JOLENE


JOLENE
Utami Diah Kusumawati
Perempuan itu bertubuh kurus dan tak begitu tinggi, kira-kira setinggi pagar rumah ukuran normal. Wajahnya tirus oval, bibirnya penuh seperti bantalan cupcake, dan dagunya lancip, membuat hidungnya terlihat mancung. Matanya kecil dan meruncing pada bagian luar menyerupai mata kucing. Bulu matanya lentik dan membingkai kedua mata sama tebal. Ia berambut hitam dan gelap, bersinar seperti pantulan pada air danau malam hari, serta ikal seperti ombak pantai. Kalau sedang berjalan, ia senang melenggokkan tubuh hingga bergoyang rambutnya.
Setiap hari, perempuan itu selalu mengenakan cardigan hitam sebagai padanan atasan apapun yang dipakainya. Cardigan hitam itu bentuknya sederhana, seperti cardigan umumnya. Tak ada renda ataupun pernik pada cardigan tersebut. Polos. Meski bukan model terbaru dan terkesan jadul, ia selalu terlihat menawan dalam balutan cardigan hitam itu. Seolah-olah cardigan hitam tersebut menjadi penanda yang memperkuat identitas karakter perempuan tersebut. Sehingga, apapun yang ia kenakan, aku selalu terserap oleh pesona cardigan hitam polos yang ia pakai. Aneh memang.

Tepat pukul sembilan pagi, perempuan itu akan melewati jalan di depan rumahku dan membawa keranjang. Awalnya kupikir keranjang itu berisi roti atau kue lainnya, yang akan diberikan pada pemilik rumah yang tinggal di ujung jalan. Ternyata, tidak. Keranjang itu berisi peralatan seperti cermin perak klasik bergagang dengan ukiran, payung lipat warna merah jambu, lipstik merah tomat, saputangan putih susu berenda, serta surat-surat dan amplop aneka warna. Ia menutupi keranjang itu dengan selendang kecil berwarna cokelat pastel, tetapi sebagian isinya menyembul keluar hingga bisa kulihat isi keranjang itu. Setiap hari, isinya selalu sama.
Lalu, ia akan berjalan menuju rumah di ujung jalan. Sebuah rumah berpagar batu bata merah yang dipenuhi dengan sulur bunga berwarna-warni. Ia akan berdiri di depan pagar, mengetuk pintu dengan menggoyangkan bel keemasan, lalu masuk ke dalam rumah itu. Aku tak akan melihatnya hingga tepat pukul dua, saat ia keluar bersama dengan seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Terkadang ia membawa satu keranjang lagi di tangan kanan yang berisi aneka roti ditutupi oleh selendang merah motif kotak-kotak. Mereka akan berpisah di ujung jalan, sang perempuan tua menuju sebuah sekolahan di perumahan ini dan ia masuk ke rumahnya.

Jolene nama perempuan itu. Ia belum genap berusia dua puluh lima tahun dan sudah bercerai sekali. Mantan suaminya seorang pegawai negeri sipil di Kementerian Agama yang ternyata memiliki hobi berselingkuh. Katanya lelaki itu selingkuh lebih dari sekali dan melakukan tanpa rasa bersalah. Jolene menceraikan lelaki itu tepat setahun hubungan pernikahan mereka. Usai perceraiannya beres, Jolene lalu pindah dari rumahnya dan mengontrak di perumahan ini dua bulan lalu. Mereka bilang, ia ingin kabur dari masa lalu yang pahit, keputusan yang salah menikahi lelaki itu, membenahi hidup, serta menyembuhkan rasa malu terhadap keluarga besarnya. Dan di sinilah Jolene berada.
“Kau sudah pernah bertemu dengan tetangga kita yang baru?” tanya seorang Ibu bertubuh gempal saat aku membeli dua bungkus nasi uduk di lapangan dekat rumah.
“Jolene? iya, aku pernah melihatnya. kenapa memang, bu?”
“Cantik dan bahenol yah katanya?”
Aku mengambil empat pisang goreng dan memasukkannya ke dalam kantung plastik hitam yang sedari tadi kugenggam.

“Iya. Berapa harga pisang goreng ini?”
Si penjual mengangkat empat jari tangan memberi tahu harga pisang goreng tersebut empat ribu rupiah. Ibu yang juga sedang memilih gorengan di sebelahku itu tampak belum puas. Ia melangkah mendekatiku.
“Pernah ngobrol sama orangnya? Sombong dan judes yah katanya.”
Aku menggeleng. Ini perempuan apa-apaan, sih. Belum apa-apa udah nuduh orang yang enggak-enggak aja. Aku mulai malas berlama-lama mengobrol dengannya. Palingan buntut-buntutnya hanya membicarakan kejelekan orang lain karena ia tak bahagia dengan kehidupannya. Kasihan.
“Gak tau, Bu. Tetapi dari wajahnya tampak ramah.”
Ibu itu masih terlihat belum puas, tetapi aku buru-buru menyudahi pembicaraan dengan membayar semua yang kubeli.
“Sepuluh ribu, kembaliannya ambil saja. Permisi, Bu.”
“Ah, palingan ramahnya karena cari muka, maklum pendatang baru! Hati-hati dia senang ngincar laki orang, gak usah ditemenin,” perempuan itu berkata kenes dan tak mempedulikanku, masih sibuk memilih-milih gorengan.

