Biarkan Kami Menari


Biarkan Kami Menari
Jurnal Nasional | Minggu, 24 Jun 2012
Wita Lestari
Kini, menari kembali diakrabi masyarakat kota dalam konteks kebudayaan urban. Tari, tanpa mesti pentas di atas panggung, sudah menjadi roh masyarakat kita sehari-hari, baik itu masyarakat tradisional ataupun lingkup urban. Nah, mengapa Anda pun tak ikut menari?

Utami Diah Kusumawati

Image

utamidk@jurnas.com

 

TUJUH orang penari lanang Bedhoyo Dirada Meto keluar dari sisi kanan panggung Teater Jakarta pada malam pembukaan International Dance Festival (IDF) 2012. Mereka bertubuh bidang, tinggi, dan maskulin. Masing-masing berjalan perlahan dengan langkah kaki yang tegap dan gagah. Tiap penari diiringi oleh seorang lelaki mengenakan setelan beskap dan membawa busur beserta panah. Setelah mengambil posisi dan bersimpuh, mereka pun menari khas gerakan bedhoyo lengkap dengan gerakan menggunakan sampur atau selendang dan lenggokkan kepala khas tarian asal Jawa Tengah ini.

Penampilan itu membawa memori saya ke beberapa tahun silam. Saya memutuskan untuk mengikuti latihan Tari Bedhoyo yang diadakan oleh grup tari Padnecwara-Retno Maruti di Institut Kesenian Jakarta. Saat itu alasan pertama untuk mengambil kelas tari tradisional adalah karena saya kepincut penampilan khas Padnecwara saat mereka tampil di Salihara membawakan lakon tarian Lelangen Beksan.

Tarian itu indah dan kisah yang terjalin di antara gerak tarinya yang trengginas begitu menghanyutkan hingga membekas dalam di benak saya. Seminggu usai menulis ulasan pertunjukan tersebut, saya resmi bergabung dalam kursus Tari Bedhoyo. Latihannya diadakan setiap minggu siang selama dua sampai tiga jam.

Ternyata, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kepincut. Melakukan Tari Bedhoyo selama dua jam tak ubahnya melakukan olahraga yoga. Keheningan, fokus, ketenangan untuk berpusat pada sumber dalam diri merupakan kunci utama yang dilakukan saat melakukan tarian ini. Meski hanya dua jam, tetapi tubuh sudah penuh peluh dan saya merasa elemen-elemen diri lebih terhubung seusai menari Bedhoyo. Seolah terbebaskan dari fragmentasi diri akibat rutinitas pekerjaan. Tari dalam persepsi saya lantas mengejawantah sebagai sebuah hal yang membebaskan.

Merujuk Sondra Horton Fraleigh dalam buku Dance and The Lived Body: A Descriptive Aesthetics, manusia menari untuk meyakinkan tubuh mereka mampu bergerak dengan bebas. Manusia menentukan sendiri tarian mereka, menafsirkannya, dan memeragakan kebebasan pilihan mereka sendiri. Manusia bergerak semata-mata demi pergerakan dan menari. Menari di mata Sondra membebaskan manusia dari batasan kehidupan keseharian yang praktis dan gerakan utilitarian. Pendeknya, dengan menari manusia mengalami kebebasan sebagaimana kita bergerak bebas dari hal-hal yang cenderung praktis dalam keseharian.Image

Alasan serta penyebab – untuk menari – tersebut bagi yang lainnya pun berbeda seperti yang dikatakan Maria Darmaningsih, ada berbagai alasan yang menempatkan tari sebagai sebuah seni sekaligus sebuah gaya hidup. Bagi Priscilla (27) seorang market researcher yang memiliki seorang anak, keputusannya untuk bergabung dengan kelompok DanceSport UI karena ia menanggap Ballrom Dance adalah sesuatu yang keren. Dengan belajar tarian yang lebih dinamis dan energik seperti Cha cha, Rumba, Salsa atau Jive misalnya, bisa meningkatkan rasa percaya dirinya.

“Menari Ballroom itu seksi. Gue ngerasa cantik. Lagi pula sekalian olahraga. Jaga badan. Daripada ikutan fitness, gue mudah bosen,” katanya.

