Wajah Luka


Wajah Luka

Utami D. Kusumawati

Tusukan demi tusukan jarum mengingatkan sang seniman akan kerinduan pada seseorang di masa lalu. Kerinduan yang membuat kepala lelaki itu seolah hendak meledak, syaraf menjadi kaku dan menegang, serta jantung terasa sakit seperti diremas oleh ribuan tangan kasat mata. Tubuh larut dalam kesakitan yang tak mampu ia ekspresikan. Jarum itu berhenti sesaat tepat ketika ia berpikir akan meledak dalam amarah. Saat itu, ia berupaya menarik kembali semua kesadaran yang nyaris hilang, terkalahkan oleh rasa sakit, dengan menarik nafas. Satu, dua, tiga… Lelaki itu memegang dadanya, sudah ada tato naga di sana. Wajah si penato lambat laun muncul.

“Santai, sebentar lagi,” si penato meletakkan jarum ke atas wadah, melihat wajah kliennya memucat pasi.

“Mau lanjut atau…”

“Lanjut.”

Tap.Tap.Tap.Tap. Suara mesin tato itu  seperti mesin cukur, bergerak mengelilingi sketsa gambar yang telah di buat si penato diatas tubuhnya. Jarum itu semakin mendekati tulang hidung dan menyebabkan rasa nyeri mulai bereaksi. Butuh waktu enam jam untuk menyelesaikan satu gambar. Sakit, perih, sakit, perih… Tubuhnya menggigil. Bukan karena jarum yang mulai merajah bagian kulitnya yang paling tipis, tetapi karena memori perempuan itu yang membuat kesakitannya menjadi berkali-kali lipat rasanya.

Kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu..Daging kita satu arwah kita satu. Walau masih jauh. Yang tertusuk padamu berdarah padaku*

“Brengseek…..!”ia menggeram.  Hatinya pecah dan bergemuruh seperti bunyi mesin tato. Sementara, jarum tato terus bergerak sebagaimana luka hatinya tak pernah lindap. Luka hati yang menetap seperti sebuah tato permanen di tubuhnya.

***

Hari sudah cukup siang bagi sang seniman. Beberapa pembantu sudah mulai duduk di pendopo rumah; tanda pekerjaan rumah tangga selesai dikerjakan. Lelaki berperawakan jangkung  dan bertato naga di dada tersebut masih di ruang lukis, duduk di atas kursi anyaman rotan sembari menyelonjorkan kaki di lantai semen. Kedua tangannya terlipat di dada. Satu batang rokok, masih menyala, terselip diantara jari telunjuk dan tengah. Sesekali ia menghisap rokok kretek sembari duduk menatap sebuah kanvas besar.

Di sebelah kursi, ada sebuah meja ukiran kecil dari kayu jati. Di atasnya, satu gelas transparan berisi kopi Jawa tinggal seperlima isi. Tampak ampas kopi, pekat dan hitam, mengendap di dasar cangkir. Sudah lima cangkir kopi dihabiskannya hari itu. Di sebelah cangkir ada dua buah palet cat minyak dan kuas. Masih bersih seperti kanvas yang disandarkan pada dinding dekat meja tersebut, putih tanpa satupun goresan.

Aktivitas lelaki itu biasanya dimulai sejak pukul tiga pagi saat penduduk desa Parang Tritis masih terlelap. Usai bangun, ia akan membuka jendela kamar. Lalu berdiri di pinggir jendela, ia menatap hamparan sawah yang tampak samar dalam kabut tebal. Hatinya selalu merasa tenteram melihat kabut di dini hari. Warna keabuan dan hitam berpadu membuat kumpulan tanaman padi terlihat seperti kesatuan lukisan. Ia bisa betah berada di sana hingga matahari muncul untuk menyelami perasaannya. Berdiri sembari menghirup udara pagi yang dingin dan datar seperti hatinya. Umumnya usai melakukan hal tersebut, inspirasi melukis akan datang.

Namun, sudah nyaris setahun ini ia miskin karya lukis.  Meski telah melakukan ritual rutin, tetap saja tak ada inspirasi. Setiap pagi, ia hanya mampu berdiri mematung di depan kanvas selama berjam-jam tanpa hasil. Jika kreativitas sedang memuncak, ia hanya butuh waktu lima jam untuk menghasilkan sebuah lukisan dalam bentuk kasar.  Keesokan hari, ia tinggal memoles hingga menjadi sebuah lukisan utuh.  Pagi tadi, Ia kembali mandek ide. Tak mau memaksakan diri, ia ke luar ruangan, satu hal yang jarang dilakukannya saat melukis, dan pergi ke kolam untuk memberi makan ikan.

Sejam kemudian, ia kembali ke ruangan lukis berukuran 4 x 6 meter tersebut. Langkahnya stabil seirama dengan denyut nadinya. Namun, ekspresi wajahnya tidak. Muram seperti wajah kabut yang mengisyaratkan mendung. Ia melangkah gontai menuju pojok ruangan dan mengambil satu lukisan tertutupi kain putih. Debu berterbangan ketika ia mengangkat penutup kain yang sudah keabu-abuan. Lelaki itu terbatuk-batuk sebentar dan meletakkan kain putih tersebut di lantai. Satu wajah muncul di kanvas. Ia mundur selangkah setelah memajang lukisan itu di dinding. Menatap lukisan itu, muncul huru hara dalam dada sang seniman.

Tiba-tiba perasaannya bergejolak seperti air yang tiba-tiba ditepuk oleh tangan. Ia merasakan amarah yang luar biasa datang memenuhi dirinya. Hatinya sakit dan kepalanya penuh. Ingin ia berteriak tetapi ia tahu tidak ada guna.  Tak menemukan penyaluran yang lain, ia meremas rokok di tangan hingga api membakar jemari, menorehkan memar di ruas jari. Ia tak mempedulikan luka itu. Sakit yang ada di hatinya jauh lebih menyiksa, membuatnya lemah, tak berdaya, nyaris hilang… akal.