Aku pun lekas-lekas pergi dari sana. Tak mau terpengaruh sama perkataannya. Sejujurnya, aku cukup menyukai Jolene. Perempuan itu memiliki senyum yang menyenangkan untuk dilihat.
***
Namun topik Jolene dan desas desusnya mulai teralihkan dari perhatianku ketika aku diperkenalkan oleh seorang teman dengan lelaki. Rasa-rasanya duniaku berubah menjadi manis seperti gula dan perhatianku hanya tertuju kepada lelaki itu. Lelaki yang bisa membawaku pergi dari rumah ini, menyelamatkanku dari kewajiban mengurus adik-adik lelakiku, dan juga ayahku yang sudah tua dan sering sakit-sakitan. Lelaki yang akan menjagaku hingga kami tua bersama nanti.
Semenjak Ibu tiada, semua tanggungjawab keluarga berpindah ke bahuku. Karena hanya tinggal akulah satu-satunya perempuan, mau tidak mau aku melaksanakannya. Jadi, semenjak lulus kuliah hingga kini, tugasku hanya di rumah merawat Ayah yang mengalami luka diabetes dan mesti dibersihkan setiap hari serta sesekali menerima pekerjaan sampingan seperti membuat kue dan juga menerima pesanan katering.
Terkadang aku merasa letih, sudah berjalan empat tahun namun kehidupan buatku masih saja berjalan sama. Hari dihabiskan di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, serta mengganti perban ayah setiap hari, atau membuat makanan usai menyiapkan sarapan untuk adik laki-lakiku yang beranjak dewasa. Tetapi, apa yang bisa menyelamatkanku keluar dari kehidupan ini? Di otakku, jawabannya adalah menikah. Itu satu-satunya cara.
Pertanyaannya adalah lelaki mana yang mau denganku?
Aku tidak pernah merawat diri. Terbiasa hidup mandiri dan terdidik secara alamiah untuk mengurus segala keperluan sendiri, memenuhi kebutuhan keluarga, aku menganggap merawat diri bukanlah prioritas nomor satu. Adikku banyak, ibu dan ayah bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji pas-pasan. Begitu egois untuk hanya mempedulikan diriku di balik semua kebutuhan yang lebih penting tersebut. Jadi, pergi ke salon tidak pernah menjadi hobi untuk menghabiskan uang.
Kedua, aku tidak terlalu suka bergaul dengan di luar. Ketika kuliah, aku bukan termasuk anak populer. Usai kuliah, aku langsung pulang ke rumah dan selalu tidak bisa menikmati pesta sebagaimana anak muda lainnya. Satu kegiatan yang paling bisa menyita perhatianku hanyalah membuat resep makanan baru dan mempraktekkannya. Makanya temanku bisa dikatakan itu-itu saja. Tetapi, aku sangat menikmati kehidupan itu. Jauh dari hingar bingar dan bisa menyelami apa yang kusukai dalam dunia kecil milikku.
Hingga suatu saat aku tersadar, waktu bukanlah sahabat bagiku. Di saat teman-teman sudah mencapai pencapaian pribadi mereka, aku masih tetap berkutat di rumah tanpa masa depan yang pasti. Aku tak mau menghabiskan seumur hidupku untuk merawat adik-adik lelakiku ataupun ayahku. Bukannya aku tidak mencintai mereka, tetapi aku menginginkan kisah yang berbeda atas hidupku. Lagipula, supaya kelak aku tidak merepotkan mereka juga. Oleh karena itu, ketika seorang teman memperkenalkan lelaki ini, aku merasa dunia sedang berbaik hati padaku.
Ia seorang pengusaha berusia tiga puluh tujuh tahun. Sangat menawan dengan senyum yang karismatik. Hidungnya mancung, tatap matanya tajam, dan ia bertubuh tinggi. Entah darimana temanku menemukan lelaki ini tetapi kami kini dekat satu sama lain. Ia mengatakan sedang mencari calon isteri, terutama yang pandai memasak. Tahu aku sangat pandai dalam hal memasak, temanku memperkenalkanku padanya.
Kami kencan di kafe buku pertama kali. Temanku meminjamkan baju kemeja putih ketatnya padaku. Ia juga mendandaniku, menggulung rambutku hingga terbentuk lekukan yang sempurna, serta mengenakan kalung mutiara imitasi di leherku. Ketika bercermin, aku nyaris tidak mengenali diriku sendiri. Aku tampak sungguh berbeda. Begitu melihatku, lelaki itu mengatakan aku tampak manis dengan baju kemeja serta rok hitam mini. Meski demikian, selama pertemuan kami, aku berupaya keras menyembunyikan perasaan tidak nyaman akibat mengenakan pakaian yang bukan diriku. Sepertinya, ia tidak menyadarinya. Syukurlah.
“Aku tidak mencari pacar lagi, melainkan calon isteri, yang sudah siap berumahtangga denganku. Sesederhana itu saja.”

