Ratu Cik Sima


Ratu Cik Sima

Oleh Utami D. Kusumawati

Kalau melihat pelangi usai hujan turun, aku selalu teringat dengan perempuan asal Kampar, Riau satu ini. Ratu Cik Sima. Entah kenapa, mungkin karena ia terlalu mencolok dan berbeda dengan perempuan kebanyakan?

Ratu Cik Sima adalah tetanggaku ketika aku kos di daerah Ciracas Jakarta Timur kira-kira dua tahun yang lalu. Waktu itu, aku bekerja di salah satu kantor restoran siap saji terbesar di Asia yang ada di daerah tersebut. Di Ciracas memang terdapat cukup banyak pabrik besar yang mampu menyerap cukup banyak tenaga kerja buruh. Daerah ini tak jauh berbeda dengan kawasan industrial Cikarang. Sama-sama gersang dan panas – akibat banyaknya pabrik dan minimnya pepohonan – salah satu persamaannya.

Berbeda dengan muasal namanya, Ratu Cik Sima, yang merupakan salah satu tokoh pemimpin dalam hikayat nusantara Riau tentang asal muasal nama ibukota Dumai, perempuan satu ini tidak memiliki potongan yang bisa dikatakan mewakili kewibawaan seorang ratu Riau. Di Riau sendiri, perempuan memang sering dijadikan sebagai tokoh pemimpin yang karismatik. Kalau kata Ratu Cik Sima suatu ketika, ‘cobalah kau lihat Teater Mak Yong, kau pasti menemukan peran perempuan sebagai ratu.’

Tinggi Ratu Cik Sima sekitar 155 sentimeter dan berat badan nyaris empat puluh kilo menjadikan Ratu Cik Sima terlihat kurus. Sementara, rambutnya keriting kecil dengan panjang sebahu yang tampaknya hampir tidak pernah disisir selalu ia biarkan tergerai. Beberapa helai poni keriting terjuntai di keningnya yang menonjol diantara bagian wajah lainnya. Hidungnya mancung membagi sempurna mukanya yang kecil dan kedua matanya menunjukkan sorot mata yang galak, seperti singa. Sementara bibirnya, selalu terlihat merengut meski baru kusadari bentuk bibir Ratu Cik Sima memang seperti itu aslinya.

Ia senang mengenakan baju kedodoran dan berwarna-warni yang tidak pernah nyambung. Misalnya hari Senin lalu, bajunya adalah terusan tanpa lengan warna kuning dengan motif bunga matahari besar dipadankan dengan cardigan warna hijau neon. Sementara sepatunya, mary jane warna ungu tua. Beberapa teman kos mengatainya gadis gula-gula, tetapi aku lebih suka menyebutnya berani, dengan menabrakkan warna seperti itu. Mungkin kesukaanku disebabkan setiap hari, di kantorku selalu diwajibkan mengenakan seragam menyerupai pelayan restoran siap saji. Melihatnya berubah warna setiap hari seperti memberikan suatu kesegaran tersendiri bagi hidupku yang statis.

Ratu Cik Sima bekerja di perusahaan berbeda denganku. Meski, kantor kami berjarak tidak berjauhan satu sama lain. Perempuan ini adalah seorang editor buku pelajaran di salah satu perusahaan penerbitan tertua di Indonesia. Datang merantau ke pulau Jawa dari kota kelahirannya, Kampar, semenjak ia diterima sebagai mahasiswi Institut Teknologi Bandung dengan jurusan Fisika. Kemudian, setelah lulus, ia diterima bekerja di penerbitan tersebut dan langsung hijrah ke Jakarta sampai sekarang.