Di luar ruangan, seekor burung kakaktua bersenandung. “Selamat pagi… selamat pagi…. Ayo cepat bangun…”  dan anjing Pomenarian menggoyang-goyangkan ekor, siap untuk diajak bermain. Sementara, para pembantu dari rumah dengan tanah seluas nyaris 1000 meter persegi, sudah mulai sibuk beraktivitas. Pepohonan mulai dipangkas, kolam ikan dikuras, kandang kuda dibersihkan, lantai rumah disapu, serta buah-buahan dan sayur dipetik dari kebun. Kesibukan berlangsung seperti biasa setiap hari di rumah bergaya kastil Inggris yang terletak di tengah hamparan sawah sebuah dusun kecil di Jogjakarta.

Ia menarik nafas. Di kala satu huru hara emosi berlangsung dalam dirinya tak mampu ia kontrol, dunia luar menunjukkan kebalikannya. Mereka baik-baik saja, berjalan apa adanya, dan terkendali. Mengapa ia tak bisa mengendalikan tubuhnya setiap kali ia memikirkan tentang perempuan itu?  Pikirannya akan berkelana. Wajah itu akan kembali di sana dan Puji Tuhan betapa ia ingin sekali melenyapkannya! Mengapa emosinya terlalu liar untuk ditaklukkan? Emosi itu bergerak cepat mendesak semua ruangan tubuhnya sebagaimana pikirannya. Semua pengalaman emosi itu, ironisnya, hanya miliknya. Sebutir kecil kerikil yang menjelma menjadi semesta dalam dunianya dan mengalahkan dirinya.  Kerikil berwajah perempuan.

Ia pun duduk di bangku dan kembali menyalakan rokok sembari menatap lukisan tersebut hingga jarum jam bergerak ke angka 12.

***

Melukis bagi sang seniman ibarat berada di sebuah pulau pribadi. Ia tak mau diganggu dan didatangi oleh siapapun ketika melukis.  Ia selalu melenyapkan dirinya setiap kali melukis.  Berkelana dengan imajinasi serta pikirannya menuju daerah-daerah yang tak terjamah hanya oleh akal. Terbang tanpa batas dengan kuasnya.

Nyaris setiap hari lelaki itu ada di ruang lukis, biasanya sampai pukul sebelas. Tidak ada satu pembantu rumah tangga yang mengganggu lelaki tersebut termasuk sang isteri, yang juga seorang seniman gambar. Sesudah bangun dan sarapan sendiri di rumah, perempuan itu langsung berkumpul dengan teman seniman gambar di galeri lukis. Baru tepat pukul sebelas sang isteri akan kembali ke rumah untuk makan  bersama dengan suaminya di ruang makan.

Seperti sebuah rutinitas, mereka akan makan dalam diam. Sang pelukis tak mau mengajak isterinya berbicara, begitu pula isterinya tak berusaha memulai percakapan. Setiap habis bekerja, sang pelukis tahu isterinya ada di ruang makan, menantinya. Namun, lelaki itu tetap masuk ke dalam ruang makan dengan langkah santai. Ia akan duduk di kursinya tanpa menatap sang isteri, pandangannya selalu tembus melewati sang isteri, dan mulai makan. Seolah-olah di ruangan itu hanya terdapat satu manusia.

Sementara sang istri juga bersikap sama dengan sang pelukis. Setelah suaminya masuk ke ruang makan, ia akan mengambilkan piring untuk sang pelukis. Lalu, ia akan makan dan diam seperti sang suami tepat sesudah sang suami mulai menyendok nasi. Mereka hanya akan berbicara jika berkaitan dengan acara di galeri milik mereka ataupun pameran seni. Selebihnya, diam. Tak ada percakapan di luar itu sama sekali.

Dalam hati, sang isteri membenci keadaan itu. Namun, ia malas memancing mood jelek sang suami yang selalu siap dibangunkan dari tidurnya kapan saja. Toh, mau diam atau tidak, sang isteri tahu (satu hal yang disadarinya terlambat) bahwa sang suami tak akan berani untuk menceraikannya. Utang budi. Perempuan itu yang pertama kali berkorban untuk jalan seniman lelaki itu. Sang isterilah yang melakukan segala cara. Benar-benar segala cara, agar lukisan suaminya terjual dan namanya mencuat. Lelaki itu tak akan bisa menceraikannya tanpa seijin dirinya. Ia berjanji.

Hari itu, sang suami makan siang jauh lebih telat. Pukul satu ia masuk ke ruang makan. Isterinya melayani seperti biasa dan mengamati suaminya dalam hening. Diam mungkin hal yang paling anggun dilakukan baginya saat itu. Menatap wajah lelaki yang telah bersama dengannya selama limabelastahun menikmati masakan yang ia buat sendiri, hatinya tenang.

Dahulu, ia sempat berharap kedinginhatian sang suami akan luntur sebagaimana waktu terus berjalan. Mereka akan berbaikan. Melupakan kejadian menyakitkan di masa lalu. Saling bahagia. Mungkin berencana mengadopsi satu orang bayi lelaki lucu untuk teman mereka di masa tua. Namun, hari berganti, sang isteri sadar ia harus memupuskan imej itu. Tak ada tanda-tanda sang suami memaafkannya.

“Aku mau ke galeri, melukis di sana,” sang suami mengambil rokok, menyalakan, dan bergegas pergi setelah menyantap makannya beberapa sendok. Sang isteri berdiri dari kursi, membuang makanan sang suami ke piring anjing, merapihkan piring sang suami, dan pergi ke dapur tanpa berkata apa-apa.

***

Mereka saling acuh semenjak  ia berbohong mengenai kandungannya tiga tahun lalu. Sang isteri masih ingat betul kejadian yang memicu amarah sang suami. Terjadi di suatu malam yang semestinya indah karena bulan sedang bersinar dengan warna keemasan yang memukau.

Ia tahu ia salah. Tetapi  bukan sepenuh kesalahannya karena itu semua didorong oleh andil sang suami. Seandainya saja lelaki itu tidak berbohong kepadanya selama bertahun-tahun tentang semua perempuan yang diam-diam dipacari. Tentang telepon malam ketika ia sudah terlelap, kencan sembunyi-sembunyi, sampai liburan ke pulau. Sementara ia di rumah mengurusi keuangan rumah tangga mereka, pembantu yang banyak, binatang peliharaan kesukaan suaminya, galeri serta pameran mereka berdua.

