MARS


Mars
Utami D. Kusumawati

Satu botol lagi telah dihabiskan. Malam berubah jadi pendar-pendar cahaya yang berbaur menampilkan kenikmatan yang mungkin mereka bilang ‘surga’. Nyatanya, aku tak pernah kesulitan menemukan surga. Satu botol bergambar bintang dan pintu surgapun telah terbuka. Karung batu yang biasanya disesakkan ke kepalaku lenyap sirna setelah satu botol itu habis kuminum. Dunia menjadi ringan seperti bulu. Aku berada di surga 

Mars, kucing gemuk berbulu loreng warna hitam putih itu, sedang menunggu di depan tembok sembari menatap ke langit-langit saat aku menghabiskan botol bir keempat. Ia menggoyang-goyangkan ekornya yang pendek gemuk sementara kepalanya tetap setia tengadah mencari cicak-cicak yang biasanya berkeliaran di sela-sela lukisan atau foto di dinding. Ia tak pernah berhasil mendapatkan cicak-cicak tersebut tentunya, tubuhnya terlalu gemuk untuk bisa melompat tinggi. Tetapi ia selalu setia menunggu di sana seolah-olah suatu saat nanti ia pasti akan berhasil menangkap satu cicak.

Aku berdiri dari kursiku dan melangkah melewatinya. Kubungkukkan tubuh sembari mengacak-acak bulu Mars yang tebal dengan kedua tanganku. Kucing itu mengeong kencang, suaranya berat, nampak tidak suka. Aku mengulangi lagi tindakanku.

“Jangan Marah Mars. Kau tahu, aku sayang kau. Hanya kaulah yang selalu ada saat kubutuhkan. Kau harus tahu itu Mars.”

Aku mendekatkan kepalaku ke arah kepala kucing itu, yang langsung mencondongkan tubuhnya untuk mencium bauku. Ia menolak untuk mendekat. Setelah melakukan satu gerakan, ia langsung menarik kembali kepalanya hingga membuat posisi merunduk.

“Hei! Kenapa kau ini,Mars? Aku sayang kau, Mars.” Aku berteriak kecewa dan menarik kepalanya mendekatiku, lalu menciumnya. Kucing itu menggeliat dan akupun melepaskan tubuhnya kembali.

“Kucing sialan! Tingkahmu menjengkelkan.”

Kutendang kucing gemuk itu dua kali. Ia mengeong dengan nada melengking dan cepat serta menundukkan wajahnya berusaha menghindari kontak mata denganku.

Aku terus berjalan menuju ruang tamu berharap kucing gemuk itu mengikutiku seperti hal biasa ia lakukan. Ia selalu bisa merasakan saat aku ingin bermain-main dengannya atau tidak. Namun, kali ini kucing itu memilih untuk tetap tinggal di tempatnya untuk memburu cicak.

Mars telah tinggal bersamaku nyaris setahun lamanya. Ia adalah seekor kucing kampung yang datang di depan rumah kontrakanku dengan muka menampilkan kesan iba lebih dari wajah para peminta uang di jalanan. Awalnya aku tidak menyukai kucing sama sekali. Pasalnya, ibu selalu berpesan saat kecil kalau kucing bisa membuatmu susah hamil. Aku mempercayai saran itu dan memutuskan untuk menjauhi kucing hingga kemudian aku bertemu dengan Mars.

Ketika pertama kali datang ke rumah, usianya masih kecil. Mars memiliki tubuh yang kurus dengan tulang-tulang menonjol di balik kulitnya sehingga jika kau memegang tubuhnya, kau akan merasakan tulang tersebut. Ia mempunyai bulu tipis dan pendek yang membuatnya terlihat tidak menggemaskan sama sekali. Suaranya kecil namun terdengar ganas.

Saat itu, mata Mars masih terpejam dan ia berjalan tertatih-tatih seperti mencari induk yang telah memberikannya tempat di dunia ini. Aku sempat menduga binatang itu akan mati dalam beberapa jam kemudian. Ia terlihat sangat lemah dan tidak berdaya untuk bertahan hidup lebih dari sehari.

Untuk menghindari rasa bersalah karena membiarkannya mati tanpa berupaya apapun, aku mengambilkannya susu dan meletakkannya di atas keset depan pintu rumah. Lalu aku masuk ke dalam rumah dan menunggu beberapa jam. Menunggu hingga ia tak lagi mengeong. Ternyata, Mars bertahan. Ketika aku membuka pintu, susu yang kuberikan telah dihabiskannya dan ia mengeong kencang seolah menunjukkan amarahnya ditinggalkan sendiri saat hadir di kehidupan ini. 

Saat itulah, aku memutuskan untuk merawat kucing ringkih itu. Kuberi nama kucing itu Mars, yang berarti simbol amarah dan keberanian dalam simbol kartu Tarot. Dua buah sikap yang sejujurnya tak pernah kumiliki dan tak ada pada diriku. Aku, kebalikan dari Mars, adalah seorang perempuan pengecut yang gemar lari dari kenyataan alih-alih menghadapinya dengan berani. Tindakannya untuk mengeong kencang saat ia berada dalam masa-masa kritis bagiku merupakan keberanian untuk tetap mempertahankan hidup dan sikap itu sesuai dengan arti namanya.

