Koh Awkoh dan Hantaran Lebaran


Koh Awkoh  dan Hantaran Lebaran
MOMEN tibanya lebaran merupakan momen yang paling kutunggu ketika kecil. Pasalnya, seminggu menjelang hari raya, biasanya kiriman -utamanya kue serta parcel- tiba di rumah. Sebagai seorang anak, melihat kaleng biskuit ataupun wafer serta bungkus cokelat bertengger manis di balik plastik transparan, hati senang bukan main. Apalagi kalau parcel-parcel tersebut berjumlah lebih dari satu. Aku dan adik-adik pasti langsung menomori parcel seolah-olah setiap kami mendapatkan satu parcel khusus. Parcel favoritku, adalah parcel yang selalu mempunyai paling banyak kotak cokelat.

Salah satu tetangga yang rajin mengirimkan hantaran hari raya justru datang dari tetangga non muslim dan keturunan China. Namanya Koh Awkoh. Ia adalah seorang lelaki bertubuh panda, perut ayam, berkulit putih susu sapi, serta bermata garis (begitu aku dan adik menyebutnya). Rumah Koh Awkoh letaknya tepat di sebelah kiri rumah kami, letaknya tepat di ujung jalan. Ia punya lima orang anak, empat lelaki dan satu perempuan. Sekarang, semua anak-anaknya sudah bekerja dan punya rumah sendiri. Salah satu anaknya bahkan memiliki bisnis sewa mobil yang cukup ternama. Koh Awkoh tinggal di perumahan kami semenjak aku berusia tujuh tahun. Katanya pindahan dari kota Surabaya.

Sebelum Koh Awkoh datang, tetangga sebelah kami berasal dari kota Cirebon. Satu keluarga kristen prostetan yang memiliki dua anak, satu perempuan dan satu lelaki. Anak-anak tersebut merupakan musuh bebuyutan aku dan adik-adik. Di mata kami, mereka adalah teman yang menyebalkan dengan kegemaran mereka mengejek dan tidak pernah bisa diajak bekerjasama – terutama dalam hal permainan gundu ataupun Nintendo. Selain itu, aku tak suka bila Ibu mereka memasak makanan khas Cirebon. Baunya selalu amis dan mengingatkanku akan suasana pasar ikan. Tidak seperti masakan si mbok yang harum dan rasanya manis sekali, yang membawa kenanganku kembali akan kampung kami, Jogjakarta.

Jika hari libur sekolah tiba dan kedua orang tua kami pergi ke kantor, aku dan kedua adik segera merencanakan perang. Perang kami adalah perang selang, menunjukkan kami tak takut dengan mereka.  Maka, setiap pukul tiga sore, kedua rumah sudah akan basah dan berantakan dengan semprotan air, selang yang berkuwel-kuwel, serta sabun cair.  Malamnya, aku dan adik-adik akan dijejer oleh Ibu dan dijewer kupingnya satu persatu sebagai hukuman. Namun hukuman terpahit bagiku adalah setiap kali aku dan si anak perempuan tetangga berulangtahun, orangtua kami selalu memasangkan kami berdua untuk difoto bersama. Hasilnya, tentu saja wajah dua perempuan cemberut yang tersenyum terpaksa setelah mendengar teriakan Ibu kami ‘ senyum dong, perempuan kalau gak senyum seperti nenek-nenek’.

Keluarga asli Cirebon itu pindah saat aku berusia tujuh tahun dan hubungan dengan si anak perempuan semakin membaik. Saking terharunya – karena menyadari musuh terbaik ternyata teman terbaik – aku menghadiahi Anastasia salah satu boneka kesayangan. Ibu bilang akan terus berhubungan dengan keluarga Anastasia meski tak pernah dilaksanakan janji tersebut. Dari berita yang kudengar, sekarang Anastasia sudah menjadi seorang pramugari di perusahaan penerbangan nasional. Ia tumbuh menjadi perempuan cantik dan populer, seperti dikatakan seorang tetangga kepada Ibu.

Setahun setelah kepindahan keluarga dari Cirebon itu, Koh Awkoh datang di perumahan kami. Waktu itu, sebagai ketua Rukun Tetangga, Ayah yang mengurusi surat-surat izin tinggal Koh Awkoh. Ayah pun mengenalkan kami sekeluarga dengan keluarga Koh Awkoh. Uniknya, tak ada persiteruan muncul usai berkenalan dengan anak-anak Koh Awkoh. Mungkin karena aku dan adik-adik sudah semakin besar dan mulai kehilangan minat bermain semprot-semprotan. Tetapi selain itu, keluarga tersebut di mataku dan adik-adik menawarkan sesuatu yang kami sukai: jajanan.