Aku mengangguk, memahami kebutuhan tersebut, menyadari bahwa kami memiliki sebuah persamaan di sana. Perbedaan usia sebesar nyaris sepuluh tahun tidak lagi menjadi masalah. Aku mulai jatuh cinta dengan lelaki itu, menghayalkannya bisa dengan segera membawaku pergi dari rumah, membebaskan dari jeratan tanggungjawab mengurus keluargaku seumur hidup.
“Aku juga begitu, aku ingin cepat menikah,”jawabku tersenyum.
Keesokannya ia mengenalkanku kepada keluarganya. Ibunya, seorang ibu rumah tangga yang penuh perhatian dan senang memasak. Ia memiliki satu orang adik perempuan yang menggemari kartun SailorMoon dan berwajah oriental. Ketika aku berkunjung ke rumahnya, aku membawakan satu buah blackforest buatanku serta boneka kodok untuk adiknya dan sukses memenangkan hati keduanya. Sebagai gantinya, ia kuajak mampir ke rumah. Ia setuju.
Perkenalan yang berjalan lancar ini membuatku terlupa sama sekali dengan persoalan Jolene dan para tetangga hingga suatu saat, aku bertemu dengan seorang tetangga di pasar dekat rumah.
“Eh kamu yang tinggal di rumah pagar hijau tua itu, kan?”
“Benar, Bu. Apa kabar?” Ia tersenyum padaku namun tak lama kemudian melemparkan padangan prihatin. Seolah-olah aku baru saja mendapatkan musibah buruk sekali. Aku mengernyitkan kening, tetapi ia tak menggubrisku dan meneruskan obrolan.
“Kamu tahu Jolene?”
Lagi-lagi Jolene. Favorit ibu-ibu sekali perempuan satu itu. Nyaris semua perempuan bersuami di perumahan ini membicarakan tentang dia. Berada dalam kondisi mood baik, aku menanggapi pertanyaan perempuan tersebut dengan hati riang. Mungkin perempuan tua ini hanya membutuhkan teman ngobrol saja.
“Tahu, Bu. Ada apa dengan Jolene?”
“Dia sudah punya pacar sekarang. Kamu tahu?” Perempuan itu bertanya dengan amat hati-hati.
“Gak tahu, tetapi ngapain juga mengurusi itu? Itukan kehidupan Jolene,”
Perempuan itu mengangguk-angguk meski wajahnya masih terlihat iba.
“Habis, dia juga senang diurusi. Kerjaannya setiap hari kan pamer tentang betapa dia berasal dari keluarga kaya dan berada. Sampai capek saya dengarnya. Itu benar loh, Ibu Dara yang sering dikunjungi sama dia suka cerita. Sebenarnya dia sebal sama janda muda yang sok lugu itu cuma karena kasian jadi diterima aja bertamu. Gak punya teman dia di sini. Omong-omong, dia mau nikah dengan pacarnya itu.”

“Oh, baguslah. Turut senang buat dia. Siapa lelakinya?”
“Lelakinya pacar orang lain kalau kata Ibu Susi. Saya cuma kasihan sama pacar si lelaki yang direbut sama si janda itu. Ah, perempuan itu memang murahan!” Ia terdengar kesal sendiri. Aku yang mendengarnya malah jadi tak simpati. Kok, perempuan-perempuan ini senang banget ya mengurusi hidup orang lain?
“Tetapi, siapa yang gak mau sama lelaki itu? Kaya dan tampan!”
“Memang siapa nama lelakinya?”
“Ehm, kalau gak salah namanya Jodi Nugroho, pengusaha. Kamu kenal?”

Astaga, itu kan.. pacarku! Pantas saja ia tidak pernah lagi berkunjung ke rumah akhir-akhir ini. Kalau diteleponpun tak pernah mengangkat. Diajak jalan keluar selalu menolak dan memberikan alasan sibuk. Padahal dulu, ia yang selalu inisiatif mengajak jalan duluan. Sekarang? Tidak pernah!
Dan semua itu terimakasih, berkat si janda muda yang ternyata egois dan narsis itu. Ia yang senang membicarakan dirinya sendiri dan arogan, memiliki pantat seperti pepaya busuk, kulit wajah mirip permukaan kue bika ambon kalau dilihat dari dekat, tampilan kue gosong dan hangus dengan pakaian hitam kebangsaan tersebut, ucapan bawel dan judes seperti makanan kebanyakan merica atau cabe Jalapeno, tingkah laku nyentrik seperti meminum rhum campur jamu. Gak nyambung.
Ah, Jolene, Jolene. *Aku harus bicara padamu. Semestinya tidak kau rebut pacarku. Kau bisa dapatkan siapapun yang kau mau, tetapi aku hanya punya lelaki itu untuk dicintai.
Sadarkah, kau, Jolene?
*Lirik Jolene dinyanyikan oleh Dolly Parton

Utami D. Kusumawati
ciledug/2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s