Mengenai keluarganya, ia tak banyak bercerita kecuali suatu waktu ia meminta tolong dicarikan jodoh untuk seorang tantenya yang melajang. Ia mengatakan ibunya dan keluarga besarnya sudah cerewet dan ia pusing setiap kali menelepon mereka selalu mendengar keluhan yang sama. Usia tantenya tersebut sudah nyaris empat puluh tahun. Di Kampar, menjadi perawan tua – sama dengan memiliki perawan tua dalam anggota keluarga – adalah hal yang memalukan. Oleh karena itu, ia menjadi sibuk menolong tantenya mencarikan calon suami di luar kenyataan bahwa ia, di usianya yang mendekati tigapuluhtahun, masih juga melajang.

“Untungnya aku bekerja, kalau aku melajang dan pengangguran, aku juga akan bernasib sama seperti tanteku, dijodohkan ke sana dan ke sini,” ujarnya suatu waktu.

Diluar urusan keluarga, ia mengaku selalu menikmati pekerjaannya. Terbukti dari celotehan 24 jam tentang kantor, hasil editan yang ia kerjakan sepenuh hati, nama buku-buku proyek yang terdengar mengerikan di telingaku, hingga cerita korektor dan penerjemah baru di divisinya. Tak satupun ada nada keluhan di sana. Setelah seru bercerita, ia akan masuk ke kamarnya dan menonton sebuah film lalu tidur hingga keesokan hari. Atau jika tidak menonton, ketika pintu kamarnya terbuka sedikit, ia terlihat sedang sibuk dengan kumpulan naskah-naskah di atas tempat tidurnya.

Sementara aku, setelah bekerja selama nyaris tiga tahun lamanya, mulai merasa stagnan dengan karir yang kujalani. Terlebih melihat nominal gaji yang tidak pernah naik secara signifikan dalam rentang periode tiga tahun ini. Padahal, permintaan kiriman uang dari ayah dan ibu di Surabaya semakin meningkat tiap tahunnya. Alasannya, harga barang kebutuhan yang juga meningkat. Selain itu, pacarku juga sudah mengutarakan keinginannya untuk melamar di tahun depan. Mau tak mau aku harus menabung juga. Akibatnya, setiap kali Ratu Cik Sima memintaku bercerita, yang terlontar dari bibirku hanyalah, “aku ingin berhenti.” Meski, sampai kini ucapan itu tak pernah sekalipun terwujud.

Dengan Ratu Cik Sima, aku berteman cukup baik dibanding dengan teman kos lainnya, yang cenderung individualis. Ada sesuatu yang berbeda pada diri perempuan bungsu dari empat bersaudara tersebut. Ia memang tak luwes dalam bergaul, seringkali kikuk, judes dan senang marah-marah tanpa alasan yang jelas, dan seringkali saat mengutarakan pikirannya kalimat-kalimatnya tak kumengerti –mungkin karena ia lulusan ITB dan jurusan fisika – tetapi di balik semua itu, Ratu Cik Sima merupakan seorang pendengar yang baik. Setidaknya, ia tak pernah seperti yang lain, yang selalu gelisah saat mendengar orang lain bercerita dan maunya didengarkan kisahnya terus, non stop.

Tak hanya itu, ia juga senang memasak, terutama makanan khas Riau seperti diantaranya Gulai Asam Pedas Ikan Patin yang tersohor itu, Gulai Balacan Udang, ataupun sambal terung asam yang rasanya bikin nyaris ‘gila’. Kepala pusing, mata berkunang-kunang dan berair, tangan keringatan, serta jantung berdebar kencang saking nikmatnya. Yang paling penting dari kesemua itu adalah, ia sering mengajak kami, teman-teman kosnya, makan bersama ketika ia melakukan kegiatan masaknya tersebut meski tak semua menerima undangannya.

Memang tak semua anak di kosan perempuan ini bisa mengerti Ratu Cik Sima. Seperti yang sudah kujelaskan di atas, perempuan ini cenderung tak bisa ditebak. Misalnya, awalnya aku menduga Ratu Cik Sima adalah orang yang sangat menjaga kebersihan. Ia sering mengomel kalau bak cuci piring penuh dengan piring-piring kotor dari hari kemarin. Lucunya, ketika diselidiki, ternyata beberapa piring-piring kotor itu adalah piring-piringnya sendiri.