Meski ia sendiri seorang seniman, sebagai perempuan ia merasa tak sanggup berbagi. Di depan sang suami, ia bisa saja menunjukkan sikap tidak cemburu padahal hatinya sakit luar biasa. Namun, toh, jika saja lelaki itu bicara jujur tentang kelemahan dirinya dengan terbuka, ia berjanji akan tetap menerima lelaki itu apa adanya.

Pasalnya, ia sudah memberikan seluruh hatinya untuk lelaki itu. Mereka bersama lebih dari lima belas tahun dan ia hafal segala seluk beluk hati dan pikiran lelaki itu. Bagaimana suaminya senang meringkuk seperti bayi di pangkuan setiap kali merasa sedih. Atau ketika merasa tak mampu bertindak akibat terlalu banyak berpikir, lelaki itu akan datang kepadanya mengeluh, bercerita tentang pikirannya.  Ia juga paham bagaimana suaminya memiliki ketakutan luar biasa bahwa ia akan gila akibat pemikirannya sendiri. Sang isteri akan duduk dan mendengarkan dengan sabar. Justru dengan kekurangan-kekurangan itulah sang suami terlihat sempurna di matanya.

Hingga suatu ketika, ada yang berubah dalam diri sang suami. Sang suami menjadi layaknya lelaki berusia dua puluh tahun yang baru saja bertemu calon pasangan hidup. Ia penuh cinta dan wajahnya merona.  Baginya aura itu sungguh menawan. Tutur kata sang suami lembut namun tegas. Lelaki itu seolah menjelma seperti Laksamana Cheng Ho di matanya. Perempuan itu kembali jatuh cinta pada sang suami.

Melihatnya duduk di depan kanvas lukis, untuk pertama kalinya selama mereka bersama, gairah perempuan itu menyala-nyala. Jantungnya berdebar kencang. Urat sarafnya menegang. Selangkangannya basah. Ia ingin memeluk kekasihnya, lelakinya, dan mengecupinya dengan liar, membasahi tubuh lelaki itu dengan letupan api di dirinya. Ia ingin disentuh, dipeluk, dihidupkan kembali dari rutinitas dan dari bau tanah yang seringkali menghantui tidur di usianya yang semakin senja. Tetapi, lelaki itu tidak merespon. Dingin seperti es dan kokoh seperti tebing. Ia ibarat sungai yang mengalir di tebingnya tak bisa merengkuh ketinggian tebing itu. Akhirnya mesti membawa luapan hasrat mengendap di tepian yang lain. Ia pun sering jatuh sakit sejak saat itu.

Ternyata, rona itu bukan karena sang isteri melainkan perempuan muda berusia awal dua puluh tahun berwajah sendu yang baru saja bekerja di galeri milik mereka. Tiba-tiba saja ia ingin sekali mencabik perempuan muda itu. Dengan kata-kata.

***

“Gen kebodohan yang menurun alamiah,”ia menyindir sang isteri ketika perempuan itu kembali jatuh sakit.

“Maksudmu? Kau menghina keluargaku?” nada perempuan itu meninggi.

“Kalau kau sampai jatuh sakit karena memikirkan diriku. Kau hanya menghancurkan dirimu sendiri,”kata sang pelukis tanpa peduli perasaan sang isteri. Lelaki itu memang selalu begitu, sejak dulu, berbicara tanpa memperhatikan perasaan lawan bicaranya. Meski seringkali sakit hati saat pertama mendengarnya, lama kelamaan, sang isteri sudah mulai bisa menguasai diri dan bersikap biasa saja. Itulah diri suaminya, lelaki yang dicintainya.

“Aku cinta kau, Demi Tuhan!”

“Cinta itu hanya khayali. Yang ada kebutuhan. Aku membutuhkanmu dan sebaliknya, oleh karena itu kita menikah. Kita mencintai karena kita butuh,”ujar lelaki itu ringan. Kalimat itu membekas di dalam pikiran sang isteri. Perempuan itu tahu ke arah mana ucapan itu ditujukan. Ia kini adalah barang yang sudah tak dibutuhkan lagi oleh sang suami. Oleh karena itu, jangan berkata tentang cinta lagi.

Kini setiap bangun tidur, perempuan itu akan pergi ke cermin dan memperhatikan tubuhnya. Rasa benci menjalar di hati sang isteri tatkala melihat gundukan lemak, keriput, jerawat, serta uban di rambut nya. Ia muak sekali akan perubahan tersebut dan kehilangan kepercayaan diri. Berharap bahwa dirinya adalah perempuan yang fisiknya selalu sama seperti ketika ia masih muda. Ia jadi begitu membenci dirinya dan hal-hal yang dilakukannya, termasuk makanan yang diasupnya tatkala stress memikirkan kondisi finansial keluarga, keadaan suaminya, serta ketidakmampuan dirinya untuk hamil. Betapa dunianya berubah menjadi neraka sendiri baginya!

“Kau harus melakukan sesuatu untuk membahagiakan dirimu. Pergi berlibur. Buang duitmu untuk senang-senang,”saran seorang teman.

Ia menggeleng. Liburan itu hanyalah pelarian. Tidak akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya cara untuk menghentikan sang suami lari ke pelukan perempuan muda itu adalah kehadiran anak. Maka, ia harus berbohong jika memang terpaksa. Selama berupaya mengenyahkan perempuan muda itu, ia harus mengarang-ngarang kehamilannya.

***

Kebohongan itu menemui akhir. Suatu malam ketika ia tiba-tiba pingsan, si pelukis dengan segera menghubungi dokter keluarga mereka. Sang suami menanyakan kehamilan sang isteri kepada sang dokter. Iapun mendapatkan kenyataan yang mengejutkan. Kondisi tubuh sang isteri tidak memungkinkan untuk menghasilkan keturunan. Ketika dokter pergi, sang suami berteriak sekali dan masuk ke ruangan lukis serta mengunci pintu kamar. Hingga pagi, perempuan itu tertidur sendirian di kamar dengan mata bengkak akibat tangis.