Antusiasme Menari

Sementara, Sita Tyasutami (24), mahasiswi Sastra Prancis UI, yang bergabung dengan kelompok tari Ardhanari (didirikan oleh Maria Darmaningsih) mengatakan, belajar tari klasik Jawa itu menantang. Baru-baru ini, ia bersama Ardhanari mementaskan tarian berjudul I Dance di Omah Btari Sri Jakarta Selatan. Pementasan ini menyertakan tarian seperti Tari Nawung Sekar, Tari Sari Kusumo, Tari Gatotkoco Gandrung, dan Tari Golek Menak. Di Ardhanari ia menyatakan banyak belajar tentang pakem tari Jawa Tengah gaya Yogyakarta yang tentunya butuh kesabaran khusus dalam mempelajarinya.

“Saya tertarik belajar tari tradisi karena ingin mengapresiasi seni tradisi,” katanya.

Andara F Moeis, salah satu penari muda kontemporer yang juga pengajar tari di Gigi Arts Dance, yang ditemui di Institut Kesenian Jakarta mengatakan, saat ini antusiasme anak muda terhadap tari sedang tinggi. Tari menjadi sebuah gaya hidup tak terpisahkan dari kaum muda urban di perkotaan besar. Tak heran bermunculan banyak nama lembaga tari dan kursus tari di Jakarta seperti EKI Dance, Dance Wave Centre, United Dance Workshop, Marlupi Dance Academy atau Namarina yang menawarkan pengajaran tari seperti balet, hiphop, tap dan lainnya dengan harga bervariasi mulai dari Rp100.000 – Rp500.000 per bulan.

Pusat -pusat kebugaran atau tempat fitness kini juga sudah mulai mengakomodasi kebutuhan perempuan seperti Priscilla dan Sita yang senang menari dengan menyajikan kelas-kelas aerobik tari seperti salsa, belly dancing atau senam hiphop dalam program senam mereka. Kelas tari ini terbukti diminati karena setiap kali diadakan kelasnya penuh. Bahkan, ketika United Dance Workshop beberapa bulan lalu memberikan sesi kelas gratis untuk tari kontemporer, permintaan membludak. Dalam sekejap, kelas sudah penuh oleh para penikmat tari ini. Banyak yang tak kebagian dan meminta panitia untuk membuat kelas tambahan. Pendeknya, tari sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup kaum urban ibu kota terutama bagi para perempuannya.

Kemunculan kursus tari yang mewabah rupanya tak diikuti pula dengan perkembangan festival tari yang mencukupi. Andara mengatakan medium atau wadah untuk menampung kreativitas dan semangat ini masih sedikit. Alhasil, banyak penari atau koreografer muda yang akhirnya patah arang karena tidak menemukan ajang pentas untuk mengekspresikan kemampuan mereka. Namun tidak semua pasrah atas kondisi ini.

Street dance atau tari yang dilakukan di luar studio lahir sebagai sebuah pemberontakan atas keterbatasan panggung untuk menampilkan karya. Tari ini dapat dilakukan di ruang terbuka manapun yang ada seperti jalanan, pesta dansa, halaman sekolah, klub malam ataupun taman kota. Mereka biasanya penuh improvisasi dan bersifat interaktif dengan lingkungan sosial seperti penonton dan juga penari lainnya. Contoh street dance dapat dilihat di pelataran Gedung Dewan Kesenian Jakarta yang bertambah fungsinya sebagai areal latihan menari para penari street dance ini. Jecko Siompo, penari yang terkenal dengan koreografi tarian hiphop Papua, sering terlihat berlatih dan melatih tari di pelataran gedung DKJ. Baik anak-anak maupun orang dewasa tampak menari break dance atau hiphop bersama Jecko dan pejalan kaki, yang berlalu lalang di areal gedung juga menikmati pemandangan tersebut. Sekat antara penari dan penikmat tari dalam hubungan seperti ini luruh dan dengan demikian menjadi interaktif.

Selain street dance, film tari juga hadir sebagai upaya untuk keluar dari pakem menari, yakni menari di atas sebuah panggung. Menari tak membutuhkan sebuah panggung merujuk perkataan Sardono W Kusuma. Kreativitas tari bagi Sardono selalu berkaitan dengan komunitas dan interaksi dengan sosial masyarakat. Oleh karena itu, seniman yang memproduksi film tari Dongeng dari Dirah ini tak pernah terpaku pada tujuan menari di atas panggung. Film tari lainnya seperti Sang Penari, Rasinah, Drupadi, dan Opera Jawa.

Melihat fenomena ini, meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk membebaskan gerak tubuhnya lewat tari mengingatkan akan keberadaan tari yang sejak dulu tak terpisahkan dari kegiatan sosial masyarakat tradisional di Tanah Air seperti ritual, upacara adat, panen padi, keagamaan, kelahiran, dan kematian. Kini, tari pun kembali diakrabi masyarakat kota dalam konteks kebudayaan urban. Tari, tanpa mesti pentas di atas panggung, sudah menjadi ruh masyarakat kita sehari-hari baik itu tradisional ataupun lingkup urban. Lantas, mengapa Anda tidak menari?