Ketika kami menjelaskan kepadanya tentang piring-piring tersebut. Ia pura-pura tidak tahu bahwa ia memiliki sebagian dari piring-piring kotor itu. Tentu saja sebagian teman yang kena semprot dari mulut judesnya sebal dan keki. Insiden kecil macam itu sudah bisa membuat beberapa penghuni kos melipir saat bertemu dengan sosok perempuan nyeleneh satu ini. Selain tak mau kena salah sasaran omelan, juga tak tahan dengan kengeyelan dan sikap tak pernah mau salah Ratu Cik Sima.

Akhirnya, hanya aku yang bertahan untuk menghabiskan waktuku dengan Ratu Cik Sima. Pasalnya, di kos tersebut, hanya aku dan Ratu Cik Sima yang merupakan perempuan rantau. Sisanya, anak Jakarta pinggiran yang bekerja di pinggir Jakarta lainnya seperti di Ciracas ini. Kalau merasa sepi, mereka bisa saja langsung pulang ke rumah. Makanya, di balik gunjang ganjing bahwa Ratu Cik Sima memiliki keanehan yang tak bisa ditolerir, aku berusaha melihat sesuatu yang lain dari dirinya. Setidaknya, sampai aku menemukan tempat kos lain yang jauh lebih baik.

***

Siang itu, udara terasa sangat terik dan menyengat dibanding hari-hari lainnya. Padahal, ini belum masuk bulan puasa. Di kantor, aku sudah menghabiskan satu gulung tisu untuk menyeka keringat yang terus mengucur seolah lewat di jalan bebas hambatan. Maka itu, sesampainya di rumah, aku memilih berbaring di depan kamar, di tempat anak-anak kos biasa menonton televisi, sembari menyalakan kipas angin besar tepat di depan tubuhku.

Mantapnya, rek.

Lagi menikmati surga dunia tersebut, Ratu Cik Sima tiba-tiba masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Ia sempat tersandung kabel telepon di ruang tamu dan menjatuhkan salah satu buku tebal yang dipegangnya. Kemudian, ia melaluiku dan masuk ke kamar tanpa mengatakan sepatah katapun. Kayak buron yang dikejar-kejar oleh polisi aja deh, ujarku dalam hati.

Aku yang sudah memahami tabiat luar biasanya tersebut, tak menanggapi, masih asik leyeh-leyeh di depan kamar dan kini mulai merem melek nyaris tertidur. Namun, ternyata sampai malam perempuan itu tidak juga ke luar kamar. Padahal, aku mau mengajaknya makan malam. Tetapi, lampu kamar Ratu tidak juga dinyalakan. Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli siomay udang di ujung jalan, tak jauh dari tempat kos.

Keesokan paginya, ketika aku bersiap untuk ke kantor, terdengar omelan Ratu Cik Sima dari dalam kamarnya. Aku mengintip dari balik pintu kamar yang terbuka setengah.

“Gak bisa begitu dong, Pak! Saya kan sudah sejak lama mengajukan ide proyek penerjemahan buku-buku luar ini. Kenapa begitu saja diserahkan ke editor muda tak berpengalaman tersebut? Jangan main-main, Pak! Pokoknya saya mau saya yang kerjakan proyek terjemahan itu kalau tidak saya tak akan masuk kerja, titik.”

Baru kali ini, aku melihat aura seorang ratu Riaunya muncul. Ia terdengar begitu berwibawa, tegas, dan berkuasa meski di satu sisi ancamannya lebih terdengar seperti rajukan seorang anak kecil yang putus asa. Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar dan aku pura-pura membenarkan rambut di cermin dekat ruang menonton televisi.