Sang suami sebenarnya bukan kecewa akan vonis dokter mengenai kandungan isterinya. Ia sendiri adalah seorang seniman, yang tidak mudah terpengaruh oleh vonis orang lain. Ia memang ingin memiliki keturunan, namun toh masih bisa menjadikan perempuan lain sebagai isteri kedua. Hari itu, kekesalannya memuncak akibat kebohongan isterinya. Ketika ia mengakui bahwa ia telah berselingkuh dengan perempuan berwajah bulan, isterinya menangis sembari mengatakan ia tengah mengandung. Lelaki itu pun merasa dirinya seperti seorang pencopet penyandang cacat. Menyelingkuhi seorang perempuan hamil. Faktanya, ia bohong.

Tak hanya kepada pelukis, sang Isteri juga menyerang perempuan berwajah bulan dengan kata-kata kasar, yang menyebabkan perempuan itu menghilang tanpa kabar. Padahal, dari semua karya lukis yang ia hasilkan semenjak lelaki tersebut sembuh dari ketergantungan narkotika, hampir delapan puluh persen terinspirasi oleh perempuan muda tersebut.  Kreativitasnya meningkat setiap saat ia jatuh cinta. Bersama perempuan berwajah bulan, ia selalu merasa jatuh cinta.

Ia maupun isterinya, sama-sama makan dan hidup dari lukisan yang dihasilkan oleh perasaan yang disapih oleh si perempuan berwajah bulan.

Hingga kini, ia merasa dibebani oleh tanggungjawab untuk sekadar mengucapkan terimakasih dan maaf kepada perempuan tersebut. Namun, tak ada satu kabar yang ia dengar tentang perempuan itu.

Ia sempat berpikir pendek dan berniat mencekik leher isterinya akibat amarah. Atau membuat tindakan yang membuat isterinya jantungan dan mati. Sehingga, ia bisa meminang perempuan muda itu menjadi isterinya. Namun, pikiran itu berhasil diredamkan. Ia tak mau melakukan tindakan bodoh yang akan menjauhkannya dari apapun yang sudah dicapainya sampai saat ini. Ia tak mau kehilangan nama dan reputasi. Malam itu, untuk pertama kalinya, si pelukis menangisi kepergian perempuan muda tersebut.

Semenjak itulah, hubungan antara ia dan isterinya berjalan seperti mayat hidup.  Hal itu berdampak pula pada kualitas lukisan yang dihasilkannya. Ia selalu saja mandek ide semenjak kepergian perempuan berwajah bulan.

***

Perempuan berwajah bulan tiba di kota Jogjakarta empat tahun yang lalu. Saat itu, ia masih seorang perempuan lugu bermata malam berusia nyaris dua puluh empat tahun yang masih dipenuhi semangat idealisme di kota pelajar tersebut.

Ia datang di stasiun Tugu Jogjakarta usai lulus kuliah jurusan Sastra membawa sebuah koper berisi beberapa pasang baju serta buku. Di tangan kanannya, tergenggam sebuah majalah Horison yang sudah lecek. Senyumnya sumringah.

Saat itu masih subuh ketika kereta sampai di stasiun Tugu. Belum begitu ramai orang-orang berada di stasiun. Ia hanya melihat mereka yang baru saja turun dari kereta Taksaka jurusan Jakarta-Jogjakarta yang ia naiki serta beberapa orang yang hendak menaiki kereta menuju Jakarta menunggu di peron stasiun. Beberapa tukang koran serta sopir taksi dan becak bergerombol di dekat pintu keluar meneriakkan kata-kata “Malioboro, batik, dan kraton”. Ia menghampiri seorang penjaja koran dan membeli satu koran Radar Jogja.

Ia berjalan ke luar stasiun menyeberangi rel kereta api menuju Malioboro dan naik becak dari sana menuju daerah Prawirotaman, tempat ia kos untuk sementara waktu.

Jogjakarta di mata perempuan itu lebih menyerupai rumah daripada sebuah kota. Jogjakarta adalah sebuah tempat tinggal yang nyaman. Udara kota yang sejuk, sepeda onthel dan bunyi dokar di sepanjang jalan, serta pedagang jamu tradisional serta batik di pinggir jalan. Makan gudeg ataupun ayam bakar sembari lesehan di pinggir jalan serta berkeliling dari satu galeri seni ke galeri seni lainnya yang tumbuh menjamur di kota Jogjakarta. Ia menyukai semua itu.

Di sana, ia bisa melakukan dan menjadi apa saja yang ia mau, sesuatu yang ia tidak dapatkan saat berada di Jakarta.Warga Jogjakarta meski berasal dari suku Jawa, memiliki karakter nyeni dan memiliki toleransi yang tinggi. Ia kadang bisa melihat lelaki berambut gondrong, perempuan berkalung bebatuan ataupun pemuda menaiki motor ceper berkeliaran diantara jalan-jalan Jogja yang bersih dan tertata rapih.

Selain itu, mereka juga sangat ramah dan senang menolong. Salah satunya adalah ibu kos dan tetangga di daerah Prawirotaman. Mereka sering mengajaknya kumpul-kumpul makan gorengan dan minum teh manis hangat mencairkan kekakuan perempuan tersebut akan daerah baru yang dihuninya saat ini.  Para tetangganya juga mau menemani perempuan itu ke tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi dengan menggunakan motor bebek, memperkenalkan budaya Jogjakarta dari lebih dekat pada perempuan kelahiran Jakarta tersebut. Ia merasa menemukan kembali keluarganya yang telah bercerai berai di sana.

Perempuan berwajah bulan menyenangi semua itu. Meski jauh dari kota kelahirannya, ada di Jogjakarta seperti kembali berada di rumah. Sebuah rumah dan bukan sekadar bangunan yang telah lama dicarinya hingga kini.

Sementara itu, penduduk Prawirotaman juga menyenangi  perempuan tersebut. Meski berwajah murung, perempuan itu selalu mau menyapa penduduk terlebih dahulu dan tersenyum. Setiap pagi, mereka sering melihat perempuan itu duduk di teras kosnya membaca majalah sastra atau novel sembari menyeruput secangkir teh manis hangat. Jika sedang tak membaca, perempuan muda itu akan mengetik dengan menggunakan laptop.

