Pertarungan Dua Dedes


Utami D. Kusumawati

Pertunjunjukkan Techno Ken Dedes membawa intepretasi ulang atas sosok perempuan masa lalu dan masa kini

ALKISAH menurut naskah kuno Pararaton, muncul sosok perempuan istimewa dari kerajaan Majapahit. Ialah Ken Dedes yang dari rahimnya terlahir pemimpin-pemimpin kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan terbesar sepanjang sejarah yang ada di bumi Nusantara. Dengan kecantikan, Nareswari berupa daya pikat seksualitas dari sebuah betis, perempuan Dedes ini membuat para lelaki bertekuk lutut di hadapannya, salah satunya Ken Arok, penerus kerajaan Majapahit.
Oleh teater Stage Corner Community (SCC) di bawah penyutradaraan serta penulisan Dadang Badoet kisah Ken Dedes dengan intrik, romansa, serta elegansinya dikisahkan kembali ke atas panggung, tepatnya di Gedung Kesenian Jakarta pada pertengahan Oktober ini. Maka, sosok Ken Dedes pun menyapa penonton yang hadir di ruang pertunjukkan, membawa kembali kenangan serta permenungan mengenai perempuan, liberasi seksualitas, serta gugatan atas takdir.
Malam itu, muncullah dua Dedes di atas panggung. Yang satu menyebut dirinya Dedes Purba (Sintya Syakaraw). Ia mengenakan kain tradisional panjang berwarna oranye cerah dan berdiri di atas tumpukan batu-batu. Tingkah laku serta ucapan Dedes satu ini setradisional pakaiannya. Sementara di sebelah kanan panggung, keluarlah sosok Dedes lain dari dalam bak kamar mandi. Tubuhnya montok dan bahasa tubuhnya penuh kepercayaan diri. Ia adalah Dedes Techno (Y.G. Threnov) atau Dedes yang memiliki atau memperjuangkan nilai kekinian.
Maka, pertunjukkan lantas dibuka dengan dialog saling silang antara perempuan bernama Dedes Purba dengan sosok dirinya yang berseberangan, Dedes Techno, mempertanyakan identitas serta ideologi diantara persiteruan kemasalaluan dengan kekinian.
“Aku Dedes yang menari di gelap purnama…. Aku Dedes yang lahir kembali di pusaran tanah merah,”ucap Dedes Purba yang langsung dicecar Techno Dedes dengan ganas,” Tidak! Peradaban batu. Kau hanyalah peradaban masa lalu yang berjalan.”
Perempuan di mata Mary Daly, pengarang dan feminis yang menerbitkan buku Beyond God the Father: Toward a Philosophy of Women’s Liberation, selalu berdiri diantara tensi nostalgia masa lalu dengan pengalaman masa kini, yang bertentangan dengan keyakinan purba. Nostalgia masa lalu merupakan sebuah sistem yang terdiri atas dorongan seksisme serta patriarki yang membentuk pemikiran perempuan masa lalu, yakni sebagai pihak kedua yang pasif atau yang “ takdirku (Dedes Purba) adalah telanjangku.”
Dalam dunia Dedes Purba, perempuan tak berhak menggugat takdir. Takdir atau kehidupan bagi seorang Dedes Purba semata-mata terbatas pada tubuhnya dan atas tubuhnya pula itulah ia tak juga memiliki kontrol. Hal ini tampak pada dialog-dialog yang dikemukannya mengenai rahim dan alat kelamin. Bahwa kedua hal yang diagung-agungkan itu, ironisnya, bagi Dedes Purba menjelma batu, tidak bersenyawa, tidak memiliki gairah kehidupan. “.. kelaminku adalah batu, rahimku adalah batu.”
Sementara, bagi Dedes Techno, takdir tidak hanya diyakini atau diterima secara pasrah tetapi juga diperjuangkan. Bahkan, baginya kalau perlu, ditepis atau tidak diyakini, jika itu membatasi perjuangannya menuju kebebasan, meraih keberhakikian sebagai seorang manusia yang hidup. Kebebasan apa yang ia raih? Dedes Techno mewakili perjuangan perempuan untuk bisa memiliki kontrol atas tubuhnya, seksualitasnya, bahkan rahimnya sendiri. Dedes Techno tak takut dengan dependensi Dedes Purba pada lelaki untuk urusan reproduksi serta ancaman jam biologis untuk hamil. Ia mengatakan,” Setiap saat aku bisa hamil, aku tidak membatasi telur-telurku berbuah. Aku hamil dengan metode baru, seks futuristik yang dibalut dengan manajemen qalbu. ” Selain urusan reproduksi, ia juga menghargai sensualitas tubuhnya, sesuatu hal yang dianggap tabu dan vulgar untuk disingkapkan dalam sebuah sistem dunia yang patriarki.
“Sosok Ken Dedes ini merupakan perbenturan dua peradaban yakni masa kini dan masa dahulu, perempuan masa kini kan berbeda dengan zaman dahulu. Meski berbeda, jejak-jejak masa lalu masih tetap ada,”jelas Dadang Badoet ditemui usai pertunjukkan.
Akibat perbenturan tersebut, perempuan, seperti yang dikatakan oleh Mary Daly, mesti mengalami perperangan menuju liberasi. Tak semua berakhir seperti yang diharapkan. Menurutnya, perjuangan itu dibayang-bayangi dengan hati serta impian yang patah di tengah jalan. Meski demikian, tidak ada lagi jalan untuk kembali. Dalam pementasan Techno Ken Dedes ini, kerasnya perjuangan menuju kekinian, kebaruan, terlepas dari satu pemikiran yang terlahir dari sebuah sistem lama disimbolkan dengan darah. Dedes yang pada penghujung pertunjukkan memandikan dirinya dengan darah, satu simbol bahwa perjuangan menuju manusia baru tersebut perlu dibayar oleh seluruh hidupnya.
Akhirnya, sebagaimana sebuah penengah dibutuhkan dari ketegangan dua buah kutub ekstrim agar keseimbangan bisa tercapai, ‘kembali ke rahim’ ditawarkan oleh pertunjukkan ini sebagai sebuah solusi.
“Rahim itu berarti jalan kembali pulang, sebuah kesadaran untk kembali pulang, terlepas dari ketegangan-ketegangan itu,” jelas Dadang.
Metafora rahim ini, saya persepsikan sebagai sebuah representasi atas rumah muasal diri, sebagaimana dijelaskan dalam dialog-dialog para Dedes, rahim adalah tempat di mana benih disemai serta dibesarkan. Dengan mengingat rahim, ketegangan yang dialami oleh dua generasi masa lalu dan kekinian bisa terjembatani, dengan satu tujuan, seperti yang dikatakan oleh Mary Daly dalam esainya God is a Verb, pencarian spiritual, yakni pencarian akan makna serta realitas terdalam akan keberadaan diri dari perempuan atau sang Dedes.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s