“Eh, Ratu, gak berangkat kerja?” aku pura-pura tidak mendengar apapun tentang omelannya dan ia pun seperti tak peduli apakah aku menguping atau tidak.

“Gak. Aku lagi kesal…” dan curhatlah Ratu Cik Sima.

Semua bermula dari sebuah proyek penerjemahan buku pelajaran luar negeri yang direncanakan divisinya. Sebagai editor senior, Ratu Cik Sima kedapatan tugas untuk meriset buku-buku apa saja yang sekiranya layak dibeli perusahaan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Maka, ketika ia ditugaskan pergi ke London Book Fair dua tahun lalu, Ratu Cik Sima mulai mencari referensi buku apa yang layak dibeli. Ia mengambil dan menyerahkan kartu nama, mengenalkan perusahaan penerbitannya kepada penerbit luar negeri, dan membawa beberapa nama untuk diserahkan kepada sang atasan. Ia pikir, ia yang akan menjadi editor proyek tersebut.

Ternyata, sang atasan – Ratu Cik Sima menyebutnya Si Mbah Dukun, plesetan dari nama belakangnya Simalungun- berpikir lain. Ratu Cik Sima tidak mengatakan alasan penggantian dirinya apa, tetapi sang atasan memutuskan menunjuk seorang editor lain yang baru bekerja selama tiga bulan untuk menjadi editor pilot proyek tersebut. Jelaslah, ia mangkel.

“Mungkin atasanmu pingin memberikan kesempatan kepada mereka yang muda?”ujarku mencoba menyenangkan hati Ratu Cik Sima.

“Ah! Tidak begitu. Editor muda kan kurang pengalaman. Kau tahu kan kalau dewan perwakilan rakyat dipimpin oleh mereka yang muda, tak berpengalaman, serta sok tau? Adanya chaos, Dionysian. Mereka harusnya belajar dulu tidak langsung memimpin. Sama dengan ini. Proyek besar harus ditangani yang berpengalaman. Goblok saja Si Mbah Dukun itu.”

“Mungkin dia rencana ambil resiko?”

“Tidak begitu. Dengar, nama belakang lelaki muda dan tolol itu Sitanggang, kamu tau, Sitanggang, dan aku Cik Sima. Ini masalahnya,” ia terus menerus mengatakan hal tersebut tanpa kupahami maksudnya.

Lalu kenapa kalau lelaki itu Sitanggang dan dia Cik Sima? Hanya karena persoalan nama terus proyek lepas dari tangannya? Aku menduga diantara kedua orang tersebut sudah terjadi perang dingin sejak lama. Sering sekali kudengar Ratu Cik Sima mengobrol dengan ibunya lewat telepon mengata-ngatai tindakan sang atasan, yang menurutnya tidak pernah berpihak padanya.

“Terus sekarang kamu mau bagaimana, Ratu?” aku mengalihkan percakapan kami sebab kulihat ia sedang ingin bertahan dengan pemikirannya sendiri.

“Aku mau adakan revolusi serta melapor ke pimpinan divisi. Pokoknya akan kutunjukkan ke Si Mbah Dukun itu aku akan dapatkan kembali proyek terjemahan. Jadi, maafkan akhir-akhir ini aku akan super sibuk dan pulang dari kantor larut malam. Kau tahu revolusi butuh persiapan serta pemikiran yang matang,” ia mengucapkannya dengan berapi-api.

Aku hanya manggut-manggut meski tak mengerti keseluruhan jalan berpikirnya seperti biasanya. Katanya tadi mengancam tak masuk kerja, kok sekarang bilang mau pulang kantor larut malam? Tetapi aku malas menanyakan padanya lebih lanjut. Salah-salah ia malah marah padaku lagi. Ah tak peduli. Dalam hati aku bersyukur, ada hal lain yang menarik perhatiannya daripada menyemprot dan menjudesi penghuni kos tanpa sebab. Akupun pamit padanya dan berangkat kantor dengan hati riang gembira, berniat melaporkan hal ini kepada penghuni kos yang lain.