Mimik mukanya teduh dan tenang setiap kali menulis, sungguh berbeda dari aura yang ditampilkannya setiap hari. Kemurungan yang nampak dari air mukanya hilang.  Ia menjadi sosok manusia yang lain, membuat para warga terpesona, terserap, dan tertawan. Seolah perempuan muda itu memang sudah ditakdirkan untuk hidup sebagai penulis. Mereka menyambutnya dengan hati terbuka sebagai bagian dari geliat nadi kota seni Jogjakarta.

***

Seni dan budaya di kota Jogjakarta adalah sebuah nafas bagi kota yang mendapatkan gelar kota istimewa dari pemerintah tersebut. Di mana-mana banyak ditemui kegiatan berkesenian mulai dari seni jalanan macam grafiti , seni rakyat seperti membatik dan kerajinan tangan, hingga seni kelas tinggi seperti lukisan. Berbagai macam acara seni dan budaya pun rutin digelar setiap tahun di Jogjakarta dan memiliki patron sendiri, yakni para maestro seni.

Lelaki bertubuh tato naga tersebut adalah salah satu maestro seni yang disegani di kampungnya, daerah Parangtritis. Lukisannya, yang mendapatkan banyak penghargaan internasional, sudah bisa disejajarkan dengan para maestro seni lukis terdahulu seperti Sudjojono dan Basuki Abdullah. Ia bersama isterinya juga mendirikan sebuah galeri seni pada tahun 1997 yang dibuka untuk umum. Mereka mempertunjukkan galeri itu untuk pembinaan seniman muda di Jogjakarta. Semenjak pertama kali dibuka, galeri itu telah menjadi sebuah tempat berkumpul para seniman untuk berdiskusi dan mengadakan acara seni mulai dari pameran hingga pementasan seperti performing art.

Selain memiliki galeri seni, pelukis itu juga seorang filantropi. Ia mendirikan sebuah yayasan yang didirikannya untuk seniman-seniman muda berbakat yang membutuhkan dana untuk mengadakan pameran atau pentas seni. Kebetulan teman-teman pelukis tersebut, yang umumnya sudah ternama, mau menyumbangkan dana. Yayasan tersebut belum ada setahun didirikan dan ia membutuhkan banyak orang untuk mengurus yayasan seni tersebut. Isterinya pun membuat sebuah lowongan yang ditempelkan di galeri-galeri seni yang ada di Jogjakarta.

Saat itu perempuan berwajah bulan sudah tiga bulan ada di Jogjakarta. Masih mencari pekerjaan di tempat seni dan sastra. Dari seluruh lamaran yang dikirimnya, belum ada satupun yang menerima ia sebagai karyawan. Mungkin karena latar belakangnya bukan berasal dari jurusan seni sehingga tak mudah baginya mendapatkan pekerjaan di galeri-galeri tersebut. Atau mungkin belum keberuntungannya saja, ia menduga.  Toh, perempuan muda itu tetap optimis dan rajin mengirimkan lamaran pekerjaan.

Keberuntungan pun berpihak padanya. Sebuah yayasan seni yang baru saja dibuka dan membutuhkan karyawan banyak memanggilnya untuk wawancara. Ia masih ingat saat pertama kali bertemu dengan seorang perempuan  bertubuh gempal bermata tajam yang menatapnya penuh selidik. Ia merasa seluruh tubuhnya disilet-silet oleh perempuan yang mengenakan cincin di seluruh jarinya. Semua rahasia juga seolah diteropong melalui mata pisaunya. Tangannya basah berlumur keringat saat perempuan itu bertanya hal-hal filosofis di luar pertanyaan lazim saat wawancara.

“Apa arti agama buatmu?”

“Agama?”

“Ya. Kau dengar paham dan dengar pertanyaan saya?”

Ia mengangguk cepat-cepat. Keringat mulai membasahi tubuhnya. Ruang wawancara yang awalnya sejuk itu semakin terasa panas baginya.

“Ya. Agama bagi saya adalah tuntunan dalam menemukan Tuhan,”

“Kau tau seni adalah agama bagi para seniman.”

“Agama?”

“Ya. kau dengar dan paham pernyataan saya?”

Ia diam sejenak, mencoba mengingat-ingat kembali pernyataan terakhir perempuan itu. Ia tak boleh gegabah menjawab.

“Ya. seni adalah agama seniman.”

“Bagus. Kini kau paham kau berurusan dengan orang seperti apa. Apakah kau siap?”

Ia mengangguk. Saat itu, di pikiran perempuan itu, seni tak kurang sama dengan sastra. Sesuatu yang bisa memberikan gairah untuknya.

Sang pewawancara meski kurang senang dengan latar belakang pendidikan sang perempuan muda, diam-diam merasa tertarik dengan kepribadiannya. Perempuan itu tidak pernah berbohong dalam hal apapun, baik CV ataupun wawancara, meski ia tak tahu banyak hal. Ia selalu berbicara apa adanya tentang dirinya. Bahwa ia seorang lulusan jurusan sastra yang tertarik akan seni dan mau belajar banyak tentang seni. Sang pewancara lantas meminta contoh tulisannya. Ia memberikan. Tak lama, perempuan itu langsung diterima sebagai asisten kurator seni. Itulah pekerjaan pertama di Jogjakarta. Menjadi asisten kurator seni.

Tak lama berselang setelah galeri pertama didirikan, sang pelukis mengalami depresi akut. Setiap malam lelaki bertubuh tato tersebut akan berteriak-teriak di ruang lukisnya usai membaca katalog seniman muda yang diterimanya setiap membuka pameran lukis.

“Apa-apaan ini! Lukisan sejelek ini bisa dihargai satu Milliar! Kurator geblek. Pasar bloon. Lukisan ini kan hanya menjeplak lukisan Andy Warhol tidak ada unsur kebaruan. Mau jadi apa dunia lukis kita ini!”