International Dance Festival 2012

International Dance Festival (IDF) adalah salah satu festival tari terbesar di Indonesia, merupakan hasil kegigihan para penari untuk mewujudkan wadah pentas yang nantinya diharapkan akan melahirkan seniman muda baru. Festival ini didirikan pada tahun 1992 oleh para tokoh tari di Indonesia seperti Nungki Kusumastuti, Farida Oetoyo, Maria Darmaningsih, Melina Surjadewi, dan Sal Murgiyanto.

Tahun 2012 ini, festival yang mengambil tema Let’s Move: Outreaching the Possibilities dan diadakan selama sembilan hari ini juga mengadakan kontes tari bagi para penari dan koreografer muda Tanah Air untuk unjuk kemampuan diri. Sebanyak 300 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kompetisi dan tampil di Teater Luwes melalui program Seeds of Wonder.

Melalui kontes tari tersebut, para koreografer muda berbakat dari seluruh Indonesia di antaranya Galih Safitri, Suci Priwasa, dan I Gusti Made Agus Yustika berkesempatan untuk tampil dalam ajang festival tari kaliber internasional dan menunjukkan bakat mereka.

“Tahun ini peserta IDF jauh lebih bervariatif dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Solo, Jogjakarta, Surabaya, Jambi, Bangka Belitung, dan Papua. Selain itu, ada juga kontes tari, film tari, dan penghargaan pencapaian seumur hidup yang baru diselenggarakan mulai tahun ini. Pencapaian seumur hidup diberikan kepada Farida Oetoyo, Julianti Parani, dan Edi Sedyawati atas jasa mereka untuk berpijak pada tradisi dalam memperjuangkan keberadaan tari,” ujar Nungki Kusumastuti saat acara jumpa pers.

Selain kontes tari yang mengangkat seniman muda, IDF 2012 juga mempertunjukkan karya seniman tari antargenerasi dan kerja sama dari para seniman interdisiplin. Inovasi dieksplorasi dalam kolaborasi seniman interdisiplin, tafsir adaptasi (di antaranya sastra-tari) serta maksimalisasi media yang interaktif dengan penonton.

Dalam pembukaan misalnya Eko Suprianto berkolaborasi dengan Martinus Miroto dan Sri Qadariatin membawakan karya tari adaptasi sebuah karya sastra berjudul L’Histoire du Soldat. Para penari bergerak sendiri menafsirkan karya Stravinsky sesuai dengan pengalaman gerak tubuh mereka masing-masing. Miroto yang ditemui usai pementasan mengatakan, tantangan membawakan karya tersebut terutama pada menyesuaikan tempo lagu yang dinamis dengan gerakan tari tradisional Jawa yang halus.

Sementara itu, penari muda Fitri Setyaningsih, mencoba mengadaptasi karya cerpen Bintang Hening yang ditulis oleh Primo Levi ke dalam koreografi tarinya. Inti cerita pendek tersebut, berupa hubungan antara tubuh, bahasa, langit, dan astronomi ditafsirkan oleh Fitri ke dalam sebuah gerak tari tubuh yang mengandung muatan navigasi. Untuk mempelajari tubuh navigatif tersebut, ia melakukan pendalaman terhadap suku Mandar, yang memiliki tradisi astronomi lokal, di Sulawesi Barat selama nyaris satu bulan lamanya. Hasilnya adalah sebuah tubuh tari -astronomi, tubuh ibarat bintang dan bergerak sesuai porosnya masing-masing. Karya ini mendapatkan banyak respons positif karena mengangkat banyak muatan lokal genius (seperti mengibaratkan tubuh sebagai bintang yang bergerak) yang nyaris terlupakan dari suku laut tradisional Indonesia.

Kala Fitri mengangkat tradisi, beberapa koreografer muda lainnya seperti di antaranya Helda Yosiana dan Siti Ajeng Soelaeman mengangkat persoalan yang lebih bersifat kekinian. Helda misalnya mengeksplorasi gerak tari berangkat dari fenomena gila belanja kaum urban ibu kota dalam karyanya yang bertajuk “Miss Jinjing“. Tas jinjing digunakan sebagai metafora kapitalisme yang menjerat perempuan untuk terus berburu dan menghamburkan uang. Sementara Ajeng mengangkat metafora “baju” ke dalam gerak tarinya dalam karya berjudul Baju Kini.