Mars pun menjadi bagian tak terpisahkan dalam keseharianku. Saat aku pergi bekerja, ia tak pernah kutinggalkan di dalam rumah. Ia selalu kuberikan kesempatan untuk berkeliaran di luar rumah sesuai dengan kebiasaannya sebagai kucing liar. Namun meski senang bermain ke luar rumah, ia selalu kembali tepat sebelum ataupun saat aku balik dari kantor. Ia akan menyeruak dari kerumunan pohon, tempat sampah, ataupun rumah tetangga dan berlari menyongsongku sembari mengeong. Lalu, ia akan berhenti tepat di sampingku dan mengeluskan tubuhnya ke kakiku.

Setelah itu, aku akan mengelus kepalanya, hal yang paling disenangi Mars dan bisa membuatnya langsung tergeletak seperti kucing mati di lantai. Kemudian, setelah membersihkan tubuhnya dan memberikan kucing itu makan, aku akan membopongnya dan mengelus-elusnya sambil menonton acara di televisi. Nyaris setiap hari kuhabiskan seperti itu.

Karena terbiasa dimanja-manjakan olehku, jika aku tak membopongnya, Mars akan terus mengikutiku ke manapun aku pergi untuk meminta dielus hingga tertidur. Lama kelamaan tumbuh rasa sayangku padanya. Ia menjadi sesosok mahluk yang lebih dari sekadar binatang. Bagiku, ia memiliki perasaan layaknya manusia dan bisa memahami perasaanku sebagai temannya bermain dan bermanja-manja. Kami terhubung satu sama lain.

Namun, akhir-akhir ini, ketika aku mulai mengenal minuman dalam botol ini dan memicu perubahan pada temparemenku, Mars perlahan menjauhiku. Jika dulu ia selalu membuntutiku pulang kerja, sekarang ia hanya tidur-tiduran dan bermalas-malasan di lantai seolah tak peduli dengan kehadiranku. Awalnya aku merasa kesal dengan ketidakpeduliannya tersebut, tetapi kelamaan aku asik sendiri dengan kegiatanku: ocehan-ocehanku saat sudah mulai berada di dunia lain serta imajinasi yang seolah melebihi kenyataan. Aku mencintai ilusi yang kuciptakan sendiri. 

Dalam imajinasi itu, Mars tidak pernah ada melainkan aneka gambaran yang sebenarnya kuharapkan pada hidup untuk datang namun tak pernah terwujud. Keluarga yang tak pernah kumiliki lagi sejak usia empat tahun, sahabat yang bisa benar-benar kupercaya, hingga pacar setia yang bisa menenangkan emosiku yang seringkali tak terkendali. Hal-hal yang kupikir bisa membuatku merasa tidak terasing dalam kehidupan ini. Namun semakin aku melayang ke awang-awang, semakin jauh pula kurasakan keberhadiran Mars.

Hingga hari ini, dia menolak untuk kusentuh sama sekali. Ketika minuman telah habis dan pendar-pendar cahaya semakin buram, yang bisa kulihat hanyalah warna gelap di kedua mataku. Nun jauh di sana. Gelap yang kosong. Gelap tanpa suara. Gelap tanpa keriuhan. Gelap yang sepi menyelimutiku, sendiri. Aku panik dan berteriak-teriak dengan memanggil nama Mars. Nama itu yang pertama kali muncul di benakku.

“Mars! Mars! Mars! Di manakah kau? Mars, kemari kau kucing sialan. Mengeonglah! Katakan di mana kau.”

Aku bergerak menuju entah ke mana, terus memaksakan kakiku bergerak meski lantai terasa dingin. Beberapa kali tubuhku terasa sakit karena terpentok sesuatu namun aku tetap berjalan sembari meneriakkan nama Mars.

Tidak, aku tidak mau sendiri. Aku tidak mau berada dalam kegelapan ini sendiri. Mengeonglah, Mars. Tunjukkan bahwa kau ada di sini.

Tiba-tiba, aku tersandung sesuatu benda. Benda itu besar, basah, dan bergerak. Aku merasakan jantungku berdebar semakin kencang dan kepalaku terasa pusing luar biasa. Aku mundur selangkah dan meraba-raba dalam kegelapan benda apapun yang bisa kupegang.

Setelah menemukan alat tersebut, aku maju kembali dan mendekati benda besar itu. Jalanku sempoyongan karena kepalaku semakin pusing. Tiba-tiba aku merasakan sakit dan perih pada kakiku seperti ada silet yang ditorehkan di sana.

Benda besar itu menyerangku. Terbakar amarah dan juga takut, kupukulkan alat yang kupegang ke arah benda besar itu kalap dan membabi buta dengan sisa-sisa tenaga usai mabuk.

Saat itulah terang tiba-tiba kembali. Lampu sudah menyala. Aku hendak berseru gembira namun kubatalkan saat melihat tragedi mengerikan di depanku: Mars terbujur kaku dengan perut bersimbah darah.

Aku telah membunuh kucing itu dengan botol kaca yang sudah kupecahkan tanpa sadar selagi terserang rasa panik dan takut. Aku ingin menangis, tetapi tak ada air mata yang mau keluar setetespun. Akhirnya aku hanya berdiri, mematung di depan jasad Mars.

Ciledug, 09/10/2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s