Ia marah saat mengetahui salah satu lukisan junior di kampusnya, seorang lelaki yang selalu mendapatkan nilai C untuk pelajaran melukis, dihargai sama dengan para maestro lukis lainnya. Ia berpikir akhir-akhir ini pasar seni lukis terlalu bebas dan banyak menaikkan harga seenaknya sendiri tanpa mempedulikan kualitas dari lukisan yang dihasilkan para senimannya. Harga bisa tinggi terutama bagi pelukis yang dekat dengan beberapa pemilik galeri komersil. Dalam seni, hal ini dinamakan menggoreng karya seni.

“Seni kok jadi kaya jual kacang goreng, obral hingga laris manis! Gendeng!” ia terus meracau sendirian di ruang lukisnya.

Sementara sang isteri, yang jauh lebih tidak peduli mengenai masalah goreng menggoreng dalam dunia seni, mengacuhkan omelan suaminya dan terus menggambar sketsa di ruang kerjanya. Baginya, saat ini seniman mesti banyak realistis dan menerima kondisi pasar yang ada. Terlebih hidup di Indonesia yang masyarakatnya masih banyak yang buta mengenai seni.  Ia sendiri kebanyakan membuat sketsa berdasarkan pesanan bukan untuk sekadar kepuasan batin seperti yang dilakukan oleh sang suami. Kalau tidak begitu, uang tak akan masuk dan ia sendiri tak mau tertekan seperti suaminya.

Sementara sang suami, larut dalam depresi, mulai mengkonsumsi narkotika untuk menekan kekacauan emosinya. Kepada sang isteri, ia mengaku minum dopping untuk meningkatkan kreativitas melukis. Isterinya menurut saja, yang penting lelaki itu berhenti berteriak-teriak setiap tengah malam datang, sebab mengacaukan konsentrasinya menggambar. Tiga bulan sang suami menenggak narkotika, di bulan keempatnya, ia sakau.

Mulai saat itulah, sang isteri mulai menghentikan pesanan sketsa gambar dan membawa suaminya ke panti rehabilitasi.

***

Sebagaimana lelaki itu mencintai seni dan perempuan berwajah bulan menyukai sastra, pameranlah yang akhirnya mempertemukan mereka berdua.  Saat itu, sang perempuan mendapatkan tugas dari yayasan seni tempat ia bekerja untuk membantu acara pameran seni dan sastra di salah satu galeri rekanan di Jakarta. Di sana, perempuan berwajah bulan akan membantu kurator untuk mewawancarai seniman untuk katalog mereka. Ia mendapatkan tugas pertama mewawancarai si pelukis dengan tato di sekujur tubuhnya, sang pemilik yayasan. Ini adalah kali pertama pameran si seniman setelah ia menghabiskan waktunya di panti rehabilitasi ketergantungan narkotika.

Perempuan berwajah bulan belum pernah mendengar apapun mengenai si pelukis tersebut selain informasi bahwa pelukis tersebut termasuk salah satu maestro dalam bidang seni lukis. Ia telah menghubungi si seniman tersebut dan pelukis itu langsung menjawab OK. Mereka akan bertemu di galeri untuk proses wawancara. Semalam suntuk, perempuan berwajah bulan mencari di internet informasi tentang seniman yang akan diwawancarainya. Hatinya sedikit gelisah. Ia belum pernah sama sekali seumur hidupnya mengobrol langsung dengan orang hebat seperti si pelukis tersebut.

Ketika pertama kali bertemu dengan perempuan berwajah bulan, pelukis itu nyaris bersikap merendahkannya. Tampang perempuan itu lugu dan ia hanya mengemukakan pertanyaan standar yang membuatnya bosan. Sejujurnya, kalau perempuan itu tidak memiliki wajah yang enak untuk dilihat, ia akan segera menyudahi wawancara sesingkat mungkin. Ia benci perempuan bodoh dan mereka yang menghabiskan waktunya untuk mempermak diri tanpa mengisi otak. Jika bertemu dengan tipe seperti itu, ia akan segera mencari-cari alasan untuk menyudahi percakapan.

Namun, ada sesuatu dari diri perempuan itu yang membuat sang pelukis senang duduk berlama-lama menatap wajahnya.  Ada sebuah aura kesenduan yang menarik seperti magnet. Selain itu, bentuk wajah perempuan itu juga bulat seperti bulan purnama dengan bibir tebal dan merah. Ia tertarik secara fisik kepada perempuan itu. Ketika perempuan itu mulai menulis dan menguasai obrolan, barulah ketertarikan fisiknya luntur dan berubah menjadi rasa hormat.

“Anda suka sekali dengan tato ya, dengar-dengar?”

“Ya. Sangat. Kenapa?”

“Tidak apa-apa, saya dengar ada punya tato naga. Benarkah?”

“Ya. “

“Saya suka sekali dengan tato naga.”

“Terimakasih. Oke langsung saja. Saya suka sekali dengan seni, segala sesuatu yang berbau menciptakan, berkreasi. Lukisan saya kali ini mengenai kesakitan serta kehilangan yang teramat sangat.”

“Anda pernah mengalami kehilangan yang teramat sangat?”

“Ya.”

“Seperti apa persisnya?”

“Seperti saat ini, jika kamu pergi dan menyudahi wawancara saya. Saya akan mengalami kesakitan serta kehilangan yang teramat sangat.” Lelaki itu berbicara asal tanpa tahu bahwa suatu saat ia akan membayar semua yang telah dikatakannya detik itu.

Perempuan berwajah bulan tersipu. Ia lekas-lekas mengalihkan si pelukis ke pertanyaan lainnya agar mendapatkan jawaban yang lebih serius dari lelaki itu.

“Bisa ceritakan sedikit tentang lukisan-lukisan Anda kali ini? Saya punya daftar judulnya, mungkin kita bisa mulai dengan Wajah Luka. Mengapa menafsirkan karya Djenar Maesa Ayu menjadi lukisan berjudul Wajah Luka?”

“Cerita dia banyak memendam luka. Itu yang saya tangkap.”

“Luka seperti apa yang Anda lihat?”

“Kemarahan, kekecewaan, sakit hati atas lelaki, perselingkuhan, masalah perempuan terutama, ketidakberhasilan pemenuhan aktualisasi diri.. entahlah.. saya pikir seperti itu.”