***

Namun, tiga bulan kemudian, ketika hendak berangkat kerja, kutemukan lima buah koper besar tergeletak di depan pintu kamar Ratu Cik Sima. Aku langsung saja merasakan hal buruk sedang terjadi. Benar saja, ibu kos mengatakan kalau Ratu Cik Sima telah memutuskan untuk mengakhiri masa kosnya di rumah kos perempuan itu. Alasannya? Ibu kos tidak tahu pasti. Koper-koper itu sebentar lagi katanya akan dibawa menggunakan mobil pick up. Tujuannya? Ibu kos juga tidak diberitahu oleh Ratu Cik Sima.

Maka, tanpa diduga-duga aku langsung panik tanpa sebab. Aku menanyakan semua penghuni kos perihal kepergian Ratu Cik Sima yang mendadak tersebut. Rata-rata dari mereka menjawab dengan acuh tak acuh, tak peduli seolah-olah menegaskan ketidakberadaan Ratu Cik Sima di mata mereka. Hanya satu yang menjawab pertanyaanku dengan kekhawatiran yang sama,

“Aku juga gak tau Mbak Eka koper-kopernya mau dibawa ke mana. Tapi, terakhir kali aku lewat kamar, aku dengar ia telpon Ibunya bilang kalau ia kena PHK. Waktu itu sih, sambil nangis-nangis, Mbak, nelponnya. Kasian, deh. Aku juga bingung, habis PHK ini mau ngapain coba Mbak Eka. Tapi aku gak berani nanya-nanya, tau aja kan, orangnya susah begitu. Eh, tiba-tiba pagi ini dapat kabar dari bu kos kalau ia udah pindah kos,”

Aku manggut-manggut. Terbayang percakapan terakhir kali antara aku dengannya di ruang menonton.

“Aku berangkat kerja dulu,ya Mbak Eka.”

“Ya. Hati-hati di jalan!”

PHK? Mengapa bisa Ratu Cik Sima yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK)? Aku memang pernah mendengar selentingan kalau perusahaan penerbitan tempat Ratu Cik Sima bekerja akan mengadakan PHK. Alasannya sih karena katanya harga kertas meningkat serta diturunkannya undang-undang oleh pemerintah yang melarang perusahaan penerbitan swasta untuk menjual buku ke sekolah-sekolah negeri menyebabkan perusahaan tersebut bangkrut. Padahal, pemasukan utama mereka berasal dari sekolah negeri yang tersebar di seluruh Indonesia. Maka, perusahaanpun memutuskan untuk mengadakan efisiensi dengan PHK tersebut.

Namun, aku tetap tak bisa mengerti mengapa Ratu Cik Sima yang menjadi korbannya. Tak mungkin karena – seperti yang sering dikeluhkannya- namanya Cik Sima dan yang lain Simalungun, kan? Di mataku, meski nyeleneh, ia pintar dan masih muda (usianya kepala tiga). Ia lulusan Institut Teknologi Bandung –bandingkan denganku yang berasal dari sekolah tinggi ekonomi tanpa nama- dengan jurusan yang paling kuhindari ketika sekolah. Ia senang membaca buku-buku tebal dengan judul luar biasa cerdas. Ia juga pandai beropini setiap kami menonton berita bersama-sama. Tak hanya itu, perempuan ini, meski bertubuh mungil, juga sangat cekatan. Satu kekurangannya hanyalah, tak banyak yang mau memahami Ratu Cik Sima.

Aku pun memilih memendam semua itu. Setelah merapihkan seragam kantorku, aku berangkat kerja. Tetapi, dalam hatiku, tanpa sebab tiba-tiba sendu menguap dan memenuhi ruang seolah pelangi tak akan pernah ada seusai hujan tiba…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s