu akan keseluruhan dirinya membuatnya gerah.

Ia telah menguliti perempuan itu ke batas terdalam imajinasi atau instingnya? Semestinya ia menghampiri perempuan itu dan mengajaknya berkenalan, tetapi ia hanya duduk di sana, menikmati malam sementara menunggu sang kawan, termangu dan memikirkan tindakannya. Ia tertarik pada perempuan itu tetapi lagak-lagaknya menunjukkan sebaliknya. Ia memainkan wajah lain.

Keesokan pagi, ia menemukan sapu tangan sang perempuan diantara genggaman tangannya. Ia tidak yakin telah mengajak perempuan itu mampir. Hanya ada bayangan singkat mereka jadi mengobrol malam itu di tepian danau. Mungkin saat itulaah saputangan sang perempuan tertinggal dan ia menyimpannya. Sapu tangan satin warna merah yang menguarkan aroma rempah kuat. Jantungnya berdegup kencang. Ia merindukan perempuan itu, yang pergi dengan menyisakan hanya satu buah sapu tangan merah.

Hari ini adalah hari kelima setelah malam pertemuan itu. Tubuhnya masih terasa lemas. Ia membalik badan dan telentang di atas lantai. Satu tangan diletakkan di belakang kepala, satu tangan lainnya memegang sapu tangan merah milik sang perempuan. Di satu titik pada ruang tempat ia berbaring, ia melihat perempuan mungil itu, duduk tersenyum menunggunya, menunggu ia untuk memberikan kembali sapu tangan merah tersebut. Lelaki itu tersenyum, rasa malas yang mengikatnya seperti tali tiba-tiba melepaskan diri tergantikan dengan dorongan perasaan yang bergejolak.

12.45
Lelaki itu bangun dan bersiap-siap menuju tempat latihan teater dengan langkah ringan. Ia belum sempat sarapan ataupun makan siang hari itu, tetapi perutnya terasa kenyang.
Ia akan berlatih naskah Oscar wilde dengan sepenuh hati.

Utami D.Kusumawati
Ciledug. 7.11.2011

5 pemikiran pada “RINDU

    1. “Saya punya sapu tangan merah. tidak sengaja menemukannya di surau dekat rumah pengobatan Raden Saleh. Persis di warung mainan yang di pakai nonton pertandingan bola pasien.” –> mau dikembalikan atau disimpan sapu tangan merah itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s