“Lalu mengenai gambar lukisan ini?”

“Anda tahu, wajah Anda mengingatkan saya akan bulan. Saya suka sekali dengan bulan,” pelukis itu tak menjawab pertanyaan perempuan tersebut.  Ia diam dan menatap si perempuan berwajah bulan yang semakin tersipu dan salah tingkah untuk sesaat. Namun, perempuan muda itu berhasil menguasai dirinya dengan sangat baik.

“Terimakasih, saya juga senang dengan bulan. Karena kesukaan kita sama, mestinya wawancara ini berlangsung lebih cepat dan mudah. Sehingga, saya bisa segera menuliskan tentang diri Anda untuk kebutuhan katalog pameran dan mungkin usai itu berbicara lebih banyak tentang kesukaan serupa kita. Bersediakah Anda kembali ke jalur pertanyaan yang telah saya ajukan?”

Si pelukis pun menjawab semua pertanyaannya tanpa basa basi dan mendetail sesuai yang perempuan itu butuhkan. Usai wawancara, si pelukis mengajak si perempuan berwajah bulan bertemu lagi keesokan harinya pada jam makan siang, menagih janji yang diucapkan oleh perempuan tersebut. Ia mulai merasa si perempuan berwajah bulan bisa juga dijadikan sebagai teman diskusi yang menyenangkan selain mungkin jika perempuan itu cukup bodoh, dimanfaatkan sebagai kekasih. Muse. Inspirasi untuk menghasilkan lukisan.

Si perempuan berwajah bulan, dengan naïf menggira bahwa hubungan mereka hanya akan sampai tahap teman diskusi dan bukan kekasih, menyetujui. Itulah awal bagaimana kedekatan mereka bermula.

***

Ia bertemu dengan sang isteri di suatu pameran, empat bulan berpacaran dengan sang seniman. Lelaki itu di sana, ditemani seorang perempuan bertubuh sapi yang terlihat seperti ibunya, melambai padanya. Ia awalnya enggan mendekat. Hatinya terasa tidak karu-karuan seolah akan ada sesuatu hal buruk terjadi. Namun lelaki itu terus melambai. Mau tidak mau dia harus mendekat juga dan berbasa basi padanya.

“Perkenalkan, ini isteriku, Anita,” perempuan gemuk itu menyodorkan tangannya yang dilingkari dengan gelang mutiara air laut kepadanya. Ia terkejut bukan kepalang. Lelaki itu telah memiliki isteri! Ia bisa saja marah saat itu namun ia cukup sadar diri, ia bisa melakukan hal lain untuk menyelamatkan mukanya sendiri daripada marah-marah. Maka, ia pun menyambut tangan sang isteri dengan anggun.

“Ini Nadia, kurator yang sering aku ceritakan, sayang. My muse,” perempuan gemuk itu mengangguk. Mengamatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan mata tajam dengan dagu terangkat. Perempuan berwajah bulan itu jijik setengah mati dengan tatapan itu. Pameran yang tadinya membuat ia semangat, kini kehilangan ruhnya.

“Oh, selamat datang, cantik. Silahkan berkeliling, nanti kau akan kuperkenalkan dengan Jimbo. Kau tahu kurator nomor wahid kita itu, kan? Tentunya kau tahu. Oh ya, apa kau sudah tahu galeri kita ini berencana membuka cabang di Singapura? Kau tentunya sudah kenal dengan Christine dari Singapura…” perempuan gemuk itu terus menerus memuntahkan pengetahuannya seolah menegaskan status kepada dirinya: Saya adalah tuan di sini, kuperingatkan kau.

“Mari, ikut aku cantik, kau akan kuperkenalkan dengan seniman-seniman lainnya. Kau pasti tidak sabar untuk segera bertemu dengan mereka. Namamu pasti cepat melejit,” Sang isteri menggamit lengan perempuan itu. Sementara sang seniman mengedipkan sebelah mata padanya dan mulai berbincang dengan seorang penari berkuteks merah di tengah ruangan. Ia memeluk tubuh penari itu.

Setiap kali bertemu dengannya di pameran, sang isteri selalu menebarkan aroma permusuhan dengan kata-kata yang sinis. Sayangnya, ia bukan tipe perempuan senang bicara, sehingga menanggapinya ia lebih banyak diam. Jika bisa, ia ingin pergi segera dari tempat di mana perempuan tua itu berada, tetapi tidak bisa. Ia belum mendapatkan pekerjaan lain. Si pelukis itulah penguasa dan perempuan tua itu anjingnya. Sementara ia, adalah budak belian yang dibawa ke mana-mana dengan leher terpasung rantai. Sejauh mana ia mengelak, ia sadar karirnya telah dimatikan semenjak sang isteri mengetahui ia dan suaminya berpacaran. Ia pun menerima fakta itu.

Tetapi, perempuan berwajah bulan bukanlah seorang perempuan bodoh. Ia bisa saja menikmati peran tersebut dan menjalani petualangan asmaranya bersama dengan pelukis yang dikagumi banyak orang tersebut. Ia bisa saja menerima keterbatasan lingkup seni sekaligus hak istimewa dunia seni yang ditentukan oleh pasangan suami-isteri tersebut. Namun, ia tidak mau.

Suatu saat sang isteri, yang diketahuinya masih belum punya anak, mengandung, maka tamatlah riwayatnya. Ia akan keluar dari dunia seni, termasuk dari hati kekasihnya, sang pelukis, dengan berak berserakan di wajahnya. Segala petualangan akan berakhir, dan ia memutuskan, ialah yang mesti memimpin jalan itu. Baik pelukis itu ataupun isterinya akan tahu, dia bukanlah perempuan lugu seperti yang mereka pikirkan.

Maka, ia pun memutuskan sesuatu. Tahu bahwa sang isteri mengkonsumsi obat-obatan penyubur untuk kehamilan yang dipesan dari sebuah toko China, ia meminta bantuan seorang teman yang diam-diam juga membenci sang seniman untuk meyakinkan perempuan tua itu meminum obat China yang berbeda. Obat pembuat kandungan tidak subur. Teman tersebut telah memalsukan bahan-bahan pembentuknya dan menyamarkan nama obat tersebut agar tak terlacak oleh dokter langganan keluarga itu. Rencananya mulus, sang perempuan tua langsung percaya. Obat itu dikonsumsinya setiap hari.