Ya, Koh Awkoh membuka warung tepat di sebelah rumah. Yang menjaga warung itu adalah anak-anak Koh Awkoh sendiri. Sebagai anak kecil tentu saja kami sangat senang. Sekarang, kami tak perlu jauh-jauh mengendarai sepeda ke daerah kampung belakang kompleks untuk sekadar membeli kerupuk dan Coki-Coki seharga lima puluh perak ataupun mi kremes Anak Mas dan Mimi dengan harga sama. Cukup berjalan kaki sebentar dan jajananpun didapatkan. Aku dan adik-adik juga menjadi akrab Koh Awkoh berkat sekotak permen kecil warna-warni bertuliskan huruf kanji ataupun sebungkus chiki rasa cokelat yang terkadang suka diberikan secara gratis oleh Koh Awkoh dengan pesan ‘Bilang bapak ibumu semuanya halal’.

Bagi aku dan adik, pemberian itu menghemat pengeluaran uang jajan kami. Koh Awkoh menjadi semacam penyelamatku dan adik. Meski kami seringkali tak mengerti dengan perkataannya ketika ia sudah mulai berbicara dengan bahasa China. Namun, satu kata yang selalu teringat di benakku dan adik-adik ketika berkunjung ke warung Koh Awkoh adalah kata Kamsia, yang awalnya kami kira kepanjangan dari ‘KAMuSIApa’. Kami senang dengan kata itu. Alasannya sederhana bagi kami, mudah diucapkan jika dibandingkan kalimat-kalimat tak familiar yang seringkali ia ucapkan dengan irama cepat.

Permainan semprot-semprotan diubah menjadi permainan jual-jualan. Aku dan adik pura-pura membuka warung seperti Koh Awkoh. Peralatannya adalah ember kecil, mi kuning yang diambil dari jalinan akar pohon bertubuh kecil di dekat rumah, daun-daun dari tumbuhan perdu di depan rumah, bunga-bungaan warna-warni di rumah tetangga, serta ranting kurus. Kami bermain jual beli bersama anak-anak tetangga yang lain.

Sementara, meski sering berkunjung ke warung Koh Awkoh, kami tidak bisa terlalu dekat dengan anak-anak Koh Awkoh. Di mata kami, mereka bertampang serius, pendiam, dan lebih senang bekerja menjaga warung ataupun tinggal di rumah daripada bermain di luar. Kalaupun sesekalinya bermain di luar rumah, misalnya bermain bulutangkis, mereka akan mengajak saudara mereka yang saat itu sedang berkunjung. Permainan mereka kami akui hebat. Sayangnya, aku dan adik-adik tak pernah berhasil dekat dengan anak-anak Koh Awkoh.

Ketidakdekatan itu mulai meluntur persisnya tepat sesudah kejadian Kerusuhan Mei yang terjadi pada tahun 1998. Saat itu massa mengamuk di ibukota Jakarta dengan alasan kekecewaan terhadap pemerintah serta kesinisan terhadap etnis China. Beberapa toko dijarah serta penyerangan dilakukan terhadap etnis China. Penduduk Jakarta diliputi kecemasan serta hidup dalam ketakutan. Siapapun bisa menjadi sasaran amuk massa yang saat itu sudah berlaku hilang kendali. Sekolah diliburkan, toko-toko ditutup, jalanan diblokir, serta perumahan diperketat keamanannya. Lucunya, meski pemerintah berkata telah meningkatkan keamanan, kerusuhan tetap tidak bisa dipadamkan dan masih merajalela.

Kerusuhan serta sentimen antar etnis itu menjalar juga ke perumahan kami yang letaknya di pinggiran kota Jakarta. Ayah, sebagai ketua Rukun Tetangga, mendapatkan informasi dari satpam kompleks, segerombolan besar preman dan kelompok nasionalis – entah dari mana mereka tiba-tiba muncul- hendak melakukan ‘penyerangan’ terhadap etnis China. Kami semua menjadi panik dan was-was. Pasalnya, salah satu tetangga kami berasal dari etnis China, yakni Koh Awkoh dan keluarganya yang tinggal tepat di sebelah rumah kami. Melihat pemberitaan di televisi mengenai bagaimana massa mengamuk dan menghancurkan tanpa kendali, kami merasa benar-benar takut. Koh Awkoh dalam bahaya.

Tetapi, para warga kompleks – di luar kecemasan terhadap nasib nyawa sendiri- ternyata masih memiliki semangat kekeluargaan yang tinggi. Bersama dengan satpam kompleks, para warga lelaki bersiaga di luar kompleks untuk melindungi wanita serta anak-anak, tanpa membedakan dari suku atau agama mana ia berasal. Ketika malam ‘penyerangan’ yang diisukan tiba, Ayah menyuruh kami sekeluarga untuk bersembunyi di kamar Ibu. Aku masih ingat bagaimana raut muka Ibu tatkala mengatakan kepada Ayah ‘hati-hati’. Ada sendu di sana, bahkan aku merasakannya.

“Ayah, apakah Koh Awkoh akan baik-baik saja?” tanyaku.

Ayah mengangguk dengan mantap -sikapnya memberikan sedikit rasa tenang bagiku- dan menyuruh kami untuk menjaga diri satu sama lain.