Kekuatan Tradisi

Untuk para penari lainnya, yang memiliki usia jauh lebih senior, tari kontemporer tampak tak terpisahkan dari akar tradisi. Di antaranya adalah Hartati dan Tom Ibnur. Karya Hartati kali ini, yakni Serpihan. Jejak. Tubuh masih menggali akar Minangkabau dalam eksplorasi gerak tarinya. Maka tampak modifikasi Tari Piring serta gerakan Pencak Silat Minang dalam gerakan para penari Hartati.

Sesekali penonton terpaku akan kecepatan, ketajaman dan ketegangan, di lain waktu terbuai akan kelembutannya. Kecelakaan kecil sempat terjadi dalam pertunjukan ini. Piring yang dilemparkan penari bertubrukan dan pecah berantakan di lantai panggung penari. Namun, kejadian itu diatasi dengan kesigapan kru serta spontanitas para penari yang terlihat menguasai panggung. “Akhir-akhir ini latihan memang sering terjadi kecelakaan kecil, padahal biasanya tidak,” kata Hartati usai pementasan.

Image

Sementara Tom Ibnur, mengandalkan akar Melayu dan Minangkabaunya dalam tari berjudul Batas Budi Kaki Langit Biru yang merupakan karya berangkat dari pengalaman personal sang penari. Gerak Zapin dan Pencak Silat masih tampak kuat dalam beberapa adegan kisah tari. Tom Ibnur memang mengangkat karya tari yang memiliki jalinan narasi yang utuh layaknya cerita dari awal hingga akhir.

“Pijakan berkarya bagi saya tak dapat meninggalkan kekuatan tradisi yang secara sadar berkembang jadi sesuatu yang baru,” katanya.

Dalam festival tari yang ke-11 ini, upaya beberapa penari untuk memaksimalkan media juga sudah mulai tampak, seperti yang dilakukan oleh Yola Yulfianti dan Andara F Moeis. Yola mencoba membuat sebuah pertunjukan tari interaktif berjudul Payau. Ia membawa penonton seolah merasakan pengalaman gerak di atas panggung. Misalnya saja, beberapa adegan tari di mana para penarinya berkecipak dengan air, lalu penonton yang duduk di atas jerigen berisi air tiba-tiba disemprot air dari selang-selang yang bergelayutan di atas plafon ruang pertunjukan.

Sedangkan Andara, dalam karyanya berjudul I Body, berupaya memanfaatkan perkembangan teknologi berupa multimedia. Meski demikian, dalam pertunjukan oleh beberapa penari lainnya, penggunaan multimedia masih diterapkan sebatas latar panggung dan belum menjadi bagian dari gerak tari itu sendiri, seperti sudah banyak diterapkan oleh para penari dari Eropa. Salah satunya yang tampil pada acara penutupan IDF, yakni oleh Susanna Leinonen Company asal Finlandia.

Julianti L Parani dalam seminar tari Cross Culture and Urban Sphere mengatakan, persoalan utama dari tari kontemporer Indonesia saat ini adalah banyak karya tari yang terlalu harfiah, superfisial dan terfokus semata-mata pada persoalan olah fisik dan olah tubuh. Akibatnya, esensi atau konteks utama yang ingin disampaikan oleh sang koreografer melalui karya tari sering kali tidak sampai ke benak penonton. Pembentukan karya tari baginya perlu lebih organik dengan diri sendiri dan lingkungan budayanya.

Sementara Sal Murgiyanto, kritikus dan pengajar tari, mengatakan usai pementasan Aku Papua di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, tantangan utama para penari dan koreografer Indonesia saat ini adalah untuk menghasilkan sesuatu karya yang mengandung nilai critical analysis sehingga mampu membuka ruang diskusi dan penafsiran bagi yang menonton.

“Penting untuk sering-sering mengemukakan pertanyaan, perubahan apa yang terjadi pada masyarakat ini untuk menciptakan penafsiran yang baru,” katanya.

Dalam perjalanannya, IDF mencoba menghadirkan program-program baru dalam penyelenggaraannya. Pada awal diselenggarakannya IDF dua puluh tahun lalu, mereka baru sebatas mengadakan festival tari yang diikuti penata tari dari dalam negeri lalu berangsur mengundang penata tari dari berbagai negara untuk ikut berpartisipasi. Tahun ini, IDF mencoba mengenalkan program film tari sebagai upaya memberikan perspektif baru tentang media pertunjukan tari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s