Ketika kekasihnya tahu bahwa sang isteri tidak bisa mengandung, lelaki itu tentunya akan semakin mengacuhkan sang isteri. Ia tahu persis bagaimana sang seniman sudah benar-benar tidak membutuhkan sang isteri. Semakin hari, lelaki itu semakin giat mengajaknya menikah. Ia masih ingat perkataan lelaki itu.

“Tak usah kita pedulikan isteriku. Dia sudah tua dan tak bisa apa-apa. Lagipula, kami sudah tidak mencintai satu sama lain. Cuma karena status akhirnya kami bertahan. Terlalu banyak yang akan dikorbankan kalau kami berpisah. Lagipula isteriku sudah rela aku menikah lagi. Dia malah yang nyuruh aku cepat-cepat cari isteri baru lagi,”kata lelaki itu.

Ia tahu tentunya cerita itu bohong belaka, meski sesungguhnya tanpa ia ketahui, sang seniman sudah jatuh ke dalam perangkapnya sendiri: ia benar-benar mencintai perempuan muda itu.

Perempuan itu akan menikmati permainan mereka dan meninggalkan sang seniman tanpa terjebak ke dalam pusaran perasaan cinta.

Dan ia merasa simpati atas isteri sang seniman. Sementara di tempat lain, sang isteri, terlelap di atas kasur memeluk sang suami yang tidur memunggunginya diam-diam merasa kasihan dengan perempuan muda yang ia temui di pameran tiap acara seni. Perempuan muda itu terlihat begitu mencintai suaminya. Terlalu lugu untuk berpetualang cinta. Terlalu lugu untuk suamiku. Ujarnya dalam hati.

***

Perempuan bertubuh tinggi semampai dan senang mengenakan kuteks merah itu mengambil katalog pameran lukisan yang ada di meja. Gelangnya bergemerincing saat ia mengangkat tangannya. Katalog tersebut berwarna cokelat dengan gambar rangka tengkorak kepala seorang perempuan berwarna abu-abu. Mata perempuan dalam katalog terpejam seperti menahan sakit. Bibirnya terbuka setengah memperlihatkan gigi dan gusi-gusinya yang gemuk. Rambut perempuan itu tergerai, berantakan, dilukiskan dengan garis-garis kurva tak searah. Di bawah gambar itu tertera judul: Pain Face II (Wajah Luka II). Rusdie Pramono. Museum of Modern Arts, U.S.

Ia hendak membuka katalog tersebut, tetapi seseorang menahan gerakannya. Ia menepis tangan itu dan membalik-balik katalog dengan gerakan kasar seperti para macan berburu mangsa lantas berhenti pada satu subjek, sebuah gambar. Gambar keramik berbentuk telepon menyerupai bulan sabit.  Di belakang telepon itu tercantum berpuluh-puluh nomor telepon orang. Namun hanya satu wajah perempuan di sana.

“Brengsek, ia masih saja sama seperti dahulu!” katalog itu dibanting ke lantai. Ramai gemerincing gelang. Bunyi katalog menampar lantai. Lelaki itu terkejut.

“Kau tidak akan…”

“Tentu saja akan! Kau pikir aku perempuan bodoh kubiarkan dia meremehkanku.”

“Itu belum tentu tentang kau. Lagipula apa untungnya mengerjai dia? Kau sudah dapat segala yang kau mau di sini, menjadi penari!Lupakan dia!”

“Tidak bisa! Ini tentang diriku, Ang. Siapapun yang dilukiskannya adalah diriku pula. Dan semua ide lukis ini… aku yang memberitahunya, Ang!”perempuan itu merasakan sakit di dada, seperti sebuah palu kasat mata yang mendorongnya ke dasar bumi. Jauh ke dasar bumi.

Bertahun-tahun ia belajar untuk menyembuhkan rasa sakit itu tetap saja ada, menjadi bagian dirinya. Seperti sebuah virus, setiap kali disembuhkan ia malah semakin kebal dan ganas. Memori itu hidup kembali saat mendapat pancingan yang tepat. Kali ini katalog pameran.

“Lalu? Jangan-jangan hanya inilah tujuanmu belajar ke Rusia. Agar kau bisa terus menguasai dia! Kau gila! Kau terobsesi dengan lelaki itu!Sadarlah lelaki itu memang gila dan dia bukan milikmu!”

Lelaki bernama Ang itu meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa. Pintu dibanting. Tetapi perempuan itu tak peduli dan mulai membakar dupa. Asap memenuhi ruangan tempat ia berpraktek. Beberapa bola Kristal yang ada di ruangan tersebut menyala tiba-tiba. Sejak dahulu, Ayahnya selalu mengajarkan untuk tidak mudah menyerah atas hal apapun. Kompetisi, pengakuan,ia belajar semua itu dari sang Ayah. Dan ia, tak akan pernah berhenti. Sebagaimana Ayahnya tak pernah berhenti untuk mengejar mimpinya. Ia akan dapatkan lelaki itu sampai titik paling akhir. Ia berjanji.

Perempuan itu lantas menari lincah dan dengan lantang berkata,

Kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu..Daging kita satu arwah kita satu. Walau masih jauh. Yang tertusuk padamu berdarah padaku.* Kau hanya milikku seorang Rusdie. Tak ada yang lain. 

“Rasakan!” Ia menggeram. Mukanya memucat dan bibirnya komat-kamit. Lampu ruangan pun padam seketika.

(ciledug. 20.12.2010)

*puisi Satu karya Sutardji Calzoum Bachri

Penulis adalah seorang jurnalis pada sebuah koran nasional. Puisinya Ilalang Liar pernah dibacakan pada acara Komunitas Sastra Reboan di Bulungan. Penulis pernah mendapatkan beasiswa Bengkel Novel dari komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta tahun 2009.

dimuat di laritelanjang.net 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s