Ayah lantas memberi kami satu pemukul kasti – yang biasa digunakan aku dan adik-adik bermain di sekolah- berukuran besar untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada preman yang berhasil masuk ke dalam rumah. Sementara, ia dan warga lelaki lainnya berjaga di depan pintu kompleks. Aku masih ingat bagaimana kami semua mengumpat di bawah tempat tidur, mematikan lampu, sembari sesekali mengintip dari balik jendela kamar Ibu yang berhubungan langsung dengan teras rumah. Hatiku berdebar kencang dan aku berdoa dalam hati seolah-olah semua nasib atas hidupku ditentukan pada malam itu.

“Tuhan, tolong jaga Ayah dan kami semua.”

Begitu doaku saat itu. Pendek namun kuucapkan penuh kesungguhan.

Sementara itu, keluarga Koh Awkoh tampak lebih tenang daripada kami. Mendengar isu itu, ia tetap tak mengungsikan keluarganya ke tempat lain yang lebih aman. Ia sepenuhnya menyerahkan nasib keluarganya pada keamanan warga yang telah beberapa tahun tinggal bersama dengannya. Namun, ketika ia mengajukan diri untuk ikut berjaga-jaga, Ayah menolak. Koh Awkoh diminta tetap berjaga di dalam rumah bersama keluarganya.

Ayah mengatakan akan melakukan negosiasi dan aksi damai terhadap kelompok tersebut. Entah apa yang dikatakan oleh para warga kompleks, tetapi gerombolan preman itu berhasil diredamkan. Tak lama, hanya butuh waktu lima belas menit. Ketika kutanya Ayah, ia menjawab, ‘uang selalu berhasil meredamkan preman. Koh Awkoh membayar banyak supaya para preman itu pergi.’ Baru kutahu kalau gerombolan preman itu hanyalah kumpulan lelaki yang memanfaatkan keadaan untuk memeras uang dari warga kompleks. Tetapi bagiku saat itu, yang terpenting adalah kami semua selamat, termasuk Ayah yang berhadapan langsung dengan para preman.

Semenjak malam itu, hubungan kami, para tetangga, dengan Koh Awkoh dan keluarganya, semakin dekat. Kalau dulu, orangtua kami jarang mengobrol dengan Koh Awkoh, kini mereka lebih sering ditemukan berbincang bersama. Ayah dan Ibu juga mau mengucapkan selamat hari raya kalau Koh Awkoh dan keluarganya sedang merayakan Imlek. Padahal, dulu, seingatku, Ayah sendiri yang mengingatkan agar tak memberikan ucapan selamat hari raya kepada mereka yang non muslim, seperti juga yang disarankan guru mengajiku di madrasah.

Sementara, Koh Awkoh, yang sejak dulu sudah terbiasa mengucapkan selamat hari raya kepada keluarga kami, kini menambah kegiatannya: mengirimkan hantaran Lebaran. Katanya, ia mendengar kalau ada tradisi mengantarkan makanan setiap Lebaran dan ia pun ingin ikut bagian dalam tradisi tersebut. Maka, setiap hari raya, keluarga kami pun kebanjiran paket dodol China lengkap dengan kartu bertuliskan “Selamat Hari Raya Idul Fitri’. Aku tidak pernah menyukai dodol yang bentuknya bundar itu, tetapi Ibuku suka sekali mengemil dodol China dan saking sukanya ia bisa menghabiskan sendirian. Ibupun akan membalas pemberian itu dengan mengirimkan senampan berisi ketupat, opor ayam, kentang ati ampela, serta sayur labu siam.

Tak hanya itu, aku pun semakin dekat dengan salah satu anak Koh Awkoh, yakni Ling-Ling, satu-satunya anak perempuan yang dimiliki oleh Koh Awkoh. Di mataku, Ling-Ling merupakan sosok yang seratus persen berbeda dengan Anastasia. Ling-Ling pemalu dan tak banyak cakap. Kalau Anastasia sangat lantang mengeluarkan pendapatnya dan senang sekali menilai orang lain dengan kata sekecut mungkin, Ling-Ling tidak demikian.

Ia senang tersenyum apapun yang mau kau katakan, ia akan tersenyum duluan, seolah menegaskan bahwa ia akan selalu ada untukmu, sebagai anak, teman, pacar, adik, ataupun murid. Sebagai teman, aku menyenanginya meski ia jarang sekali terlihat di luar rumah dan setiap hari selalu menjaga warung sampai malam. Selain itu, ia terampil mengendarai motor yang di mata seorang anak berusia delapan tahun menjadi sebuah hal keren.

Selain hantaran Lebaran, warung, serta tampilan tubuh yang di mataku dan adik-adik waktu itu lucu- karena menyerupai panda berjalan-, apa yang membuatku mengingat selalu sosok Koh Awkoh adalah kesederhanaan, keramahan, ketulusan, serta sikap bersosialisasinya yang baik terhadap tetangga. Dan itulah sebabnya, aku menuliskan kembali sepenggal kisah, tentangnya.

Ciledug, 27 Agustus 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s